Pidato Prabowo Viral di India, Diplomasi Peradaban Sambut Kunjungan PM Modi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Menjelang kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026, perhatian publik India kembali tertuju pada pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-80 yang viral dan menuai apresiasi luas di Negeri Anak Benua. Bukan karena pesan politik atau ekonomi yang disampaikan, melainkan karena pidato tersebut dinilai menghadirkan sebuah diplomasi yang berakar pada penghormatan terhadap sejarah, budaya, dan peradaban.
Menurut catatan Asisten Khusus Presiden RI, Dirgayuza Setiawan, yang diterima Investortrust.id, Senin (6/7/2026), menjelang kedatangan Modi, pidato Presiden Prabowo menunjukkan hubungan Indonesia dan India dibangun di atas fondasi yang jauh lebih tua dibandingkan hubungan diplomatik modern. Diplomasi tidak selalu lahir dari perjanjian perdagangan, investasi, atau kerja sama pertahanan, tetapi juga dapat tumbuh dari penghormatan terhadap warisan sejarah yang telah menghubungkan kedua bangsa selama lebih dari seribu tahun.
Dalam pidatonya di forum tertinggi dunia tersebut, Presiden Prabowo membuka sambutannya dengan rangkaian salam lintas agama dan budaya: Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Shalom, Salve, Om Swastyastu, Salam Kebajikan, Rahayu. Bagi masyarakat India, rangkaian salam itu dipandang bukan sekadar pembukaan pidato, melainkan representasi Indonesia sebagai negara yang mampu merawat keberagaman agama, tradisi, dan peradaban dalam satu identitas nasional.
Baca Juga
PM Modi ke Jakarta, 7 Juli 2926, India Bantu Indonesia Bangun ION
Kesan tersebut semakin kuat ketika Presiden Prabowo menutup pidatonya dengan ucapan, “Om Shanti Shanti Shanti Om” sebelum mengakhiri sambutannya dengan doa bagi perdamaian dunia. Dalam tradisi Sanskerta dan filsafat Hindu, doa tersebut merupakan permohonan kedamaian bagi pikiran, perkataan, dan tindakan manusia. Bagi banyak masyarakat India, momen itu menjadi simbol penghormatan seorang pemimpin dari negara dengan populasi muslim terbesar di dunia terhadap salah satu warisan spiritual India di hadapan seluruh bangsa-bangsa.
Penghormatan tersebut dinilai sejalan dengan filosofi India Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti “dunia adalah satu keluarga”. Dalam pandangan banyak kalangan India, nilai tersebut tidak hanya hidup di negeri mereka, tetapi juga tercermin dalam karakter bangsa Indonesia yang sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai peradaban.
Secara historis, hubungan Indonesia dan India memang telah terjalin jauh sebelum lahirnya negara-negara modern. Sejak lebih dari 1.000 tahun silam, jalur perdagangan maritim menghubungkan pesisir India dengan Sumatra, Jawa, Bali, dan wilayah Nusantara melalui Samudra Hindia. Bersama rempah-rempah, emas, dan kain, mengalir pula bahasa Sanskerta, filsafat, sastra, ilmu pengetahuan, seni bangunan, hingga gagasan tentang pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.
Warisan hubungan tersebut masih dapat ditemukan di berbagai situs sejarah Indonesia. Kompleks Percandian Muaro Jambi, misalnya, dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan keagamaan Buddha terbesar di Asia Tenggara yang menjadi tempat berkumpul para biksu dan cendekiawan dari India, Sriwijaya, hingga Tiongkok. Banyak sejarawan menilai kawasan itu merupakan simpul penting jaringan intelektual Asia pada masanya.
Pengaruh India juga tampak kuat di Candi Prambanan melalui relief-relief kisah Ramayana. Namun, kisah tersebut berkembang menjadi Ramayana versi Nusantara yang menunjukkan kemampuan Indonesia menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Nilai-nilai yang datang dari India kemudian bertransformasi menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup hingga saat ini.
Baca Juga
Dubes Chakravorty Ungkap Alasan PM Modi Bakal Kunjungi Yogyakarta
Karena itu, penggunaan salam seperti Om Swastyastu maupun doa Om Shanti Shanti Shanti Om oleh Presiden Prabowo dipandang bukan sebagai adopsi budaya asing, melainkan sebagai ekspresi atas warisan sejarah yang telah menjadi bagian dari identitas Indonesia selama berabad-abad. Warisan tersebut hidup di Bali, pernah berkembang di Muaro Jambi, dan dipahat megah dalam arsitektur Prambanan sebagai bukti bahwa Nusantara sejak lama merupakan titik temu berbagai peradaban dunia.
Momentum tersebut menjadi semakin relevan dengan dimulainya kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia selama tiga hari, 6–8 Juli 2026. Selain memperkuat hubungan politik dan ekonomi, kunjungan ini diharapkan membuka babak baru kemitraan strategis Indonesia–India di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, investasi, ekonomi digital, kecerdasan buatan, keamanan siber, pendidikan, hingga teknologi publik digital, termasuk pengembangan Indonesia Open Network (ION) yang terinspirasi dari keberhasilan Open Network for Digital Commerce (ONDC) India.
Hubungan Indonesia dan India, dengan demikian, bukan hanya dibangun oleh kepentingan ekonomi kontemporer, tetapi juga oleh ikatan sejarah dan peradaban yang telah teruji selama berabad-abad. Di tengah dinamika geopolitik global, modal sosial dan budaya tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara menuju abad ke-21.

