Rusia Tuduh Ukraina Targetkan Rumah Putin, Upaya Damai Terancam Berantakan
Poin Penting
|
MOSKOW, investortrust.id - Rusia berjanji akan membalas Ukraina setelah mengeklaim hampir 100 drone menargetkan salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin. Hal ini berpotensi mengganggu upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
“Tindakan ceroboh semacam itu tidak akan dibiarkan tanpa jawaban. Target untuk serangan balasan serta waktu pelaksanaannya oleh angkatan bersenjata Rusia telah ditentukan,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Senin (29/12/2025), seperti dikutip CNBC News. Namun, ia tak memberikan rincian mengenai dugaan serangan di wilayah Novgorod.
Baca Juga
Drone dan Rudal Rusia Hujani Ukraina Jelang Pertemuan Trump–Zelenskyy
Tak lama kemudian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut klaim tersebut sebagai kebohongan yang bertujuan menggagalkan perundingan. Ia menambahkan bahwa Rusia kemungkinan akan menggunakan tuduhan itu sebagai dalih untuk melancarkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintah di Kyiv.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia “baru saja mendengar” tentang dugaan serangan tersebut. “Itu akan sangat buruk. Itu tidak akan baik,” ujarnya menjelang pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Optimisme Trump
Pada Minggu, Trump menunjukkan optimisme yang jarang terlihat mengenai proses perdamaian ketika berdiri di samping Zelenskyy di properti Mar-a-Lago miliknya di Florida. Kremlin pada Senin sepakat dengan penilaian Trump bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang telah memasuki tahap akhir, meskipun tetap mempertahankan tuntutan teritorial yang keras.
Setelah hampir tiga jam pembicaraan tertutup pada Minggu, Trump dan Zelenskyy keluar dengan mengatakan bahwa mereka “sangat dekat” dengan kesepakatan dan telah mencapai “90%” dari jalan menuju perdamaian. Namun, “satu atau dua isu yang sangat pelik” itulah yang akan menentukan apakah kesepakatan dapat dicapai antara Kyiv dan Moskow, kata Trump.
Baca Juga
Usai Bertemu Zelenskyy, Trump Sebut Perdamaian Rusia-Ukraina ‘Kian Dekat’
Menjawab pertanyaan wartawan melalui obrolan WhatsApp pada Senin, Zelenskyy menguraikan satu bidang utama yang tampaknya telah mengalami kemajuan.
Pemimpin Ukraina itu mengatakan Trump kini menawarkan jaminan keamanan yang mengikat secara hukum bagi Kyiv selama 15 tahun, meskipun Ukraina menginginkan jaminan tersebut berlaku hingga setengah abad.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa kami telah berperang hampir 15 tahun, dan karena itu kami sangat ingin jaminan tersebut lebih panjang,” kata Zelenskyy, merujuk pada aneksasi Semenanjung Krimea oleh Rusia pada 2014 serta dukungan Moskow terhadap separatis pro-Rusia di Ukraina timur sebelum invasi skala penuh pada 2022.
Trump, kata dia, mengindikasikan akan mempertimbangkan jaminan yang lebih panjang, termasuk mekanisme pemantauan kesepakatan damai serta “kehadiran” mitra internasional.
Namun, meskipun Ukraina tampak positif terhadap tawaran jaminan keamanan ini, hanya sedikit rincian yang dipublikasikan dan masih belum jelas bagaimana Rusia akan memandang proposal tersebut.
Zelenskyy juga menegaskan bahwa nasib wilayah-wilayah kunci masih belum terselesaikan.
Kontrol atas wilayah Donbas di timur dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia tetap menjadi titik krusial dalam rencana perdamaian 20 poin versi Trump, yang merupakan modifikasi dari proposal awal AS setelah berminggu-minggu diplomasi intensif.
Ukraina masih menguasai sebagian wilayah Donbas dan bersumpah tidak akan menyerahkannya, sementara Rusia menginginkan seluruh wilayah tersebut — sebuah tuntutan besar yang belum menunjukkan tanda-tanda akan dikompromikan oleh Putin. PLTN Zaporizhzhia, yang terbesar di Eropa, saat ini diduduki Rusia, namun kedua pihak sama-sama menginginkan kendali atas fasilitas tersebut dalam kesepakatan.
Para perunding Amerika sebelumnya sempat mengemukakan gagasan pembentukan “zona ekonomi bebas” di Donbas, namun Zelenskyy mengatakan pada Senin bahwa hingga kini belum ada “konsep rinci” mengenai bagaimana hal itu akan diterapkan, dan masyarakat Ukraina perlu dilibatkan dalam setiap kesepakatan semacam itu.
Ia bahkan menyatakan bahwa seluruh rencana perdamaian 20 poin seharusnya diajukan melalui referendum di Ukraina, yang menurutnya memerlukan gencatan senjata setidaknya selama 60 hari.
Moskow telah menolak menyetujui gencatan senjata sementara apa pun, dengan menegaskan hanya tertarik pada perjanjian damai permanen — sebuah posisi yang dikatakan Trump pada Minggu dapat ia pahami.
Sebelum bertemu Zelenskyy, Trump berbicara melalui telepon dengan Putin selama lebih dari dua jam.
Trump mengatakan ia yakin presiden Rusia tersebut serius menginginkan perdamaian, namun Zelenskyy tetap skeptis. “Penting agar tindakan dan kata-kata pemimpin Rusia itu sejalan,” katanya pada Senin.
Di sisi lain, Kremlin sepakat dengan penilaian Trump bahwa perdamaian di Ukraina semakin dekat.
Namun juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kembali menegaskan syarat Moskow agar Ukraina sepenuhnya menarik diri dari Donbas. Putin kemudian menerima laporan medan perang dari para jenderalnya dalam pertemuan yang disiarkan televisi dan menyatakan bahwa pasukannya berada pada posisi untuk “membebaskan” seluruh Donbas.

