Wall Street Melemah dan Masuki Fase ‘Datar’, tapi S&P 500 Cetak Kenaikan Tiga Pekan Beruntun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (15/8/2026) setelah mencetak rekor pada sesi sebelumnya. Meski demikian, S&P 500 tetap membukukan kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
S&P 500 turun 0,2% menjadi 7.785,76. Nasdaq Composite juga melemah 0,3% ke level 26.729,16. Sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 107,58 poin atau 0,2% menjadi 53.732,41.
Secara mingguan, S&P 500 naik 0,4%, sedangkan Nasdaq berhasil mencatat kenaikan 0,1% dan memperpanjang tren positif selama tiga pekan berturut-turut. Sebaliknya, Dow Jones mencatat penurunan 0,6% dalam sepekan.
Baca Juga
Wall Street Terdongkrak Sentimen Inflasi dan Harga Minyak, S&P 500 Tembus Rekor Baru
Perdagangan pekan ini menjadi salah satu periode penting bagi S&P 500. Pada Kamis, indeks tersebut untuk pertama kalinya menembus level 7.800 dan mencapai rekor intraday 7.816,70. Sehari sebelumnya, S&P 500 juga ditutup pada rekor tertinggi.
Kinerja saham AS mendapat dukungan dari data inflasi yang relatif moderat pada Rabu dan Kamis. Namun, setelah reli tersebut, investor mulai melakukan aksi ambil napas dan mengevaluasi kembali prospek pasar.
Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors, menilai pelemahan pada Jumat dapat menjadi gambaran pola perdagangan pasar pada Agustus dan September setelah musim laporan keuangan. "Perdagangan hari ini seperti awal dari fase mendatar setelah musim laporan keuangan," ujar Hatfield, dikutip CNBC.
Lebih dari 90% perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 telah melaporkan kinerja kuartal II. Menurut FactSet, pertumbuhan laba dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya berada di sekitar 50%.
Hatfield memperkirakan S&P 500 dapat mencapai 8.100 pada akhir tahun apabila pertumbuhan laba bertahan di level saat ini, harga minyak tetap di atas US$80 per barel selama Selat Hormuz masih tertutup, dan Federal Reserve mempertahankan suku bunga.
Sinyal Pelemahan Ekonomi
Namun, investor juga menghadapi sejumlah sinyal pelemahan ekonomi. Data penjualan ritel Juli menunjukkan penurunan yang tidak terduga secara bulanan. Kepercayaan konsumen terhadap ekonomi juga turun pada Agustus setelah sebelumnya membaik pada Juni dan Juli.
Bret Kenwell, analis investasi AS di eToro, mengatakan satu bulan lemahnya belanja konsumen belum cukup untuk menyimpulkan ekonomi sedang mengalami kemerosotan tajam. Namun, kondisi tersebut menjadi lebih sulit diabaikan jika digabungkan dengan data produk domestik bruto (PDB) dan ketenagakerjaan yang mengecewakan.
Baca Juga
Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga ‘Moderat’, Lorie Logan: Inflasi Belum Terkendali
Menurut Kenwell, data ekonomi yang lebih lemah dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga. Namun, dia mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi merupakan harga yang terlalu mahal jika hanya untuk menghindari kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Pasar saham kini menghadapi dilema. Di satu sisi, data ekonomi yang melemah dapat membuat kebijakan moneter lebih longgar. Di sisi lain, pelemahan konsumsi dan pasar tenaga kerja yang berkelanjutan dapat mengancam pertumbuhan laba perusahaan dan daya tahan ekonomi AS.

