Dibayangi Kekhawatiran Tarif, Pasar Asia-Pasifik Bergerak ‘Mixed’
JAKARTA, investortrust.id - Pasar Asia-Pasifik bervariasi pada Senin (10/02/2025), mengikuti pergerakan negatif pada indeks saham berjangka AS menjelang rilis data ekonomi utama. Sementara itu, meningkatnya ketegangan perdagangan melemahkan sentimen investor.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu bahwa ia berencana mengumumkan tarif sebesar 25% untuk semua impor baja dan aluminium pada hari Senin, menurut laporan Reuters.
Baca Juga
Eskalasi Baru Perdagangan AS, Trump Bakal Kenakan Tarif 25% untuk Baja dan Aluminium
Dikutip dari CNBC, indeks acuan Nikkei 225 Jepang memulai hari dengan penurunan, tetapi kemudian berbalik arah dan naik 0,13%, sedangkan indeks Topix yang lebih luas turun 0,12%.
Negara ini melaporkan pertumbuhan kredit sebesar 3% secara tahunan pada Januari, sedikit turun dari 3,1% pada Desember.
Indeks di Korea Selatan juga dibuka lebih rendah, dengan Kospi turun 0,17%, sementara indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil justru naik 0,36%.
Indeks S&P/ASX 200 Australia diperdagangkan turun 0,31%.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng memulai hari dengan kenaikan 0,89%, sementara indeks CSI 300 di
daratan China dibuka datar.
Inflasi China
Inflasi konsumen di China naik untuk pertama kalinya sejak Agustus 2024, didorong oleh peningkatan pengeluaran menjelang Tahun Baru Imlek, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional pada hari Minggu. Indeks harga konsumen (CPI) naik 0,7% secara bulanan dan 0,5% secara tahunan pada Januari, melebihi perkiraan Reuters sebesar 0,4%.
Baca Juga
Terdorong Imlek, Inflasi Konsumen China Naik ke Level Tertinggi dalam 5 Bulan
Indeks harga produsen (PPI), yang mencerminkan harga grosir barang, turun 2,3% dibandingkan tahun sebelumnya pada Januari, lebih besar dari perkiraan penurunan 2,1% oleh Reuters.
Investor juga akan memperhatikan pergerakan saham India setelah indeksnya jatuh pada hari Jumat, menyusul keputusan Reserve Bank of India yang secara tak terduga memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Di Singapura, indeks acuan Straits Times Index (STI) mencapai level tertinggi sepanjang masa di 3.910,12 poin, menurut data LSEG. Kenaikan ini dipimpin oleh saham operator telekomunikasi Singapore Telecommunications serta bank-bank lokal seperti DBS Group Holdings, Oversea-Chinese Banking Corporation, dan United Overseas Bank. Indeks STI terakhir tercatat naik 0,83%.
Tiga indeks utama di AS jatuh pada hari Jumat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana tarif timbal balik terhadap mitra dagang. Pasar semakin tertekan setelah rilis data sentimen konsumen dan pekerjaan yang menunjukkan peningkatan inflasi, sehingga mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun melonjak di atas 4,5% pada puncak sesi.
Baca Juga
Wall Sreet Bergolak Dipicu Sentimen Tarif dan Inflasi, Dow Ambles Lebih dari 400 Poin
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 444,23 poin, atau 0,99%, menjadi 44.303,40. Indeks S&P 500 turun 0,95% menjadi 6.025,99, dan indeks Nasdaq Composite merosot 1,36% menjadi 19.523,40.
Kerugian pada hari Jumat membuat ketiga indeks utama AS berada di zona negatif sepanjang pekan lalu.

