Peduli dengan IPM, PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP) Tbk Luncurkan NIVA untuk Deteksi Problem Kesehatan
Jakarta, investortrust.id - Penyakit jantung, stroke, hipertensi dan diabetes melitus menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia sementara di sisi lain pemerintahan Prabowo Subianto sedang menggenjot peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dengan program makan bergizi gratis. Untuk menuju Indonesia emas, pemerintah dan masyarakat perlu menyediakan aset sumber daya manusia yang sehat dan cerdas.
Sejalan dengan itu PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk meluncurkan NIVA (Non-Invasive Vascular Analyzer), sebuah alat kesehatan inovatif berbasis photoplethysmography (PPG) dan sensor tekanan darah yang mampu mendeteksi 15 parameter utama terkait kesehatan kardiovaskular—termasuk risiko stroke, penyumbatan pembuluh darah, kekakuan arteri, bahkan komplikasi diabetes melitus.
Data Riskesdas mencatat bahwa 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia mengalami hipertensi, sementara prevalensi diabetes melitus meningkat hingga 10,9% pada 2023. Kondisi ini cukup serius dan harus segera ditangani sebab masalah kesehatan akan terus bertambah, membebani sistem kesehatan nasional, mengancam produktivitas masyarakat sehingga pada ujungnya bisa menghambat tujuan nasional.
Dengan NIVA, dokter atau tenaga medis dapat segera mendapat gambaran tentang kondisi pasien sehingga secara dini mampu mengidentifikasi individu yang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung, stroke atau komplikasi diabetes, sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan sebelum kondisi semakin parah.
Direktur Utama PT SCNP Tbk Djamarwie mengatakan "NIVA bukan sekadar alat medis, ini adalah harapan bagi masyarakat Indonesia untuk hidup lebih sehat dan lebih lama. Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah penyakit kardiovaskular sebelum terlambat."
Inovasi ini tidak hanya sekedar lips service, menggunakan NIVA, PT SCNP Tbk menggelar program skrining kardiovaskular berbasis CSR di Cileungsi, Bogor. Kegiatan ini menyasar 400 peserta dari ragam latar belakang, termasuk pekerja pabrik, aparat TNI, masyarakat umum, serta karyawan perusahaan di sekitar PT SCNP Tbk. Selama 5 (lima) hari berturut-turut (17-21 Februari 2025), para peserta mendapatkan kesempatan untuk pemeriksaan kesehatan kardiovaskular tanpa biaya dengan menggunakan 6 (enam) unit alat NIVA. Program ini selain membantu masyarakat dalam deteksi dini penyakit kardiovaskular, juga meningkatkan literasi dan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat.
Peserta skrining menjalani proses ini selama 5-10 menit dan hasilnya diberikan dalam bentuk soft dan hard copy. Usai proses skrining, PT SCNP Tbk menyediakan dokter yang akan membacakan hasil skrining dan menjelaskan kepada pasien termasuk langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan oleh peserta.
Kegiatan CSR Cardiovascular Screening ini juga didukung oleh Kardiolog dari RS Harapan Kita yang berperan sangat aktif dan kontributif dalam memberikan arahan dan konsultasi kesehatan kardiovaskular bagi para peserta.
"PT SCNP Tbk menyatakan bahwa dengan kegiatan seperti ini, masyarakat kini dapat memperoleh akses terhadap alat dan pemeriksaan kesehatan jantung dan pembuluh darah yang canggih dan terjangkau," ungkap Tumpal Sihombing, Corporate Secretary Division Head PT SCNP Tbk.
Kebangkitan Industri Kesehatan
NIVA adalah bukti nyata bahwa inovasi alat kesehatan dalam negeri telah mampu bersaing dengan alat impor. Dengan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sebesar 42,33%, NIVA menjadi salah satu alat kesehatan karya anak bangsa (hasil karya para peneliti dari Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung) yang siap mengatasi ketergantungan industri domestik terhadap impor. PT SCNP Tbk telah memiliki izin edar NIVA dari Kementerian Kesehatan RI dan sertifikasi ISO 13485. NIVA juga telah lolos uji klinis, uji kelistrikan, dan uji mekanik, yang menjadikannya alat yang aman dan terpercaya untuk digunakan di berbagai fasilitas kesehatan.
Hal ini tentu membanggakan karena pemerintah tengah mendorong industri manufaktur di dalam negeri untuk meningkatkan industrialisasi yang diharapkan mampu menyerap tenaga kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Termasuk didalamnya industri manufaktur alat kesehatan. Tren industri alat kesehatan (alkes) di Indonesia pun menunjukkan perkembangan pesat. Hingga Juni 2024, sebagaimana diungkapkan oleh Plt Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, tercatat sebanyak 1.199 industri manufaktur alat kesehatan telah terdaftar di dalam negeri.
Perkembangan industri alat kesehatan (alkes) ini juga beriringan dengan meningkatnya penyerapan produk alat kesehatan dalam negeri (AKD), yang pada 2024 mencapai 48%, dibandingkan 12% pada 2019. Tren ini menjadi indikasi positif bagi Indonesia dalam mencapai kemandirian di sektor alat kesehatan, di mana PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk turut berpartisipasi, sebuah langkah yang sangat penting di tengah dinamika global yang terus berubah.

