Kuwait Siaga, AS Lancarkan Serangan Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara menghadapi ancaman rudal dan drone, sementara militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran yang disebut menargetkan ancaman terhadap pasukan AS dan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Eskalasi terbaru ini mendorong harga minyak melonjak lebih dari 3% dan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Laporan CNBC yang tayang Rabu, (27/05/2026) pukul 23.25 EDT dan diperbarui sekitar satu jam sebelum publikasi terakhir, menyebut militer Kuwait mengumumkan pengaktifan pertahanan udaranya pada Kamis (28/05/2026) sebagai respons terhadap apa yang disebut sebagai “hostile missile and drone threats” atau ancaman rudal dan drone bermusuhan.
Baca Juga
Dalam pernyataan di platform X, angkatan bersenjata Kuwait tidak menjelaskan asal ancaman tersebut, tetapi memastikan suara ledakan yang terdengar merupakan hasil intersepsi sistem pertahanan udara terhadap sasaran yang datang. Reuters juga mengonfirmasi bahwa militer Kuwait menyatakan sistem pertahanannya sedang mencegat ancaman tersebut tanpa merinci sumber serangan.
Perkembangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah AS melancarkan serangan baru di Iran. Seorang pejabat AS mengatakan kepada media bahwa operasi terbaru menyasar fasilitas militer di dekat Bandar Abbas yang diyakini mengancam pasukan AS dan lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz.
Reuters melaporkan, pasukan AS menghancurkan empat drone serang satu arah milik Iran serta menyerang pusat kendali drone yang sedang mempersiapkan peluncuran tambahan di wilayah Bandar Abbas. Washington menyebut operasi tersebut bersifat defensif dan ditujukan untuk menjaga gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak April.
Iran segera merespons. Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Tasnim pada 28 Mei 2026, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengaku menyerang sebuah pangkalan udara AS sebagai balasan atas serangan Washington di sekitar Bandar Abbas. “Jika serangan itu diulangi, respons kami akan lebih tegas,” demikian pernyataan IRGC.
Reuters melaporkan bahwa serangan balasan Iran dan operasi udara AS terbaru menandai pertukaran serangan langsung yang semakin mengancam gencatan senjata serta memperumit diplomasi yang sedang berjalan.
AS Perketat Tekanan Ekonomi
Selain operasi militer, Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Tehran. Pada 27 Mei 2026, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap Persian Gulf Strait Authority, lembaga Iran yang mengatur lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dan memungut biaya transit.
Departemen Keuangan AS menegaskan pihak yang bekerja sama dengan otoritas tersebut berpotensi dianggap memberikan dukungan kepada IRGC dan dapat terkena sanksi sekunder. Langkah ini menunjukkan Washington menolak upaya Iran menjadikan Hormuz sebagai sumber pendapatan atau alat tekanan geopolitik.
Sanksi ini muncul setelah muncul laporan mengenai pungutan transit atau shipping toll yang sempat diwacanakan Iran untuk kapal-kapal yang melintasi Hormuz. Namun Presiden Donald Trump menolak keras gagasan itu dan menegaskan tidak ada satu negara pun yang boleh mengendalikan Selat Hormuz.
Baca Juga
IRGC Berencana Kenakan “Transit Toll” di Hormuz, Harga Minyak Melonjak Lagi
Harga Minyak Kembali Melonjak
Pasar energi langsung bereaksi terhadap eskalasi baru tersebut. CNBC melaporkan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing melonjak lebih dari 3% setelah laporan ancaman keamanan di Kuwait dan serangan baru AS ke Iran.
Reuters juga mencatat Brent naik sekitar 3,7% ke kisaran US$97–98 per barel karena pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke harga minyak.
Kenaikan harga itu menunjukkan investor masih memandang Selat Hormuz sebagai faktor penentu utama pasar energi global. Jalur sempit antara Iran dan Oman tersebut sebelum perang mengalirkan hampir 20% perdagangan minyak dan LNG dunia. Hingga 28 Mei 2026, posisi Selat Hormuz masih belum kembali normal.
Baca Juga
Meski pembicaraan damai AS–Iran masih berlangsung dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sehari sebelumnya mengatakan Washington akan memberi diplomasi “every chance to succeed”, realitas di lapangan menunjukkan kondisi tetap rapuh.
Reuters melaporkan lalu lintas komersial di Hormuz masih jauh di bawah level sebelum perang, sementara kapal tanker dan operator pelayaran tetap berhati-hati akibat ancaman drone, ranjau, dan ketidakpastian politik.Laporan Reuters sebelumnya bahkan menunjukkan Hormuz sempat nyaris lumpuh sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, dengan ratusan kapal tertahan di luar jalur masuk.
Dengan demikian, eskalasi terbaru menunjukkan diplomasi dan konfrontasi kini berjalan bersamaan. Washington masih berbicara tentang perdamaian, tetapi di saat yang sama tetap melancarkan operasi militer dan sanksi. Iran juga belum menunjukkan tanda mundur, sementara negara-negara Teluk seperti Kuwait kini kembali berada di garis depan risiko konflik regional.

