Perangi Tuberkolosis, Pemerintah Targetkan 30 Persen Wilayah Indonesia Jadi 'Desa Siaga TBC’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah berkomitmen menanggulangi penyakit Tuberkulosis (TBC) dengan mendorong pembentukan "Desa Siaga TBC" sebagai ujung tombak pencegahan mandiri.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhamad Qodari, menyatakan saat ini sudah terdapat 6.484 desa dan kelurahan di 117 kabupaten/kota yang berkomitmen menjadi Desa Siaga TBC. Wilayah-wilayah ini tersebar di 23 provinsi dan telah menjalankan protokol penanganan secara mandiri.
"Di Desa Siaga TBC, kegiatannya komprehensif. Mulai dari screening, tracing, pendampingan pengobatan oleh kader, hingga pemberian dukungan makanan bergizi bagi pasien. Ini adalah gerakan yang terorganisir dari bawah," kata Qodari dalam konferensi pers update PHTC di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga
Targetkan Deteksi 1 Juta Kasus Tuberkolosis di Tahun 2025, Inilah Tiga Inovasi Kemenkes Perangi TBC
Meskipun saat ini baru mencakup sekitar 9 persen dari total 70 ribuan desa di Indonesia, Qodari menegaskan pemerintah mematok target besar agar 30 persen desa di seluruh tanah air segera bertransformasi menjadi Desa Siaga TBC.
Sejalan dengan gerakan desa tersebut, pemerintah juga sedang menguji coba model deteksi aktif melalui tracing TBC yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini dilaksanakan di 13 kabupaten/kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan menyasar 5.500 kontak erat pasien sepanjang April hingga Mei 2026.
"Model deteksi aktif di Jawa Barat dan Jawa Tengah ini akan menjadi percontohan sebelum kami perluas ke tingkat nasional secara bertahap. Kami ingin memastikan setiap kasus tidak hanya ditemukan, tapi ditangani secara tuntas hingga sembuh," jelas Qodari.
Selain aspek pengobatan, Qodari juga menyoroti pentingnya peran kader desa dalam memberikan terapi pencegahan TBC bagi warga yang berisiko. Dengan adanya pendampingan langsung di lapangan, diharapkan tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat meningkat drastis untuk mencapai target keberhasilan pengobatan nasional sebesar 90 persen.
Di sisi lain, integrasi antara pemeriksaan kesehatan di sekolah dan program CKG diharapkan mampu memberikan perlindungan sejak dini kepada anak-anak.
Qodari menyebut bahwa intervensi di tingkat komunitas dan sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Baca Juga
Komitmen Lindungi SDM Indonesia, Pemerintah Tegaskan Layanan TBC Gratis!
Menutup paparannya, Qodari memberikan catatan emosional mengenai visi besar di balik program-program teknis tersebut. Menurutnya, setiap angka dan target yang dikejar pemerintah bertujuan untuk menyelamatkan keutuhan keluarga Indonesia dari ancaman penyakit menular.
"Di balik setiap pasien yang diobati, ada keluarga yang terlindungi. Di balik setiap rumah yang diperbaiki dan setiap anak yang di-screening, ada harapan agar mereka bisa tumbuh sehat, pergi sekolah, dan meraih masa depan yang lebih baik," pungkasnya.

