Draf Damai Hormuz Dekat Titik Temu
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz mulai menguat setelah media pemerintah Iran melaporkan adanya draf memorandum antara Tehran dan Washington yang dapat mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan Iran sekaligus memulihkan arus pelayaran komersial ke level sebelum perang. Draf kesepakatan tentang Hormuz mendekati titik temu.
Laporan tersebut muncul di tengah tekanan terhadap Presiden AS Donald Trump untuk segera menemukan jalan keluar konflik yang telah berlangsung sekitar tiga bulan dan mengguncang pasar energi global. Desakan dalam negeri agar Trump mengakhiri pernah terus menguat.
Menurut laporan CNN yang diperbarui pada Rabu (27/05/2026) pukul 09.30 EDT, memorandum atau memorandum of understanding (MoU) yang tengah dinegosiasikan menyebut pasukan militer AS akan mundur dari sekitar wilayah Iran dan blokade terhadap pelabuhan Iran dicabut. Sebagai imbalannya, Iran berkomitmen memulihkan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz ke tingkat pra-perang dalam waktu satu bulan. CNN menegaskan bahwa hingga berita tersebut ditayangkan, Washington belum memberikan komentar resmi.
Media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), menyebut pengelolaan dan rute pelayaran di Selat Hormuz nantinya akan dikendalikan Iran bersama Oman, sementara kapal militer tidak termasuk dalam skema tersebut. IRIB menambahkan draf itu belum final dan Tehran tidak akan mengambil langkah apa pun tanpa “verifikasi nyata” terhadap komitmen pihak lain.
Baca Juga
IRGC Berencana Kenakan “Transit Toll” di Hormuz, Harga Minyak Melonjak Lagi
IRIB juga mengklaim bahwa apabila kesepakatan final tercapai dalam waktu 60 hari, memorandum tersebut dapat diangkat menjadi resolusi mengikat Dewan Keamanan PBB. Negosiasi disebut berlangsung melalui mediasi Pakistan.
Laporan CNN tersebut sejalan dengan pemberitaan Reuters pada 27 Mei 2026 yang mengutip televisi pemerintah Iran mengenai adanya kerangka tidak resmi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Reuters menyebut Iran akan memulihkan pelayaran komersial ke tingkat sebelum perang dalam satu bulan, sementara AS akan menarik sebagian pasukan dari sekitar Iran dan mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan Iran.
Namun Reuters menegaskan bahwa kerangka tersebut masih bersifat awal dan belum memperoleh konfirmasi dari pemerintah AS. Tehran juga tetap menekankan prinsip tangible verification atau pembuktian nyata sebelum menjalankan kewajibannya.
Perkembangan ini menjadi sorotan global karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak laut dunia dan sebagian besar ekspor LNG Teluk.
Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, lalu lintas di Hormuz anjlok tajam. Reuters sebelumnya melaporkan pada April hanya lima kapal yang melintas dalam 24 jam, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum konflik.
Meski sempat ada pembukaan terbatas, aktivitas pelayaran tetap jauh dari normal. Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut AS menyebut ketidakpastian rute dan risiko keamanan masih tinggi bahkan setelah gencatan senjata April.
Reuters juga melaporkan sejumlah tanker minyak dan LNG mulai kembali melintasi Hormuz menuju Pakistan dan China dalam beberapa hari terakhir, menandakan ada perbaikan bertahap meski risiko tetap tinggi.
Harapan pembukaan Hormuz segera memengaruhi pasar energi. Reuters melaporkan harga gas alam acuan Eropa turun sekitar 5% pada Rabu (27/5/2026) setelah muncul kabar mengenai kemungkinan kesepakatan AS–Iran dan normalisasi pelayaran di Selat Hormuz.
Trump di Bawah Tekanan
Perkembangan terbaru terjadi ketika Presiden Trump dijadwalkan menggelar rapat kabinet pada Rabu pagi waktu Washington untuk membahas perang Iran dan tekanan politik yang semakin besar agar konflik segera diakhiri.
Namun, posisi Washington sendiri belum sepenuhnya berubah. Pada 24 Mei 2026, Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap kapal Iran tetap berlaku sampai ada kesepakatan yang ditandatangani dan diverifikasi secara resmi. Ia mengatakan tidak ada alasan untuk tergesa-gesa menyelesaikan perundingan.
Sementara itu, Reuters dan berbagai media internasional melaporkan pembicaraan sebelumnya telah bergerak menuju kerangka tiga tahap: penghentian perang secara formal, penyelesaian krisis Hormuz, lalu pembukaan negosiasi lebih luas menyangkut program nuklir Iran dan sanksi internasional.
Baca Juga
AS Serang Iran Lagi di Tengah Negosiasi Damai, Selat Hormuz Masih Membara
Batu Sandungan
Meski optimisme meningkat, sejumlah isu sensitif masih belum terselesaikan. Reuters sebelumnya melaporkan AS dan Iran masih berbeda pandangan mengenai stok uranium Iran, pengawasan Selat Hormuz, dan gagasan Iran untuk mengatur lalu lintas pelayaran atau memungut biaya transit.
Washington bahkan telah memperoleh dukungan Beijing untuk menolak sistem pungutan di Hormuz. Kedua negara sepakat tidak boleh ada satu negara pun yang memonopoli atau mengenakan tarif pelayaran di jalur strategis tersebut.
Karena itu, meski laporan IRIB dan CNN memunculkan optimisme baru, Selat Hormuz saat ini masih berada dalam fase transisi dan negosiasi, belum sepenuhnya terbuka seperti sebelum perang.
Bagi pasar global, draf memorandum tersebut menjadi sinyal penting bahwa jalur energi paling sensitif di dunia mungkin mulai bergerak menuju normalisasi—meski keberhasilannya tetap bergantung pada verifikasi, kompromi politik, dan kemampuan kedua pihak menjaga momentum diplomasi.

