Bagikan

Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Dow Kembali Cetak Rekor Baru

Poin Penting

S&P 500 dan Nasdaq menguat didorong reli saham teknologi, sementara Dow mencetak rekor baru.
Nvidia, Broadcom, dan Oracle menjadi penopang utama sektor teknologi dan AI.
Investor menanti laporan ketenagakerjaan AS dan data inflasi yang tertunda akibat shutdown.
Rotasi keluar-masuk saham teknologi berpotensi kembali terjadi tergantung hasil laporan keuangan.

NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat pada Senin waktu AS atau Selasa (10/2/2026) WIB. Indeks S&P 500 melonjak, didorong oleh saham-saham teknologi, sementara Dow Jones Industrial Average mencapai level tertinggi baru ketika investor menantikan data ekonomi penting dan gelombang laporan keuangan berikutnya.

Indeks acuan S&P 500 mencatat kenaikan untuk hari kedua berturut-turut, naik 0,47% dan ditutup di 6.964,82. Dow Jones naik tipis 20,20 poin atau 0,04% dan berakhir di 50.135,87. Dow Industrials mencetak rekor tertinggi intraday dan rekor penutupan baru sepanjang masa. Nasdaq Composite melonjak 0,9% dan ditutup di 23.238,67.

Baca Juga

Wall Street Meroket Didorong Rebound Saham Teknologi, Dow Terbang di Atas 1.200 Poin dan Tembus 50.000

Nvidia dan Broadcom kembali menjadi penopang utama pada Senin, melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya dengan kenaikan masing-masing 2,5% dan 3,3%. Saham perusahaan kecerdasan buatan lainnya, Oracle, melonjak 9,6% setelah mendapat peningkatan rekomendasi menjadi “buy” dari “neutral” oleh D.A. Davidson, didorong optimisme terhadap OpenAI dan para penerima manfaatnya.

Perkembangan ini terjadi setelah indeks-indeks utama rebound pada Jumat, dengan Dow melampaui level 50.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah, menyusul kerugian besar di awal pekan. Aksi jual tersebut dipicu oleh pelemahan saham teknologi, terutama sektor perangkat lunak. Bitcoin juga sempat anjlok sebelum pulih sebagian ketika investor mengambil sikap risk-off.

Investor boleh jadi senang dengan rebound yang terjadi. “Tapi, apakah ini punya daya tahan? Atau ini hanya jebakan yang membuat saya masuk lalu akhirnya terpukul, atau justru ini peluang beli berikutnya?’” kata Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA Research, seperti dikutip CNBC.

Stovall menyebut peralihan dari premi 17% menjadi diskon 8%, merujuk pada rasio price-to-earnings ke depan sektor teknologi dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. “Orang bisa berkata, ‘Wah, itu cukup menarik, jadi mungkin ini bukan saatnya meninggalkan teknologi dulu,’” ujarnya.

Meski demikian, rotasi pasar keluar dari saham teknologi berpotensi kembali terjadi pekan ini jika rilis laporan keuangan mendukung. Coca-Cola dan Ford Motor, misalnya, dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan pada Selasa.

Investor juga akan mencermati rilis laporan ketenagakerjaan Januari dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang tertunda dan dijadwalkan keluar pada Rabu. Laporan tersebut semula dirilis Jumat lalu namun ditunda akibat penutupan sebagian pemerintah AS. Hal ini terjadi setelah ADP pekan lalu melaporkan bahwa pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta hanya 22.000 pada Januari, jauh di bawah ekspektasi. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan laporan ketenagakerjaan utama akan menunjukkan kenaikan 55.000 pada Januari.

Baca Juga

Pengangguran AS Melonjak ke Level Tertinggi dalam 4 Tahun, Payroll Naik Tipis

Sementara itu, data indeks harga konsumen (CPI) Januari—yang juga tertunda akibat penutupan pemerintah—dijadwalkan rilis pada Jumat, dengan konsensus memperkirakan inflasi tahunan sebesar 2,5%.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024