Harga Minyak Anjlok Lebih dari 3%, AS Pilih Tekanan Ekonomi Hadapi Iran daripada Perang
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak anjlok lebih dari 3% setelah Amerika Serikat (AS) mengalihkan fokus dari opsi serangan militer ke tekanan ekonomi terhadap Iran. Pergeseran strategi Washington tersebut meredakan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan pecahnya kembali perang berskala besar.
Baca Juga
AS Luncurkan “Operation Economic Outcast”, China Tak Luput dari Sanksi Iran
Dikutip dari CNBC, harga minyak Brent, acuan internasional, turun 3,9% dan ditutup pada US$88,58 per barel pada Selasa (25/8/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), acuan AS, melemah 3,1% menjadi US$82,36 per barel.
Dengan penurunan tersebut, harga minyak telah terkoreksi lebih dari 5% sepanjang pekan ini setelah pemerintah AS mengumumkan paket sanksi baru terhadap Iran serta pihak-pihak yang dinilai membantu Teheran tetap menjalankan perdagangan.
Gedung Putih menyebut strategi tersebut sebagai “economic D-Day”. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menggambarkan kampanye tersebut sebagai serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan terhadap suatu negara.
Bessent sebelumnya mengatakan bahwa keputusan Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi membuat kemungkinan kembalinya perang dalam skala besar menjadi lebih kecil untuk saat ini.
“Jika kita menerapkan tekanan ekonomi secara maksimal, kemungkinan besar tidak akan ada dimulainya kembali serangan berskala besar,” ujar Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran dan Oman bertemu pada Selasa untuk membahas usulan pembentukan jalur pelayaran bersama sementara di Selat Hormuz. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang membantu meredakan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan minyak global.
Departemen Luar Negeri AS juga tengah mempersiapkan kepulangan diplomat yang sebelumnya dievakuasi dari Timur Tengah. Menurut laporan The New York Times, para diplomat tersebut dapat kembali ke pos mereka paling cepat pekan ini. Langkah tersebut mengindikasikan Washington tidak mengantisipasi kembalinya perang secara penuh.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan Angkatan Laut AS telah memberitahunya bahwa seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah dibersihkan. Namun, Komando Pusat AS belum memberikan konfirmasi independen mengenai pernyataan tersebut.
Trump juga memperingatkan Iran bahwa setiap kapal atau perahu yang kembali memasang ranjau akan langsung dihancurkan.
Baca Juga
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan opsi serangan militer masih terbuka. Menurutnya, Washington tetap akan menggunakan kekuatan militer apabila Iran melakukan tindakan yang dianggap mengancam AS.
“Jika kita perlu menggunakan serangan kinetik, kita akan menggunakannya,” kata Hegseth.
Namun, Hegseth mengakui tekanan ekonomi saat ini merupakan instrumen yang paling efektif untuk menekan pemerintahan Iran.
Dari Teheran, Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan negaranya telah mempersiapkan diri menghadapi tambahan sanksi AS. Pemerintah Iran, katanya, memiliki rencana dua tahun untuk menghadapi situasi tersebut.
“Kami memiliki alat kami sendiri dan tahu bagaimana memainkan permainan ini,” ujarnya seperti dikutip media pemerintah Iran.
Sikap China
Sanksi baru AS juga berpotensi memberikan tekanan kepada China karena Beijing merupakan salah satu mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama minyak Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan Beijing akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya.
China selama ini menentang sanksi unilateral yang dianggap tidak memiliki dasar dalam hukum internasional ataupun mandat Dewan Keamanan PBB. Beijing juga menilai perang ekonomi dan tekanan maksimum tidak akan menyelesaikan persoalan.
China menegaskan kerja sama ekonominya dengan Iran dilakukan sesuai hukum internasional dan tidak seharusnya diganggu.
Ahli strategi BBH menilai langkah terbaru pemerintahan Trump lebih menyerupai “tembakan peringatan” ketimbang pukulan yang menentukan. Menurut mereka, titik krusial kebijakan AS berada pada China, yang disebut sebagai mitra dagang terbesar Iran dan menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran.
Namun, penerapan sanksi sekunder terhadap China akan membawa risiko besar bagi Washington, termasuk gangguan terhadap sistem keuangan, kemungkinan pembalasan Beijing, serta memburuknya hubungan AS-China.
