Trump Ancam Iran dengan Serangan yang Lebih Besar Jika Negosiasi Gagal
Poin Penting
|
“Perang belum berakhir, tetapi ancaman eskalasi makin nyata. Presiden Donald Trump kini memberi ultimatum keras kepada Iran: terima proposal damai atau hadapi pemboman Amerika Serikat dengan intensitas jauh lebih besar.”
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah upaya diplomasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sekitar dua bulan. Trump menegaskan Iran akan dibombardir “pada tingkat yang jauh lebih tinggi” apabila menolak proposal perdamaian yang sedang dinegosiasikan Washington dan Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Rabu (06/05/2026) pagi waktu Amerika Serikat atau Rabu (06/05/2026 malam WIB. CNBC melaporkan berita tersebut pertama kali pada 6 Mei 2026 pukul 07.58 EDT atau sekitar pukul 18.58 WIB dan diperbarui 13 menit kemudian.
Trump menyatakan perang akan berakhir apabila Iran menyetujui proposal yang diajukan AS, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz “untuk semua pihak”. Namun ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan gagal tercapai, serangan militer AS akan kembali dilakukan dengan skala lebih besar dibanding sebelumnya. “The bombing starts, and it will be, sadly, at a much higher level and intensity than it was before,” tulis Trump dalam unggahannya.
Baca Juga
“Project Freedom” Dihentikan Sementara, Trump Sebut Ada Kemajuan Negosiasi dengan Iran
Ancaman terbaru itu muncul hanya beberapa jam setelah Trump menghentikan sementara operasi militer AS “Project Freedom”, yakni misi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz. Operasi tersebut sebelumnya diluncurkan Washington untuk membuka jalur pelayaran internasional yang terganggu akibat konflik Iran-AS. Trump mengatakan penghentian sementara operasi itu dilakukan karena terdapat “kemajuan besar” menuju “kesepakatan lengkap dan final” dengan Iran.
Laporan senada disampaikan Al Jazeera dalam laporan langsung (live update) yang tayang 6 Mei 2026. Media tersebut menyebut Trump mengancam akan memulai kembali pemboman terhadap Iran “dengan tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi” apabila tidak tercapai kesepakatan damai.
Menurut CNBC, optimisme pasar mulai muncul setelah media Axios melaporkan Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang. Pemerintah AS disebut menunggu respons Iran atas sejumlah poin utama dalam proposal satu halaman yang diperkirakan selesai dalam 48 jam ke depan.
Proposal tersebut antara lain mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran, pencabutan sebagian sanksi AS terhadap Iran, serta pelonggaran kontrol kedua negara terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Namun sebagian besar poin masih bersifat kondisional dan bergantung pada kesepakatan final antara kedua delegasi.
Sumber pemerintah Pakistan yang terlibat dalam proses mediasi juga mengatakan peluang tercapainya proposal perdamaian “sangat mungkin” dalam beberapa hari mendatang. Pakistan selama ini berperan aktif membantu negosiasi antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang sedang berada di Beijing untuk bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan Iran dan China sama-sama mendukung “kedaulatan dan martabat nasional Iran”. Dalam unggahan di platform X, Araghchi menyatakan “Iran percaya kepada China” dan berharap kemitraan strategis kedua negara terus diperkuat.
Ketegangan geopolitik itu terus memengaruhi pasar global. CNBC melaporkan harga minyak dunia turun tajam setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan damai, sementara bursa saham AS, Eropa, dan obligasi pemerintah global menguat.
Baca Juga
Bursa Eropa Tertekan, Saham Otomotif Terpukul Ancaman Tarif Trump
Meski demikian, situasi di lapangan masih sangat rapuh. Gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlaku sejak 7 April 2026 berulang kali berada di ambang kegagalan. Awal pekan ini, Iran menyerang pasukan AS yang membantu kapal dagang melintasi Selat Hormuz serta melancarkan serangan baru terhadap United Arab Emirates. Sebaliknya, AS mengklaim telah menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang dianggap mengganggu jalur pelayaran internasional.
Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif dalam konflik karena jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi dunia. Ketidakpastian di kawasan itu terus memicu volatilitas harga minyak, mengganggu rantai pasok global, dan meningkatkan risiko ekonomi internasional.
“Kini dunia menunggu satu keputusan besar dari Teheran: menerima kompromi damai atau menghadapi babak baru perang dengan intensitas yang lebih dahsyat. Di Selat Hormuz, diplomasi dan ancaman militer berjalan berdampingan.”

