India Turunkan Suku Bunga ke 5,25% di Tengah Pelemahan Sejumlah Indikator Ekonomi
Poin Penting
- RBI memangkas suku bunga 25 bps menjadi 5,25% dengan alasan melemahnya sejumlah indikator ekonomi.
- Rupee melemah hingga melampaui 90 per dolar, mendorong intervensi likuiditas melalui pembelian obligasi dan swap valuta asing.
- Data manufaktur, aktivitas industri, dan ekspor menunjukkan tanda-tanda perlambatan meski pertumbuhan PDB tetap kuat.
- Tarif AS 50% dan belum selesainya perjanjian dagang menambah tekanan eksternal terhadap prospek ekonomi India.
NEW DELHI, investortrust.id - Bank sentral India pada Jumat (5/12/2025) menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%.
Baca Juga
Ekonomi India Masih Melaju Kencang, Tumbuh 7,8% pada Kuartal II-2025
Penurunan itu sesuai dengan proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters.
“Komite kebijakan moneter mencapai keputusan penurunan suku bunga secara bulat, dengan alasan adanya “kelemahan di beberapa indikator ekonomi utama,” meskipun inflasi utama telah turun signifikan dan diperkirakan akan direvisi lebih rendah pada kuartal pertama 2025,” urai Gubernur RBI Sanjay Malhotra, seperti dikutip CNBC.
Ekonomi India tumbuh 8,2% pada periode Juli–September, melampaui ekspektasi, sementara inflasi tetap terkendali. “Meski menghadapi lingkungan eksternal yang tidak menguntungkan dan penuh tantangan, ekonomi India menunjukkan ketahanan yang luar biasa,” ujar Malhotra.
Ia menekankan tanda-tanda ‘pertumbuhan tinggi’. “Ruang gerak yang diberikan oleh prospek inflasi memungkinkan kami tetap mendukung pertumbuhan. Kami akan terus memenuhi kebutuhan produktif perekonomian secara proaktif,” bebernya.
Pelemahan Rupee
RBI juga mengumumkan akan membeli obligasi pemerintah senilai 1 triliun rupee (US$11 miliar) di pasar terbuka dan melakukan swap beli-jual US$5 miliar jangka waktu tiga tahun pada bulan ini.
Langkah tersebut, kata Malhotra, akan “menjamin kecukupan likuiditas yang berkelanjutan dalam sistem dan memfasilitasi transmisi kebijakan moneter.”
RBI secara rutin melakukan swap dolar–rupee untuk menyeimbangkan dampak likuiditas dari intervensi pasar spot terhadap mata uang rupee.
Rupee India melemah terhadap dolar dalam beberapa hari terakhir, sempat menembus level penting 90 rupee per dolar pada Rabu sebelum berbalik menguat sedikit.
Cadangan devisa India per 28 November berada di US$686,2 miliar, setara lebih dari 11 bulan kebutuhan impor, kata RBI.
Pemangkasan suku bunga hari ini dianggap “tepat waktu” mengingat ekonomi masih solid, namun prospeknya tetap tidak pasti, kata Anubhuti Sahay, Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered Bank. Ia menambahkan, langkah ini makin signifikan mengingat pelemahan rupee.
Dengan volatilitas tinggi pada nilai tukar, jika RBI tidak memangkas suku bunga, “kemungkinan terjadinya aksi jual di pasar obligasi tidak bisa dihindari,” ujarnya—situasi yang tidak diinginkan dari sudut pandang RBI.
Data Lemah, Pertumbuhan Kuat
Dalam penjelasan keputusannya untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, Malhotra sebelumnya memperingatkan bahwa meski inflasi turun signifikan pada kuartal pertama, pertumbuhan bisa melambat pada paruh kedua tahun fiskal akibat ketidakpastian perdagangan global.
Kekhawatiran perlambatan pertumbuhan kini mulai terlihat pada indikator utama. Aktivitas industri pada Oktober turun ke level terendah 14 bulan, sementara indeks manufaktur PMI HSBC jatuh ke level terendah 9 bulan pada November—keduanya mengindikasikan pelemahan ekonomi.
Ekspor India ke AS, salah satu mitra dagang utama, turun 8,5% pada Oktober dari setahun sebelumnya menjadi US$6,3 miliar. Total ekspor juga turun 11,8% menjadi US$34,38 miliar.
“Ketidakpastian eksternal terus menimbulkan risiko penurunan terhadap prospek pertumbuhan, sementara penyelesaian cepat berbagai negosiasi dagang dan investasi yang sedang berlangsung dapat menjadi penopang,” ujar gubernur.
Washington sejak Agustus memberlakukan tarif 50% atas barang India. Sementara perundingan dagang masih berlangsung, kesepakatan final belum tercapai.
Baca Juga
Trump Tekan India, Kenakan Tarif Tertinggi 50% Gara-gara Minyak Rusia
Untuk mengurangi dampak tarif tersebut, New Delhi memangkas tarif pajak barang dan jasa (GST) pada September menjelang musim festival guna mendorong permintaan domestik.
Penerimaan GST (good and services tax) meningkat tajam pada Oktober menjadi 1,95 triliun rupee (US$21,7 miliar), naik 4,6% dari tahun sebelumnya. Namun pada November, pertumbuhannya melambat dengan total penerimaan 1,7 triliun rupee, hanya naik 0,7%.
Meski RBI sudah memangkas suku bunga awal tahun ini, belum ada “lonjakan signifikan pada penyaluran kredit bank,” kata Sanjay Mathur, Kepala Ekonom ANZ untuk India dan Asia Tenggara. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian perjanjian dagang AS–India dan dampak tarif masih jelas terlihat pada perekonomian.

