Defisit Membengkak, Utang Pemerintah AS Tembus US$40 Triliun
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menembus US$40 triliun. Besarnya utang pemerintah AS ini menunjukkan semakin besarnya tekanan fiskal negara adidaya itu.
Baca Juga
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, total kewajiban pemerintah mencapai US$40,05 triliun pada Selasa. Angka tersebut dicapai sekitar empat setengah tahun setelah utang AS pertama kali menembus US$30 triliun.
Lonjakan utang terjadi setelah bertahun-tahun pemerintah AS mencatat defisit anggaran besar, yang semakin meningkat akibat berbagai program stimulus selama pandemi Covid-19. Porsi utang publik kini mendekati 100% dari perekonomian AS, seperti dilansir CNBC.
Dalam laporan keuangan bulanan terbaru, Departemen Keuangan AS mencatat defisit sebesar US$432,3 miliar pada Juli. Angka tersebut merupakan defisit bulanan tertinggi sejak Maret 2021.
Secara kumulatif, defisit pada tahun berjalan telah mendekati US$1,8 triliun dan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, total utang pemerintah AS sekitar US$19,4 triliun 10 tahun lalu. Artinya, dalam satu dekade, nilai utang tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Meningkatnya utang dan defisit AS juga memberikan dampak langsung terhadap pasar keuangan. Kondisi fiskal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan imbal hasil atau yield Treasury dalam beberapa waktu terakhir.
Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Rabu (19/8/2026) bahwa mereka akan meningkatkan nilai pembelian kembali obligasi pada tenor panjang atau long end of the yield curve.
Yield Treasury telah melonjak sejak akhir Juni dan mencapai level yang belum terlihat sejak sebelum krisis keuangan global. Pada periode tersebut, Federal Reserve (The Fed) akhirnya memangkas suku bunga acuannya mendekati nol dan pada akhir 2008 menjalankan program pembelian kembali obligasi secara agresif untuk membantu menekan tingkat imbal hasil.
Namun, kondisi fiskal AS yang memburuk kini menjadi salah satu faktor yang justru mendorong yield lebih tinggi.
Baca Juga
Moody's Turunkan Prospek Peringkat AS Jadi Negatif, Mengapa?
Kekhawatiran terhadap utang dan defisit pemerintah, meningkatnya penerbitan obligasi korporasi untuk membiayai investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), kenaikan term premium, serta keraguan terhadap komitmen The Fed dalam memerangi inflasi menjadi faktor yang turut memberikan tekanan terhadap pasar Treasury.
Pada saat yang sama, The Fed masih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga karena membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Akibatnya, biaya pinjaman pemerintah AS terus meningkat. Pembayaran bunga atas utang pemerintah diperkirakan telah mencapai hampir US$1,2 triliun sepanjang tahun ini.
Besarnya pembayaran bunga tersebut menjadikannya salah satu pos pengeluaran terbesar dalam anggaran federal AS, hanya berada di bawah Social Security dan Medicare.
Kenaikan biaya bunga juga menciptakan tekanan tambahan terhadap posisi fiskal AS. Semakin tinggi yield Treasury, semakin mahal biaya yang harus ditanggung pemerintah untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo maupun menerbitkan utang baru.
Dengan utang yang telah menembus US$40 triliun, perhatian investor kini semakin tertuju pada kemampuan pemerintah AS mengendalikan defisit sekaligus menjaga kepercayaan pasar terhadap Treasury sebagai aset aman global.

