Bagikan

Heboh! Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard 'Resign', Ada Apa?

Poin Penting

Tulsi Gabbard mengundurkan diri sebagai Direktur Intelijen Nasional AS setelah suaminya didiagnosis kanker tulang.
Presiden AS Donald Trump menyebut Gabbard telah melakukan “pekerjaan luar biasa” dan akan dirindukan.
Pengunduran diri ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik besar, termasuk konflik Iran-AS dan perpecahan internal pemerintahan Trump.
Keputusan Gabbard dinilai mencerminkan sisi manusiawi dari politik Washington yang selama ini keras dan penuh pertarungan kekuasaan.

WASHINGTON DC, investortrust.id - Di tengah hiruk-pikuk perang, ancaman nuklir, dan ketegangan geopolitik yang mengguncang dunia, Washington dikejutkan dengan sebuah kabar yang sangat personal.

Tulsi Gabbard - perempuan yang selama ini dikenal keras, disiplin, dan vokal dalam isu keamanan nasional - memilih meninggalkan salah satu jabatan paling sensitif di Amerika Serikat demi satu alasan sederhana, yaitu keluarga.

Baca Juga

Trump: Netanyahu Ikut Saya, Iran Ancam Perang Lebih Luas

Dalam surat pengunduran dirinya, Gabbard mengungkap bahwa sang suami, Abraham Williams, baru saja didiagnosis menderita kanker tulang. Di balik ruang perang, laporan intelijen rahasia, dan percaturan politik global, ada seorang istri yang merasa tak sanggup membiarkan pasangannya menghadapi pertarungan hidup sendirian.

“Cinta dan kekuatannya telah menopang saya melewati setiap tantangan. Saya tidak bisa, dengan hati nurani yang tenang, memintanya menghadapi pertarungan ini sendiri sementara saya terus menjalani posisi yang sangat menuntut dan menyita waktu,” tulis Gabbard dengan nada emosional, dikutip dari BBC, Sabtu (23/5/2026).

Keputusan itu langsung mengguncang Washington.

Presiden Donald Trump, yang selama ini menjadikan Gabbard sebagai salah satu figur paling loyal dalam pemerintahan periode keduanya, memberikan penghormatan terbuka melalui media sosial.

Trump menyatakan Gabbard “telah melakukan pekerjaan luar biasa” dan memilih langkah yang benar untuk mendampingi suaminya melewati “pertempuran berat”.

Di tengah politik Amerika yang brutal, pernyataan itu terdengar lebih personal dibanding biasanya.

Pengunduran diri Gabbard efektif berlaku pada 30 Juni mendatang. Posisinya sementara akan diisi Aaron Lukas, deputi utama di kantor intelijen nasional.

Namun mundurnya Gabbard bukan sekadar pergantian pejabat biasa. Ini menjadi simbol retaknya salah satu poros penting pemerintahan Trump di tengah meningkatnya tekanan global.

Bayang-Bayang Perang Iran

Beberapa bulan terakhir, nama Gabbard memang perlahan menghilang dari sorotan publik, bahkan ketika Amerika Serikat meningkatkan operasi militer terhadap Iran, memperketat tekanan terhadap Kuba, hingga mendukung perubahan kekuasaan di Venezuela.

Banyak pengamat melihat hubungan Gabbard dan Gedung Putih mulai merenggang sejak Trump mengambil keputusan agresif menyerang Iran bersama Israel.

Baca Juga

Ekonominya Terdampak Parah, Inggris Kritik Keras Kebijakan Trump dalam Perang Iran

Sejak awal karier politiknya, Gabbard dikenal sebagai tokoh anti-intervensi militer. Veteran perang Irak itu berkali-kali memperingatkan bahaya perang tanpa akhir yang menyeret Amerika ke konflik Timur Tengah.

Karena itu, ketika Washington memilih jalur konfrontasi terhadap Teheran, posisi Gabbard menjadi serba sulit.

Dalam beberapa sidang Kongres, ia tampak berhati-hati menjawab pertanyaan soal perang Iran. Ia juga mendapat tekanan setelah muncul perbedaan pandangan antara komunitas intelijen AS dan Gedung Putih terkait kemampuan nuklir Iran.

Bahkan dalam satu momen yang ramai diberitakan media Amerika, Trump secara terbuka menepis pernyataan Gabbard mengenai Iran.

“Saya tidak peduli apa yang dia katakan,” ujar Trump kepada wartawan saat itu. “Menurut saya mereka sangat dekat memiliki senjata nuklir,” tambahnya.

Kalimat itu diyakini menjadi salah satu titik paling dingin dalam hubungan keduanya.

Situasi makin rumit setelah Joe Kent — salah satu orang kepercayaan Gabbard dan mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional — lebih dulu mundur dari pemerintahan akibat ketidaksetujuan terhadap perang Iran.

Meski belakangan Gabbard akhirnya mendukung keputusan Trump sebagai panglima tertinggi, banyak pihak melihat ada pertarungan batin besar di balik sikap politiknya.

Dari Hawaii ke Pusat Kekuasaan Dunia

Perjalanan hidup Gabbard sendiri selalu penuh paradoks. Ia pertama kali terpilih menjadi anggota legislatif di Hawaii pada usia 21 tahun — menjadikannya legislator termuda dalam sejarah negara bagian itu.

Tak lama kemudian, ia meninggalkan kursinya untuk bertugas bersama Garda Nasional AS di Irak sebagai personel medis militer.

Pengalaman perang itu membentuk cara pandangnya terhadap dunia: keras terhadap ancaman, tetapi skeptis terhadap perang.

Karier politiknya terus melesat. Ia menjadi anggota Kongres dari Partai Demokrat pada 2013 dan tercatat sebagai anggota Kongres Hindu pertama dalam sejarah Amerika Serikat.

Namun Gabbard bukan politisi biasa.

Ia akhirnya meninggalkan Partai Demokrat pada 2022, menuduh partai lamanya sebagai “kelompok elit penghasut perang”. Sikapnya yang keras terhadap isu kebebasan berbicara, identitas gender, dan intervensi luar negeri membuatnya semakin dekat dengan kubu konservatif.

Dari pengkritik Washington, ia berubah menjadi salah satu sekutu paling setia Trump.

Saat kampanye Pilpres 2024, Gabbard aktif berkampanye bersama Trump dan kemudian masuk tim transisi pemerintahan sebelum akhirnya dipercaya memimpin komunitas intelijen AS — posisi yang mengawasi koordinasi berbagai badan intelijen paling rahasia di Amerika.

Ironisnya, perjalanan menuju puncak kekuasaan itu kini berhenti bukan karena skandal politik, melainkan karena urusan keluarga.

Bagi banyak orang Amerika, keputusan itu terasa menyentuh karena memperlihatkan sisi rapuh dari seorang pejabat yang selama ini dikenal tangguh.

Di balik ruang intelijen paling rahasia di dunia, ternyata ada seorang istri yang hanya ingin berada di samping suaminya ketika waktu menjadi begitu berharga.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024