AS Luncurkan “Operation Economic Outcast”, China Tak Luput dari Sanksi Iran
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengisolasi perekonomian Iran dengan mengancam penerapan sanksi sekunder terhadap pihak-pihak yang dinilai membantu menopang Republik Islam tersebut.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Hampir 3%, AS Ancam ‘Sanksi Ekonomi Terberat’ untuk Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington meluncurkan kampanye ekonomi baru yang menargetkan jaringan keuangan Iran di seluruh dunia. Operasi tersebut diberi nama “Operation Economic Outcast”.
“Kami melancarkan serangan ekonomi terhadap hubungan keuangan Iran di seluruh dunia,” kata Bessent saat mengumumkan skema sanksi baru tersebut di Departemen Keuangan AS, Senin (24/8/2026), seperti dikutip CNBC.
Menurut Bessent, Presiden Donald Trump saat ini menghubungi para pemimpin dunia dan menyampaikan “permintaan khusus” agar mereka menghentikan hubungan ekonomi dengan Iran.
Namun, sanksi yang dijanjikan tersebut belum langsung diberlakukan. Pemerintah AS terlebih dahulu akan memberikan tenggat waktu kepada masing-masing negara untuk menghentikan aktivitas yang telah diidentifikasi Washington.
“Setiap entitas yang memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS. Waktunya mulai berjalan,” ujar Bessent.
Trump sebelumnya menggambarkan rencana tersebut sebagai “Economic D-Day” bagi Iran. Kebijakan ini segera menimbulkan pertanyaan mengenai apakah China, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Iran, juga akan menjadi sasaran.
Baca Juga
Tak Gentar Ancaman ‘Sanksi Keras’ AS, Iran Klaim Mampu Bertahan
Hubungan Washington dan Beijing sendiri masih berada dalam kondisi rapuh setelah perang dagang yang meningkat pada tahun sebelumnya. Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Beijing pada Mei, sementara Xi dijadwalkan bertemu kembali dengan Trump di Washington pada akhir September.
Ketika ditanya apakah bank-bank China akan menjadi sasaran atau justru dikecualikan demi mempertahankan hubungan dengan Beijing, Bessent memberikan sinyal tegas bahwa tidak ada pihak yang kebal.
“Kami ingin memperjelas hari ini bahwa tidak seorang pun berada di luar jangkauan sanksi AS,” kata Bessent.
“Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, yang kemudian digunakan untuk penindasan, mereka akan menjadi sasaran,” lanjutnya.
Langkah tersebut diambil ketika perang AS-Iran mendekati enam bulan tanpa tanda-tanda kemenangan militer maupun diplomatik yang jelas bagi Washington.
Kesepakatan gencatan senjata yang lemah dan dicapai pada Juni pada dasarnya telah ditinggalkan sebelum batas waktu 60 hari berakhir pada pekan lalu. Sementara itu, Selat Hormuz—jalur penting bagi perdagangan minyak dunia—masih menjadi sumber pengaruh Iran dan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan sebelum perang.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS juga melaporkan penurunan jumlah serangan terhadap Iran. Kondisi tersebut muncul di tengah laporan dan spekulasi mengenai berkurangnya persediaan sejumlah jenis senjata AS.
Bessent mengatakan tujuan baru Washington adalah memutus seluruh jalur ekonomi yang menopang pemerintahan Iran.
“Tujuan kami adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendirian,” katanya.
Pihak-pihak yang dianggap sebagai pendukung ekonomi Iran mencakup mereka yang membeli atau mengangkut minyak Iran, memfasilitasi transaksi keuangan, menerima penerbangan Iran, serta memungkinkan transfer melalui jalur laut.
Washington juga memperluas cakupan sanksi terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam sektor aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran Iran.
Dengan demikian, kebijakan terbaru pemerintahan Trump tidak hanya menyasar Iran secara langsung, tetapi juga jaringan perusahaan, lembaga keuangan, dan negara lain yang dianggap membantu Teheran mempertahankan aktivitas ekonominya.

