Harga Emas Menguat Tipis Setelah Data Lapangan Kerja AS Memberi Harapan
CHICAGO, investortrust.id- Harga emas divisi Comex New York Exchange (CNYE), kembali menguat pada perdagangan Jumat waktu AS (Sabtu pagi WIB). Penguatan terjadi setelah laju pertumbuhan pengangguran melambat. Fakta ini memberi indikasi bank sentral AS, The Federal Reserve, punya ruang untuk tidak segera mengerek suku bunga.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di CNYE terkerek 1,20 dolar AS atau 0,06% dan ditutup pada posisi 1.967,10 dolar AS per ounce. Harga tertinggi selama sesi perdagangan pada posisi 1.980,20 dolar AS, sedangkan harga terendah pada posisi 1.960,70 dolar AS per ounce.
Baca Juga
Wall Street Menggeliat Awal September, Indeks Dow Jones Menguat 0,33%
Kenaikan ini mengakiri penurunan hari sebelumnya. Seperti diketahui, emas berjangka sempat terkoreksi hingga 7,10 dolar AS atau 0,36% menjadi 1.965,90 dolar pada perdagangan Kamis (31/8/2023). Dengan demikian, selama sepekan kontrak berjangka emas menguat 1,40%. Meski demikian, data selama Agutus menunjukkan penurunan 2,00%.
Craig Erlam, analis pasar emas dari OANDA mengatakan, harga emas menguat kemudian turun dari level tertingginya karena data non-farm payroll atau pendapatan sektor non-pertanian selama Agustus, memberi indikasi bahwa suku bunga berpeluang kembali naik. Fakta ini, menurut Craig Erlam dinilai positif oleh pasar.
Kementerian Tenaga Kerja AS melaporkan, Jumat (1/9/2023) terjadi penyerapan tenaga kerja hingga 187.000 selama Agustus. Meski penyerapan meningkat, tingkat pengangguran pun meningkat di luar perkiraan hingga 3,8%. Sementara tingkat pengangguran bulan Juli sekitar 3,5%. Hal ini mengindikasikan dampak dari suku bunga yang tinggi dan pendinginan bertahap perekonomian AS pasca pandemi.
Baca Juga
Dear Investor: Jangan Terusik September Effect, Pantau Saham Blue Chip Murah untuk Bulan Ini
“Meskipun ada beberapa kemajuan,” inflasi masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2,0 persen,” ujar kata Presiden Federal Reserve Cleveland, Loretta Mester pada konferensi penelitian Bank Sentral Eropa, Jumat (1/9/2023) seperti dilansir Antara.
Mempertimbangkan data tenaga kerja, Mester melihat beberapa kemajuan karena terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Meski demikian, ia melihat pasar kerja masih cukup kuat. Pertumbuhan lapangan kerja melambat dan lapangan kerja menurun, namun tingkat pengangguran yang 3,8% dinilai masih relative rendah.
Sementara itu, The Fed punya tiga kesempatan lagi untuk menaikkan suku bungatahun ini. Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sabagai pembuat kebijakadijadwalkan akan menggelar rapat 20 September, 1 November, dan 13 Desember 2023.
Baca Juga
Mempertimbangkan lapangan kerja yang masih tumbuh lebih besar dari ketersediaan perkiraan setiap bulan, The Fed bisa saja mempertimbangkan satu atau dua kali kenaikan Fed fund rate tahun ini.

