Inflasi PPI AS September Melonjak 6,3% YoY, Tertinggi Sejak 2022
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Tekanan inflasi di Amerika Serikat (AS) terus meningkat seiring melonjaknya harga energi akibat perang AS dengan Iran. Indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) pada September 2026 mencatat kenaikan bulanan dan tahunan terbesar sejak 2022, memperbesar kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) harus kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS), Kamis (15/10/2026), melaporkan PPI meningkat 1,3% pada September dibandingkan bulan sebelumnya dan melonjak 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Baca Juga
Inflasi AS September Tembus 3,7% YoY, Harga Minyak Jadi Biang Kerok
Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Maret 2022 untuk basis bulanan dan Desember 2022 untuk basis tahunan. Angka itu juga jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, masing-masing sebesar 0,6% dan 5,5%.
Harga energi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan tersebut. Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga energi meningkat, sehingga menambah tekanan biaya bagi perusahaan.
Tekanan itu mulai menjalar ke berbagai kelompok barang. BLS menyebut hampir separuh kenaikan harga barang olahan untuk permintaan langsung pada September berkaitan dengan lonjakan harga bahan bakar diesel.
PPI inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang bergejolak, naik 0,7% secara bulanan dan 5% secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya tercermin pada komoditas energi.
Data harga produsen ini menyusul laporan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dirilis sehari sebelumnya. CPI AS meningkat 0,6% pada September dibandingkan Agustus dan naik 3,7% secara tahunan. Kedua angka tersebut masing-masing sesuai dengan perkiraan bulanan, tetapi melampaui proyeksi tahunan sebesar 3,6%.
CPI inti, yang tidak memasukkan pangan dan energi, naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom, yakni masing-masing 0,2% dan 2,5%.
Gambaran tekanan inflasi yang meluas turut terlihat dalam Beige Book, laporan Federal Reserve mengenai aktivitas ekonomi di berbagai wilayah AS. Analisis Bespoke Investment Group menunjukkan laporan yang dirilis Rabu itu mencatat jumlah penyebutan istilah terkait inflasi tertinggi sepanjang sejarah publikasi tersebut.
Konsumen Mulai Menahan Belanja
Di tengah kenaikan harga, belanja konsumen AS masih tumbuh, tetapi terdapat indikasi bahwa biaya bahan bakar yang tinggi mulai membatasi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya.
Data pemerintah yang dirilis Kamis menunjukkan penjualan ritel meningkat 0,8% pada September dibandingkan bulan sebelumnya, melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,4%. Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya, ketika penjualan ritel meningkat lebih dari 1%.
Jika pengeluaran untuk kendaraan bermotor dan stasiun pengisian bahan bakar dikecualikan, penjualan ritel hanya naik 0,25% secara bulanan. Angka tersebut turun tajam dari pertumbuhan sekitar 1,1% pada periode sebelumnya.
Perlambatan ini mengindikasikan bahwa meningkatnya pengeluaran untuk bahan bakar berpotensi mengurangi kemampuan konsumen membelanjakan uang untuk barang dan jasa lainnya.
Kombinasi inflasi yang meningkat dan perlambatan pada sejumlah komponen belanja konsumen menempatkan The Fed dalam posisi sulit. Bank sentral harus mempertimbangkan risiko kenaikan harga yang semakin luas sekaligus dampak suku bunga tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed
Perubahan ekspektasi pasar terlihat pada kontrak berjangka suku bunga The Fed. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang hampir 34% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober. Angka itu meningkat dari di bawah 18% sepekan sebelumnya.
Baca Juga
Sekitar 90% pelaku pasar juga memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. “Dengan angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan selama dua hari berturut-turut, tampaknya The Fed tidak punya pilihan selain kembali menaikkan suku bunga tahun ini,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi Northlight Asset Management, dikutip CNBC.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akibat energi dapat memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Rangkaian data ekonomi terbaru juga menjadi perhatian menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Perkembangan harga kebutuhan hidup dan biaya pinjaman berpotensi memengaruhi sentimen pemilih serta dinamika politik di Washington.
Bagi pasar keuangan, kenaikan inflasi produsen menjadi sinyal bahwa tekanan harga belum mereda. Jika biaya energi terus meningkat dan kenaikan harga diteruskan kepada konsumen, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.
