Trump Nyaris Menyerang Iran Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya sempat “hanya tinggal satu jam lagi” untuk memutuskan serangan baru terhadap Iran, namun akhirnya membatalkannya setelah adanya permintaan dari sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk Persia. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa risiko eskalasi perang Iran masih sangat tinggi meski jalur diplomasi mulai dibuka kembali.
Dalam laporan live update yang dipublikasikan CBS News pada Selasa (19/05/2026) pukul 11.28 EDT atau sekitar Selasa malam WIB, Trump juga menegaskan perang melawan Iran “sangat populer” meskipun sejumlah survei menunjukkan dukungan publik AS terhadap konflik tersebut mulai menurun. “Semua orang bilang perang ini tidak populer, tetapi menurut saya ini sangat populer,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih seperti dikutip CBS News.
Trump mengatakan masyarakat AS akan mendukung perang jika memahami bahwa tujuan utamanya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir yang dapat mengancam kota-kota besar Amerika seperti Los Angeles. Iran sendiri terus membantah sedang membangun senjata nuklir.
Pernyataan Trump muncul setelah Iran sebelumnya mengaku telah kembali menyampaikan revisi terbaru syarat perdamaian kepada Washington. Teheran bahkan menyebut pihak AS, bukan Iran, yang lebih dulu meminta gencatan senjata.
Situasi ini menunjukkan prospek perdamaian masih terbuka, namun sangat rapuh dan penuh ketidakpastian.
Media Reuters sebelumnya juga melaporkan adanya tekanan kuat dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar agar konflik tidak kembali meningkat karena khawatir terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global. Negara-negara Teluk disebut khawatir serangan baru AS terhadap Iran akan memicu gangguan lebih besar terhadap jalur energi internasional, terutama Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama dunia karena merupakan jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global. Dalam beberapa pekan terakhir, lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut sempat turun tajam akibat perang AS-Israel versus Iran.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada tanda resmi bahwa blokade penuh Selat Hormuz kembali diberlakukan Iran. Data pelacakan maritim Kpler sebelumnya menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintas di Hormuz mulai meningkat kembali dalam sepekan terakhir setelah sempat menyentuh level terendah selama perang berlangsung.
Media pemerintah Iran juga menyebut Garda Revolusi Iran mulai memberikan izin lebih banyak kapal untuk melintasi selat strategis tersebut. Hal itu dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka dan menghindari tekanan internasional lebih besar.
Namun risiko militer tetap tinggi. Israel pada Selasa (19/05/2026) kembali memperingatkan warga di Lebanon selatan untuk mengungsi menjelang serangan baru terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Pejabat Lebanon menyebut konflik Israel-Hezbollah yang terus berlangsung meski ada gencatan senjata mediasi AS telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Baca Juga
Bursa Asia Cenderung Menguat Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meminta negara-negara Eropa ikut bergerak lebih agresif menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Dalam konferensi “No Money for Terror” di Paris, Selasa, Bessent mengatakan sanksi AS telah mengurangi pendapatan Iran untuk mendanai program senjata, proksi militer, dan ambisi nuklirnya.
Ia juga mendesak Eropa membantu menutup perusahaan cangkang, jaringan shadow banking, dan mekanisme pembiayaan lain yang disebut digunakan Iran untuk mendukung organisasi teroris. “Sanksi ekonomi adalah instrumen perdamaian untuk menciptakan perubahan perilaku,” kata Bessent seperti dikutip transkrip resmi Departemen Keuangan AS.
Laporan senada dari CNN dan CNBC menyebut pasar global masih sangat sensitif terhadap perkembangan perang Iran karena setiap ancaman eskalasi dapat langsung memicu lonjakan harga minyak dunia, kenaikan inflasi global, dan tekanan terhadap pasar keuangan internasional.
Analis menilai, selama belum ada kesepakatan damai permanen antara AS dan Iran, risiko serangan baru, ancaman terhadap Selat Hormuz, dan gejolak harga energi global masih akan terus membayangi pasar dunia.

