Debut Greg Abel di Berkshire Hathaway Setelah Lengsernya Warren Buffett
Poin Penting
|
OMAHA, investortrust.id - Pertemuan tahunan Berkshire Hathaway tahun ini menandai era baru kepemimpinan di bawah Greg Abel, yang untuk pertama kalinya memimpin forum setelah lengsernya legenda investasi Warren Buffett.
Baca Juga
Dalam debutnya, Abel dinilai berhasil memberikan kesan solid kepada para pemegang saham, dengan pendekatan yang lebih terstruktur, detail, dan berorientasi operasional.
Sejumlah investor memuji gaya komunikasi Abel yang lugas dan komprehensif, meskipun mengakui absennya karisma dan humor khas Buffett masih terasa.
“Jawabannya sangat solid dan mendalam,” ujar Steve Check dari Check Capital Management, seperti dikutip dari CNBC. Ia menambahkan bahwa meski Abel tampil kuat, nuansa hiburan khas era Buffett belum tergantikan.
Pada pertemuan Sabtu (2/5/2026) waktu setempat, Abel membuka sesi dengan presentasi hampir satu jam yang mengupas kinerja berbagai unit bisnis Berkshire, mulai dari perkeretaapian, energi, asuransi, hingga ritel. Pendekatan ini memberikan gambaran lebih rinci tentang operasional perusahaan dibandingkan format sebelumnya yang lebih naratif.
Para analis melihat pergeseran fokus dari investasi ke operasional sebagai ciri khas kepemimpinan Abel. Hal ini juga diperkuat oleh keberadaan jajaran eksekutif kuat seperti Ajit Jain, Adam Johnson, dan CEO BNSF Railway, Katie Farmer.
Teknologi
Isu teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi sorotan utama dalam pertemuan tersebut. Abel mengungkapkan bahwa Berkshire mulai mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk di sektor perkeretaapian.
Ia juga menyoroti peluang besar dari lonjakan pembangunan pusat data, yang mendorong permintaan listrik dan menjadi katalis pertumbuhan bagi bisnis energi Berkshire.
“Ia terlihat sangat nyaman dengan teknologi dan AI, berbeda dengan Warren yang biasanya menghindari investasi berbasis teknologi di luar Apple dan belakangan Google,” kata Adam Patti, CEO VistaShares dan pengelola ETF yang melacak kepemilikan terbesar Berkshire. “Mungkin ini memberi gambaran bagaimana portofolio akan berkembang ke depan,” tambahnya.
Kekecewaan buyback
Namun, tidak semua investor puas. Program pembelian kembali saham (buyback) dinilai kurang agresif, dengan total hanya US$235 juta pada kuartal pertama—angka yang dianggap tidak mencerminkan potensi perusahaan.
Baca Juga
Berkshire Hathaway Timbun Kas Hampir US$ 400 Miliar, Siapkan Amunisi di Tengah Perombakan Portofolio
Perusahaan membeli kembali saham senilai US$235 juta pada kuartal pertama, menurut laporan kinerja. Sebelumnya, perusahaan telah mengungkapkan pembelian sebesar US$226 juta pada 4 Maret, yang berarti peningkatan pembelian hanya terjadi secara tipis menjelang akhir kuartal.
“Satu hal yang kurang adalah panduan yang jelas terkait buyback tambahan. Saya berharap mereka lebih agresif dalam hal ini,” kata Patti. Hal senada diungkapkan Check. “Saya kecewa dengan minimnya buyback signifikan. Mungkin mereka menunggu harga lebih rendah, tapi sebelumnya mereka membeli jauh lebih banyak pada valuasi seperti ini,” ujarnya.
Para peserta mungkin masih beradaptasi dengan pertemuan Berkshire tanpa Buffett sebagai pusat perhatian. Namun setelah penampilan perdana ini, investor tampak semakin bersedia memberi ruang dan waktu bagi Abel untuk menentukan arah babak baru perusahaan dengan caranya sendiri.

