Aksi Jual Saham Chip di Wall Street Berlanjut, Nasdaq Merah, tapi Dow Beda Arah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS mayoritas melemah pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (25/6/2026) WIB. Indeks Nasdaq kembali berada di zona merah seiring berlanjutnya aksi jual saham-saham semikonduktor.
Indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi turun 0,43% ke level 25.476,64, sedangkan indeks S&P 500 melemah tipis 0,10% menjadi 7.358,22. Berbeda dengan kedua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average justru menguat 182,06 poin atau 0,35% dan berakhir di level 51.848,90.
Baca Juga
‘Sell Off’ Saham Chip dan AI Tekan Wall Street, Indeks Nasdaq Merosot Lebih dari 2%
Tekanan terhadap pasar saham terjadi bersamaan dengan penurunan tajam harga minyak dunia. Minyak Brent, yang menjadi acuan global, merosot 4,33% ke US$73,74 per barel, level terendah sejak sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,92% menjadi US$70,34 per barel, setelah sempat menyentuh titik terendah sejak awal Maret.
Turunnya harga minyak turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun kembali bergerak di bawah level psikologis 4,5%, memberikan sinyal meredanya kekhawatiran inflasi akibat gangguan pasokan energi global.
Sektor energi menjadi salah satu korban utama pelemahan harga minyak. Saham Exxon Mobil, Chevron, ConocoPhillips, dan SLB masing-masing turun lebih dari 2%. ETF sektor energi Energy Select Sector SPDR Fund (XLE) juga melemah lebih dari 1%.
Baca Juga
Kapal Tanker Mulai Ramai Melintas di Selat Hormuz, Harga Minyak Turun Tajam
Di sektor teknologi, perhatian pasar tertuju pada Micron Technology. Saham perusahaan tersebut sempat memangkas kerugian intraday namun tetap ditutup turun 0,3%. Saham Sandisk, yang juga bergerak di bisnis memori, merosot 2,5%.
Kedua saham tersebut sebelumnya telah anjlok sekitar 13% pada sesi perdagangan Selasa. Sementara itu, ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) ditutup sedikit lebih rendah.
Micron mengumumkan kinerja kuartalan setelah pasar ditutup. Konsensus analis yang dihimpun FactSet memperkirakan laba perusahaan mencapai US$20,83 per saham dengan pendapatan sebesar US$35,75 miliar.
Pergerakan pasar pada Rabu melanjutkan koreksi tajam sektor teknologi sehari sebelumnya. Pada Selasa, aksi jual besar-besaran terhadap saham yang terkait industri semikonduktor menyeret ETF SMH turun sekitar 7%.
Chief Investment Officer RGA Investments, Rick Gardner, menilai pelemahan saham teknologi saat ini merupakan koreksi yang sehat setelah reli panjang yang membuat valuasi banyak emiten menjadi sangat tinggi.
“Penurunan saham teknologi ini merupakan koreksi yang sehat karena banyak saham teknologi telah bergerak terlalu jauh. Investor mulai menyadari bahwa ekspektasi laba sektor teknologi sangat tinggi sehingga akan lebih sulit dipenuhi ketika musim laporan keuangan dimulai kembali pada Juli,” jelas Gardner, dikutip CNBC.
Sepanjang 2026, Micron menjadi salah satu bintang pasar saham AS. Harga sahamnya mencetak rekor tertinggi baru pada Senin sebelum ditutup di level US$1.051,77 per saham pada Selasa.
Namun Chief Market Strategist Freedom Capital Markets, Jay Woods, memperingatkan bahwa saham tersebut masih berpotensi terkoreksi setelah laporan keuangan dirilis.
Menurut Woods, harga saham Micron bisa turun hingga mendekati US$1.000 per saham sebagai bagian dari penyesuaian menuju rata-rata pergerakan 20 hari, level yang saat ini menjadi perhatian para trader.
Di sisi lain, saham Alphabet sempat menguat setelah muncul kabar bahwa perusahaan induk Google tersebut akan menggantikan Verizon dalam indeks Dow Jones berdasarkan pengumuman S&P Global. Namun, penguatan itu tidak bertahan lama dan saham Alphabet akhirnya ditutup melemah 0,2%.
Perdagangan terbaru menunjukkan investor mulai lebih selektif terhadap saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi motor utama reli pasar. Dengan musim laporan keuangan kuartal kedua yang akan dimulai pada Juli, fokus pasar kini beralih pada kemampuan perusahaan-perusahaan teknologi untuk memenuhi ekspektasi pertumbuhan yang semakin tinggi di tengah euforia kecerdasan buatan (AI).
