“Bogor Punya Kopi”, dari Pegunungan hingga Go International
BOGOR, investortrust.id – Satrio (28 tahun), entrepreneur asal Bogor, mendirikan “Bogor Punya Kopi” (BPK) pada 2021, yang kini menjadi ikon kopi lokal di Bogor. Ia memulainya dari membeli biji kopi di pegunungan Bogor dan sempat juga mengekspornya ke Eropa.
Bisnis Satrio dimulai dengan menjual biji kopi di tahun 2013. “Saya ambil biji kopinya dari Kelompok Tani Sukamakmur. Dari situ, saya berpikir ternyata Bogor punya biji kopi (beans) yang sudah bagus dan bisa menggaet pasar lebih luas, baik secara nasional maupun internasional,” katanya kepada investortrust.id di Bogor, belum lama ini.
Setelah menjual biji kopi selama beberapa tahun, Satrio berhasil mengumpulkan modal sekitar Rp 15 juta, yang kemudian digunakan untuk membangun kedai kopi sendiri. Pada tahun 2021, dia memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan membangun “Bogor Punya Kopi”, dengan modal sekitar Rp 200 juta-300 juta.
Baca Juga
Laba Rp 30 Juta/Bulan
BPK kini berhasil menarik ratusan pengunjung, dengan omzet sekitar Ro 50 juta per bulan. Sedangkan laba mencapai Rp 30 juta per bulan.
“Untuk volume pengunjung maksimal di 200 orang. Kalau per bulan, untuk labanya bisa di angka Rp 30 juta, kadang juga lebih dari itu,” ujarnya.
Salah satu elemen penting dalam kesuksesan BPK adalah fokus pada kolaborasi dengan UMKM setempat. Dengan menyediakan beragam menu dari makanan Nusantara sampai mancanegara seperti gultik (gulai tikungan), pecel lele, hingga pizza. BPK juga memosisikan dirinya sebagai showcase bagi UMKM lokal dan Kelompok Tani dari Sukamakmur.
Baca Juga
Sejak tahun 2013, BPK pun memasuki ranah digital melalui platform e-commerce dan media sosial seperti Gofood, Grabfood, Shopeefood Instagram, hingga TikTok. Dengan strategi ini, BPK berusaha mencapai pasar yang lebih luas dan memfasilitasi UMKM serta beberapa komunitas.
“FnB ini terkenalnya di ‘sosialisasi antarmanusia’ atau tatap muka (luring). Setelah itu saya berpikir, kenapa tidak bersosialisasi secara online, untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Akhirnya, BPK bisa menjadi fasilitator teman-teman, UMKM, sampai komunitas-komunitas, melalui media sosial ataupun online,” kata Satrio.
Mendukung Karya Seniman
Satrio juga ingin menjadikan BPK sebagai tempat kolaborasi dengan para pegiat seni pertunjukan. Ia juga merupakan salah satu perwakilan "Noir Lab", yang telah menggelar berbagai pertunjukan seni seperti pantomim, stand-up komedi, komunitas mural, hingga , “Kolektif Hysteria” dari Semarang.
“Tidak berhenti di coffee shop dan UMKM saja, kami juga memfasilitasi teman-teman komunitas untuk mengadakan event di sini. Kami bisa menjadi showcase dari para seniman yang ingin menunjukkan karyanya ke masyarakat luas. Kami pernah berkolaborasi dengan 'Kolektif Hysteria' dalam event Pekan Kebudayaan Nasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek),” tuturnya.
Melalui semua upaya ini, owner tersebut memiliki impian besar untuk menjadikan kopi Bogor dikenal baik di kancah nasional maupun internasional. Dengan kualitas biji kopi yang unggul, ia percaya masih banyak potensi yang bisa dikembangkan dari biji kopi lokal ini. Biji kopi BPK pernah diekspor sebanyak 30 ton ke Belanda tahun 2018.
Bertahan Selama Pandemi
Dalam menghadapi tantangan bisnis, Satrio menekankan pentingnya memiliki tekad dan semangat. Meski pernah mengalami penurunan penjualan selama pandemi Covid-19, dia pantang menyerah.
“Kalau kita menjalankan sesuatu secara happy, pasti ke depannya bakalan ‘enjoy’ melakukannya. Intinya adalah ‘Jika kamu mau, maka kamu akan dimampukan’,” ucap Satrio dengan suara beratnya.
Ia yakin, BPK pun bukan hanya sebuah warung kopi, melainkan tempat yang membuka peluang bagi pertumbuhan dan perubahan di komunitasnya. Dengan konsep yang inklusif, lanjut dia, BPK telah membantu menggeser persepsi masyarakat tentang kawasan pabrik yang awalnya tidak memiliki tempat nongkrong, sekarang menjadi tempat yang nyaman dan menarik untuk makan sembari bersantai bersama teman maupun sanak keluarga. (CR-3)

