Yield USTreasury 10-Tahun Anjlok Jelang Keputusan Bunga Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun pada hari Selasa (29/7/2025), satu hari menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve dan konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell. Imbal hasil Treasury 10 tahun anjlok 9,6 basis poin ke 4,324%. Yield obligasi bertenor 2 tahun melemah 4,7 basis poin ke 3,875%, sementara obligasi 30 tahun turun hampir 11 basis poin menjadi 4,859%.
Menurut alat CME FedWatch yang didasarkan pada perdagangan kontrak berjangka 30 hari, pelaku pasar memperkirakan kemungkinan perubahan suku bunga acuan The Fed mendekati nol. Fed funds telah berada di kisaran 4,25% hingga 4,5% sejak Desember lalu.
Baca Juga
Powell Akui Pemangkasan Bunga Fed Tertahan Gara-Gara Tarif Trump
“Peluangnya adalah bahwa ini akan menjadi peristiwa non-event,” kata Ed Yardeni, presiden Yardeni Research.
“Satu-satunya hal menarik adalah apakah FOMC akan tetap pada sikap saat ini: ‘Kami tidak terburu-buru menurunkan suku bunga.’ Atau, apakah akan muncul sinyal perubahan arah kebijakan ke arah yang lebih dovish?”
Pernyataan tersebut kemungkinan akan disampaikan Powell dalam konferensi pers yang dijadwalkan dimulai pukul 14:30 waktu AS bagian Timur pada hari Rabu, setelah pertemuan The Fed selesai.
Kepala ekonom Julius Baer, David Kohl, memperkirakan The Fed baru akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan September — komite yang menetapkan kebijakan suku bunga.
“Jika semakin jelas bahwa lonjakan inflasi akibat tarif bersifat sementara, The Fed akan dapat mengadopsi sikap kebijakan netral pada tahun 2026, dengan tambahan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin,” ujar Kohl, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Investor juga akan mencermati data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk bulan Juni yang dijadwalkan rilis pada Kamis. Indeks ini merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan diperkirakan menunjukkan kenaikan inflasi tahunan menjadi 2,5% pada Juni dari 2,3% pada Mei, menurut proyeksi FactSet. Laporan ini juga mungkin mencerminkan dampak tarif terhadap inflasi.

