Trump: Netanyahu Ikut Saya, Iran Ancam Perang Lebih Luas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait konflik Iran-Israel. Dalam pembaruan perang Iran yang dipublikasikan CBS News pada Rabu (20/05/2026) pukul 13.13 EDT atau Kamis dini hari WIB, Trump mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan melakukan “apa pun yang saya inginkan” terkait Iran. Trump juga menegaskan dirinya “tidak terburu-buru” mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Trump mengungkapkan bahwa dirinya sempat hanya “satu jam lagi” dari keputusan memerintahkan serangan baru terhadap Iran pada Senin malam waktu setempat. Namun, rencana itu ditunda setelah sejumlah sekutu Amerika Serikat di Teluk Persia meminta Washington memberi ruang bagi proses diplomasi dan pembicaraan damai.
Baca Juga
Indonesia dan 12 Negara Kutuk Serangan Israel terhadap Global Sumud Flotilla
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan memperluas perang “melampaui kawasan Timur Tengah” apabila Amerika Serikat atau Israel kembali melancarkan serangan. Teheran bahkan menjanjikan “serangan menghancurkan di tempat-tempat yang tidak pernah dibayangkan”. Ancaman tersebut memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang rapuh masih sangat berisiko runtuh sewaktu-waktu.
Reuters pada Selasa (20/05/2026) melaporkan Trump mengklaim negosiasi dengan Iran kini memasuki tahap akhir, tetapi tetap membuka opsi serangan militer bila kesepakatan gagal tercapai. Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sementara Washington disebut masih menyiapkan opsi serangan lanjutan terhadap fasilitas strategis Iran.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Usai Trump Sebut Negosiasi Iran Masuki ‘Tahap Akhir’
Sementara itu, Netanyahu dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS News yang ditayangkan 10 Mei 2026 menyatakan perang melawan Iran belum selesai selama Teheran masih memiliki uranium yang diperkaya tinggi. Netanyahu juga mengakui risiko konflik regional semakin besar, termasuk ancaman terhadap jalur energi strategis Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik tersebut terus mengguncang pasar energi global. Reuters melaporkan harga minyak sempat turun lebih dari 4% setelah Trump menyatakan pembicaraan damai memasuki tahap final. Namun, analis tetap memperingatkan harga minyak dapat melonjak hingga US$120–200 per barel bila konflik kembali memanas dan jalur pelayaran Selat Hormuz terganggu.

