Dampak Perang dan Inflasi Tinggi, Rusia Katrol Suku Bunga
JAKARTA, Investortrust.id – Invasi Rusia ke Ukraina yang diikuti dengan sanksi dari negara Barat, mau tak mau, berimbas pada ekonomi Negeri Beruang itu.
Baca Juga
Meski Perang, Warga Ukraina Diizinkan Masuk Rusia Tanpa Visa
Anggaran untuk pertahanan membengkak. Inflasi tinggi juga tak terelakkan. Itulah sebabnya, Bank Sentral harus berupaya keras untuk mengendalikan moneter yang terjadi. Salah satunya melalui kebijakan suku bunga.
Pada Jumat (27/10/2023), Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga utamanya sebesar 200 basis poin menjadi 15%
Tingkat suku bunga itu lebih tinggi dari perkiraan.
Kenaikan dilakukan sebagai respons terhadap lemahnya rubel dan tekanan inflasi yang membandel.
Bank sentral telah menaikkan suku bunga sebesar 750 basis poin sejak bulan Juli, termasuk kenaikan darurat yang tidak terjadwal pada bulan Agustus ketika nilai tukar rubel jatuh melewati angka 100 terhadap dolar dan Kremlin menyerukan kebijakan moneter yang lebih ketat.
“Tekanan inflasi saat ini telah meningkat secara signifikan ke tingkat di atas ekspektasi Bank Rusia,” kata bank tersebut dalam sebuah pernyataan Jumat, seperti dikutip CNBC internasional. Tekanan inflasi merujuk pada permintaan domestik yang melebihi penyediaan barang dan jasa, dan pertumbuhan pinjaman yang tinggi.
Bank Dunia juga menaruh perhatian pada peningkatan belanja pemerintah seiring Rusia mengalirkan sumber daya fiskal ke sektor pertahanan dan meningkatkan produksi pasokan militer untuk melaksanakan apa yang mereka sebut sebagai “operasi militer khusus” di Ukraina.
“Parameter kebijakan fiskal jangka menengah yang diperbarui mengasumsikan penurunan stimulus fiskal yang lebih lambat dari perkiraan di tahun-tahun mendatang,” kata bank tersebut. Pemerintah juga mengakui untuk pertama kalinya bahwa mereka mungkin tidak berhasil mengembalikan inflasi ke target 4% tahun depan, dan memperkirakan inflasi akhir tahun pada tahun 2024 sebesar 4-4,5%.
Mayoritas analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan lebih kecil sebesar 14%. Rubel melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari enam minggu terhadap dolar setelah keputusan tersebut.
Pengetatan
Siklus pengetatan bank sentral dimulai pada musim panas ini ketika tekanan inflasi dari pasar tenaga kerja yang ketat, permintaan konsumen yang kuat, dan defisit anggaran pemerintah diperparah dengan jatuhnya nilai tukar rubel.
Rusia secara bertahap membatalkan kenaikan darurat menjadi 20% yang dilakukan pada Februari 2022 setelah Moskow mengirim pasukannya ke Ukraina, yang memicu sanksi besar-besaran dari Barat.
Mereka memangkas suku bunga hingga 7,5% pada awal tahun ini. Bank sentral mengatakan inflasi akan berkisar antara 7,0-7,5% pada tahun 2023. Sebelumnya bank sentral memperkirakan inflasi akhir tahun sebesar 6,0-7,0%. Inflasi tahunan mencapai 6,38% pada 16 Oktober.
Bank tersebut mempertahankan sikap hawkishnya, dengan menyatakan bahwa kondisi moneter yang ketat akan dipertahankan untuk jangka waktu lama, namun menarik pernyataan bahwa bank tersebut akan mempelajari perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.
“Sepertinya kenaikan suku bunga hari ini mempercepat siklus pengetatan sebagai respons terhadap pengumuman fiskal awal bulan ini,” kata Liam Peach, ekonom senior pasar negara berkembang di Capital Economics. Intensitas perang Rusia-Ukraina sepertinya menurun sementara ini. Ketegangan lebih besar sekarang terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik bersenjata Israel-Hamas.
Baca Juga
Konflik Israel-Hamas Memanas, Harga Minyak Melonjak Sekitar 2%

