Yield Obligasi Global Melonjak, Pasar Cemaskan Inflasi di Tengah Kebuntuan AS-Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar obligasi pemerintah global mengalami aksi jual pada Selasa (18/8/2026). Aksi jual itu mengerek biaya pinjaman di sejumlah negara ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Memudarnya harapan penyelesaian konflik AS-Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga.
Baca Juga
Pasar Obligasi Global Diprediksi Tertekan Gelombang Pengetatan Suku Bunga
Tekanan muncul setelah peluang tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran berakhir tanpa terobosan. Pada Senin, Presiden AS Donald Trump menolak memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, sementara Teheran kembali mengancam akan meningkatkan eskalasi militer.
Kedua pihak juga menolak melanjutkan pembicaraan perdamaian.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan pasar setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil ketika melintasi Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute perdagangan paling penting di dunia dan menjadi titik utama dalam perundingan AS-Iran.
Gangguan terhadap Selat Hormuz selama hampir enam bulan konflik telah meningkatkan biaya energi dan berbagai komoditas penting.
Harga minyak pun kembali naik. Brent, yang menjadi patokan global, bertahan di atas US$90 per barel pada perdagangan Selasa.
Baca Juga
Prospek Perdamaian Iran-AS Makin Suram, Harga Minyak Terus Merangkak Naik
Yield Treasury AS melonjak. Dikutip dari CNBC, pada pukul 07.38 waktu AS, yield Treasury 30 tahun naik hampir 3 basis poin menjadi 5,335%, level tertinggi sejak 2002.
Yield Treasury 20 tahun juga mencapai level tertinggi sejak 2006. Sementara yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan utama pasar keuangan, berada di 4,748%, level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan yield terjadi ketika investor memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi lebih lama akibat terganggunya arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
Kenaikan yield juga terjadi di luar AS. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 15 tahun, sementara yield obligasi pemerintah Prancis tenor yang sama menyentuh level tertinggi sejak 2008.
Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 2,941%, melampaui level tertinggi dalam 30 tahun yang tercatat pada musim semi.
Yield obligasi pemerintah Inggris, Italia, Swiss dan Kanada juga meningkat di berbagai tenor.
Dan Coatsworth, kepala pasar di AJ Bell, mengatakan kegagalan upaya mengakhiri perang telah kembali menempatkan risiko inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam perhatian utama investor.
Namun, menurut dia, kenaikan yield obligasi jangka panjang tidak hanya mencerminkan ekspektasi suku bunga dan kekhawatiran inflasi.
“Kenaikan yield obligasi jangka panjang juga dapat mencerminkan kekhawatiran mengenai tingginya tingkat utang pemerintah dan tuntutan investor atas kompensasi yang lebih besar untuk risiko memegang obligasi pemerintah jangka panjang,” ujarnya.
Jim Reid dari Deutsche Bank menilai tidak ada satu katalis tunggal yang memicu aksi jual di pasar obligasi dalam 24 jam terakhir.
Namun, minimnya tanda-tanda tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran membuat investor memperkirakan penutupan Selat Hormuz akan berlangsung lebih lama.
“Investor kembali memperhitungkan periode harga minyak yang lebih tinggi,” kata Reid.
Menurut dia, meningkatnya kekhawatiran mengenai penutupan Selat Hormuz yang lebih lama memberikan tekanan terhadap pasar surat utang, khususnya obligasi pemerintah dengan tenor panjang.
Investasi AI Tekan Pasar Obligasi
Selain konflik geopolitik dan risiko inflasi, pasar obligasi juga menghadapi tekanan dari kebutuhan pendanaan besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan atau AI.
Baca Juga
Wall Street Tertekan Yield Obligasi dan Harga Minyak, Saham Chip Rontok
Carl Weinberg, pendiri High Frequency Economics, mengatakan investasi besar dalam infrastruktur AI, teknologi dan utilitas turut berkontribusi terhadap tekanan di pasar obligasi.
Menurut Weinberg, terdapat estimasi bahwa sektor AI telah menghimpun pinjaman hingga sekitar US$600 miliar dalam setahun terakhir. Tambahan sekitar US$200 miliar dalam bentuk pendanaan, pinjaman, penerbitan surat utang baru dan penawaran saham perdana juga disebut masih akan masuk ke pasar.
Dana tersebut berasal dari sumber tabungan global yang sama dengan dana untuk membiayai defisit pemerintah maupun investasi perusahaan lain.
Weinberg menilai munculnya AI sebagai “peminjam besar” baru berpotensi menciptakan persaingan untuk mendapatkan dana di pasar.
Menurutnya, pemerintah dan perusahaan-perusahaan AI secara bersamaan dapat “mendesak keluar” investasi dari perusahaan kecil, sehingga ikut mendorong kenaikan yield obligasi.
Tekanan tersebut tidak hanya terjadi di AS. Menurut Weinberg, arus modal global menuju AS untuk membiayai investasi AI juga dapat mengurangi ketersediaan tabungan di negara lain dan pada akhirnya mendorong yield obligasi di berbagai pasar.
Dengan demikian, pasar obligasi global kini menghadapi kombinasi tiga tekanan utama: risiko inflasi akibat harga minyak, kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar, dan lonjakan kebutuhan modal untuk investasi AI.
Jika konflik AS-Iran berlanjut dan Selat Hormuz tetap terganggu, tekanan terhadap harga energi dan yield obligasi berpotensi bertahan lebih lama.

