Pengamat Timur Tengah: Iran Berikan Perlawanan yang Memadai, Trump Putus Asa dan Cemas
Jakarta, Investortrust.id - Jatuhnya jet tempur AU AS, F-15E Strike Eagle dan A-10 Thunderbolt (Warthog) oleh pertahanan udara Iran sangat mendongkrak moral Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan memiliki arti yang sangat penting bagi Iran. Ini adalah rekor pertama bagi F-15E Strike Eagle yang ditembak jatuh oleh musuh dalam pertempuran pada tanggal 3 April 2026.
Sebelum insiden ditembak jatuhnya F-15 di wilayah udara Iran, AU AS sangat bangga dengan rekor F-15 yang terkenal dengan lebih dari 100 kemenangan udara-ke-udara tanpa kehilangan satu pun pesawat tempur dan sering disebut sebagai pesawat tempur modern yang paling sukses. Memang ada beberapa F-15 yang jatuh, namun lebih karena malfungsi dan friendly fire seperti tiga unit F-15 yang jatuh di Kuwait pada bulan sebelumnya, Maret 2026 karena ditembak oleh F-18 AU Kuwait.
Di sisi lain, bagi Amerika Serikat dan Donald Trump, tentu ini jadi pukulan hebat dan memalukan. Director the Council for Arab-British Understanding (CAABU) Chris Doyle mengatakan hal ini "penting bagi Iran dalam hal prestise".
Dalam wawancara dengan Al Jazeera seperti ditayangkan oleh kanal Youtube CAABU, Doyle mengatakan bahwa Iran tidak gentar menantang kekuatan super dunia. Tak cuma menantang namun juga memberikan perlawanan yang memadai. Doyle mengatakan jika menilik kembali lagi beberapa pekan lalu saat awal-awal perang, seolah-olah Trump saat itu bisa menang perang dalam sehari.
"Donald Trump berkata kepada sekutunya, 'saya tidak butuh bantuan Anda.' Namun kini Presiden Trump terus terang tampak bingung dan putus asa. Bingung tentang apa yang harus dilakukan, mengapa ia berada dalam keadaan ini, apa yang harus diperintahkan selanjutnya, tetapi juga putus asa karena peringkat persetujuannya (di mata rakyat AS) anjlok. Biaya perang ini meningkat dan ia pasti tahu bahwa ini merusak kepresidenannya. Ini bisa menjadi warisan untuk masa jabatan keduanya. Tampak kacau di dalam Gedung Putih," kata Doyle.
Saat Menteri Pertahanan (Menteri Perang) AS Pete Hegseth memecat tiga jenderal angkatan darat, termasuk Kepala Staf AD Jenderal Randy George adalah momen kepanikan yang sangat kentara di sisi AS. "Kita melihat Pentagon di bawah Hegseth; dia memecat para jenderal. Tampaknya kepemimpinan Amerika tidak bisa mengendalikan apa yang sedang terjadi," ujar Doyle.
Ia menambahkan, biasanya dalam perang di Timur Tengah, ada perluasan misi yang dilakukan AS dibanding tujuan awal. Tanpa alasan jelas, AS kerap memperluas tujuan mereka sehingga mereka bisa mendapatkan hal-hal lain. Yang terjadi di Iran ini dinilai oleh Doyle sebagai sebaliknya.
Menurut Doyle, awalnya Trump punya misi untuk mengganti rezim di Iran. Namun belakangan hal itu berubah-ubah. "Sekarang kita melihat Trump dan yang lainnya mengatakan, 'Oh, tidak, kita tidak akan melakukan perubahan rezim'," katanya.
Doyle melihat apa yang dilakukan AS saat ini seperti strategi tanpa arah. Sedangkan di sisi lain, Iran malah jauh lebih terkendali. "Iran dapat meningkatkan eskalasi sesuka hati dan memperluas konflik ketika dibutuhkan seperti yang kita lihat, misalnya, dengan serangan rudal Houthi baru-baru ini terhadap Israel," ujarnya.
Jika tidak bisa mengatasi insiden seperti jatuhnya pesawat F-15, Doyle menilai kredibilitas AS di panggung global akan menurun.
"Hal itu juga semakin dipertegas oleh hilangnya pesawat-pesawat ini, yang sangat mahal. US$100 juta, F-15 bukanlah pesawat yang bisa dianggap remeh," kata Doyle. Iran menyatakan telah menembak jatuh dua jet tempur milik Amerika Serikat (AS) kemarin, Jumat (3/4). Selain jet tempur F-15, Iran juga menembak jatuh pesawat A-10 Warthog. Jika F-15 milik AS ditembak jatuh di wilayah barat daya Iran, A-10 Warthog ditembak di sekitar Selat Hormuz.
Pilot A-10 disebut selamat. Sementara kabar terakhir mengonfirmasi kedua awak F-15 telah diselamatkan dengan biaya yang sangat mahal; setidaknya satu pesawat HC-130J Combat King II dan satu unit helikopter MH-6 Little Bird dihancurkan oleh pasukan AS sendiri di wilayah Iran setelah diduga terkena tembakan dari pasukan Iran. Dua helikopter penyelamat HH-60 juga rusak meski bisa kembali ke pangkalan. Presiden AS Donald Trump sudah mengakui jatuhnya pesawat AS oleh Iran. Ia mengatakan insiden tersebut tidak akan memengaruhi proses negosiasi dengan Iran.
Video: Courtesy of Caabu Youtube channel

