Hadir di Davos, Arab Saudi Beberkan Rencana Jadi Pusat Pengembangan AI di Timur Tengah
DAVOS, investortrust.id - Uni Emirat Arab (UEA) telah menorehkan jejak sebagai pusat pengembangan teknologi di Timur Tengah. Faktor pendukungnya adalah rendahnya pajak penghasilan (PPh) pribadi, kebijakan visa yang fleksibel, serta insentif kompetitif bagi bisnis dan pekerja internasional.
Setelah UEA mendapat atensi dunia, Arab Saudi pun mematok target menggeser peran negara-negara tetangganya di Semenanjung Arab. Tekad besar itu dipaparkan dalam salah satu sesi World Economic Forum (WEF) di Davos tahun ini.
Delegasi Saudi mencuri perhatian di jalan-jalan utama kota, termasuk menempatkan etalase yang NEOM, salah satu konsep pembangunan perkotaan baru di barat laut Arab Saudi. Kota ini akan didedikasikan untuk proyek AlUla, salah satu bagian dari inisiatif kerajaan Arab untuk menjadikan kota warisan budaya.
Kota ini dirancang menjadi tujuan wisata global, pop-up untuk Yayasan putra mahkota Saudi, MiSK, dan duta pemudanya yang disebut “majlis” – serta dua chalet Saudi lainnya. Konsep pembangunan ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi ekonomi sesuai Visi 2030 yang dicanangkan Arab Saudi.
Baca Juga
Anindya Bakrie Harap Transisi Energi Bisa Jadi Peluang Membuat Indonesia Lebih Maju
Pameran NEOM menjadi salah satu pameran paling menonjol tahun ini di kawasan pejalan kaki. Ini merupakan bagian dari upaya untuk memamerkan prospek pembangunan sebagai tujuan, tidak sekedar untuk pariwisata dan kehidupan mewah, tetapi juga upaya mendorong inovasi.
Dilansir CNBC, juru bicara NEOM menyebut, pameran ini bertujuan menjaring penonton sekaligus mengedukasi kelompok investor tentang rencana pembangunan usat terknologi tersebut. Rencana pembangunan tersebut tentu saja menjadi bisnis bagi investor.
Menteri Keuangan (Menkeu) Saudi Mohammed al-Jadaan, Senin (15/01/2024) waktu setempat mengatakan, minyak sebagai contributor utama PDB Arab telah anjlok dari kisaran 70% ke kisaran 30-35%.
Menteri Keuangan Arab Saudi, Mohammed Al-Jadaan (ketiga dari kanan) terlihat menjadi salah satu pembicara dalam sesi The Global Economic Outlook pada Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024 di Davos-Klosters, Swiss, Jumat, (19/01/2024). Foto: World Economic Forum/Benedikt von Loebell.
“(Konsep pembangunan baru) Ini penting,” kata al-Jadaan, di sela-sela acara WEF, di Davos. Ia menambahkan, sejauh ini Arab Saudi telah melakukan diversifikasi ke berbagai sektor, termasuk pariwisata, teknologi, dan logistik.
Komentar al-Jadaan ini muncul di tengah dorongan luas agar Arab Saudi meningkatkan profil Kerajaan Saudi sebagai pemain global dan negosiator. Pada bulan April 2024 nanti, ibu kota Riyadh diagendakan menjadi tuan rumah World Economic Forum edisi khusus.
“Riyadh memiliki hubungan yang sangat strategis dengan AS, dan kami memiliki hubungan yang erat dengan Tiongkok, dan kami pikir kami dapat menjembatani hubungan tersebut,” tandas al-Jadaan.
Baca Juga
NEOM adalah salah satu dari beberapa proyek “giga”, yang merupakan bagian dari rencana Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Proyek ini ditargetkan mengembangkan ekonomi pada sejumlah sektor. Beberapa target penting seperti investasi infrastruktur besar-besaran, maupun menarik talenta fintech dari seluruh dunia untuk berinvestasi di Arab Saudi.
Ian Bremmer, presiden dan pendiri Eurasia Group, sebuah konsultan risiko politik, mengatakan keskeptisan ketika MBS belum lama menjadi menjadi putra mahkota. Namun Ian mengaku percaya pada transisi ekonomi yang didorong MBS.
“Dia mendorong kewirausahaan, dia mendiversifikasi perekonomian… Dan ada banyak orang yang sangat tertarik bekerja di Arab Saudi,” kata Bremmer.
“Dia adalah orang yang benar-benar berusaha memerangi banyak korupsi yang terlihat di keluarga kerajaan. Dan secara lebih luas, dia sebenarnya meningkatkan pendidikan, khususnya bagi Perempuan,” lanjutnya.
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Sekjen PBB Serukan Tindakan Nyata Hadapi Masalah Iklim dan Kecerdasan Buatan

