Minyak Mentah AS Melaju Lebih dari 1% Capai $81 per Barel
NEW YORK, investortrust.id - Minyak mentah AS terkerek lebih dari 1% pada hari Selasa (18/06/2024), hingga mencapai $81 per barel. Minyak membukukan kenaikan hari kedua seiring berlanjutnya reli minggu ini.
Baca Juga
West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik lebih dari 2% pada hari Senin, melanjutkan kenaikan minggu lalu meskipun data ekonomi dari Tiongkok, importir minyak mentah terbesar di dunia, menunjukkan tanda yang beragam.
Berikut harga energi hari Selasa:
• Kontrak West Texas Intermediate bulan Juli: $81,57 per barel, naik $1,24, atau 1,54%. Sampai saat ini (ytd/year to date), minyak mentah AS telah naik 13,8%.
• Kontrak Brent bulan Agustus: $85,33 per barel, naik $1,08, atau 1,28%. Minyak acuan global mengust 10,7% ytd.
• Kontrak RBOB Gasoline bulan Juli: $2,48 per galon, naik 1,48%. Harga bensin naik 18% ytd.
• Kontrak Gas Alam bulan Juli: $2,90 per seribu kaki kubik, naik 4,3%. Harga gas naik 15,7% ytd.
Minyak menguat karena penjualan ritel untuk bulan Mei di Tiongkok melampaui perkiraan ekonom, sementara output industri dan investasi aset tetap mengecewakan. Dalam sebuah catatan kepada kliennya, Bob Yawger, direktur eksekutif energi berjangka di Mizuho Securities, memperingatkan bahwa kenaikan harga energi sebagian besar mungkin disebabkan oleh spekulator yang menutup posisi short.
“Sudah menjadi kenyataan bahwa jika Tiongkok tertular virus ekonomi, seluruh [dunia] akan merasakan dampaknya. Kemarin adalah pengecualian yang membuktikan aturan tersebut,” Tamas Varga, seorang analis di broker minyak PVM, menulis dalam sebuah catatan pada hari Selasa, seperti dikutip CNBC.
Harga minyak baru-baru ini menurun sebagian karena keputusan anggota OPEC+ untuk mulai mengembalikan minyak ke pasar pada kuartal keempat.
“Sementara pasar telah pulih dengan baik dari penurunan drastis yang didorong oleh OPEC+, masih ada kekhawatiran relatif terhadap neraca keuangan di kuartal keempat dan seterusnya, yang seharusnya menjadi resistensi terhadap kenaikan besar,” papar Ryan McKay, ahli strategi komoditas senior di TD Securities, kepada klien dalam catatan hari Senin.
Saat ini harga minyak naik karena para analis melihat pasar semakin ketat pada kuartal ketiga di tengah ekspektasi bahwa permintaan bahan bakar di musim panas akan mengurangi persediaan.
Baca Juga
Ekspektasi Kenaikan Permintaan, Minyak Mentah AS Melonjak Lebih dari 2%

