Zelenskiy Bertemu Putra Mahkota Arab Saudi Jelang Pembicaraan Krusial AS-Ukraina
KYIV, investortrust.id - Presiden Volodymyr Zelenskyy berangkat ke Arab Saudi untuk bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menjelang pembicaraan antara pejabat Ukraina dan AS mengenai upaya mengakhiri perang dengan Rusia di saat yang semakin genting bagi Kyiv.
Baca Juga
Buntut Perselisihan Trump-Zelenskyy, AS Hentikan Sementara Bantuan Militer ke Ukraina
Amerika Serikat, yang dulunya merupakan sekutu utama Ukraina, kini telah mengubah kebijakan perangnya dengan menyatakan keinginan untuk segera mengakhiri pertempuran, berunding langsung dengan Moskow, sekaligus menghentikan bantuan militer dan berbagi intelijen untuk Kyiv.
Zelenskyy, seperti dilansir Reuters, akan bertemu dengan Mohammed bin Salman, yang telah memainkan berbagai peran mediasi sejak invasi Rusia pada 2022, termasuk menengahi pertukaran tahanan dan menjadi tuan rumah perundingan antara Rusia dan Amerika Serikat bulan lalu.
Pembicaraan pada Selasa antara pejabat AS dan Ukraina, yang merupakan pertemuan resmi pertama sejak pertemuan Oval Office yang berujung buruk antara Zelenskiy dan Presiden AS Donald Trump, diharapkan akan membahas kesepakatan bilateral terkait mineral serta cara mengakhiri perang.
Baca Juga
AS-Ukraina Gagal Capai Kesepakatan, Trump Sebut Zelenskyy Tak Menghormati Gedung Putih
Di bawah tekanan besar dari Trump, yang ingin perang ini berakhir secepat mungkin, Zelenskiy berusaha menunjukkan bahwa mereka memiliki pandangan yang sama, meskipun ia gagal mendapatkan jaminan keamanan dari AS yang dianggap Kyiv sebagai syarat penting dalam perjanjian damai apa pun.
Zelenskiy mengatakan ia tidak akan menghadiri perundingan dengan pejabat AS dan bahwa delegasi Ukraina akan terdiri dari kepala stafnya, menteri luar negeri dan pertahanan, serta seorang pejabat militer senior dalam administrasi kepresidenan.
"Dari pihak kami, kami berkomitmen penuh untuk dialog yang konstruktif, dan kami berharap dapat mendiskusikan serta menyepakati keputusan dan langkah-langkah yang diperlukan," kata Zelenskiy dalam sebuah unggahan di X.
"Proposal realistis sudah ada di meja perundingan. Yang terpenting adalah bergerak cepat dan efektif."
Kerangka Perjanjian
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, yang telah mengatur pembicaraan ini, mengatakan bahwa tujuan pertemuan adalah untuk "menyusun kerangka kerja bagi perjanjian damai dan gencatan senjata awal."
Zelenskiy telah menyerukan gencatan senjata di udara dan laut, serta pertukaran tahanan, yang menurutnya dapat menjadi ujian terhadap komitmen Rusia dalam mengakhiri perang.
Moskow telah menolak gagasan gencatan senjata sementara, yang juga diusulkan oleh Inggris dan Prancis, dengan mengatakan bahwa itu hanyalah upaya untuk memberi Kyiv waktu lebih lama dan mencegah kehancuran militernya.
Pemimpin Ukraina itu juga mengatakan bahwa Kyiv siap menandatangani perjanjian mineral dengan AS yang akan membentuk dana bersama dari penjualan mineral Ukraina, yang menurut Washington sangat penting untuk memastikan dukungan AS yang berkelanjutan.
Baca Juga
Trump-Zelenskyy Bersitegang, Posisi Ukraina Makin Rentan dalam Perang dengan Rusia
Dengan dukungan AS yang kini dipertanyakan, Zelenskiy terus mendesak sekutu-sekutunya di Eropa untuk meningkatkan dukungan mereka, terutama ketika posisi pasukan Ukraina di medan perang semakin melemah dan mereka menghadapi tekanan besar untuk mundur dari wilayah Kursk di Rusia.
Pasukan Ukraina yang menyerbu wilayah Kursk musim panas lalu kini hampir terkepung oleh pasukan Rusia, berdasarkan peta sumber terbuka.
Rusia menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi pada 2014, dan pasukannya terus menekan di wilayah timur Donetsk, sambil meningkatkan serangan drone dan rudal ke kota-kota serta pemukiman yang jauh dari garis depan.
Menurut Zelenskyy, Rusia telah meluncurkan 1.200 bom berpemandu udara, hampir 870 drone serang, dan lebih dari 80 rudal ke Ukraina hanya dalam satu minggu terakhir.

