Tanpa Uni Emirat Arab, OPEC+ Naikkan Produksi 188.000 Barel per Hari
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya, OPEC+, menyepakati kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari (barrels per day – B/D) dalam pertemuan terbaru mereka. Ini merupakan pertemuan pertama sejak keluarnya Uni Emirat Arab dari kartel tersebut.
Baca Juga
Keputusan ini diumumkan pada Minggu (3/5/2026), menandai upaya berkelanjutan kelompok produsen utama untuk menjaga stabilitas pasar energi global di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi.
Tujuh negara yang terlibat dalam kesepakatan ini meliputi Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Angka kenaikan produksi Juni ini sedikit lebih rendah dibandingkan tambahan produksi Mei sebesar 206.000 barel per hari, dan tidak lagi memasukkan kontribusi dari Uni Emirat Arab yang resmi keluar dari OPEC pada 1 Mei.
OPEC menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen kolektif untuk menstabilkan pasar minyak, yang sejak awal tahun mengalami tekanan akibat konflik kawasan. “Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari dari penyesuaian sukarela tambahan yang diumumkan pada April 2023,” demikian bunyi pernyataan OPEC, dikutip dari CNBC.
Baca Juga
OPEC+ Tambah Produksi, tapi Tak Mampu Redam Lonjakan Harga Minyak
Pasokan minyak global masih terganggu sejak pecahnya konflik Iran pada 28 Februari, yang membuat jalur vital energi dunia, Selat Hormuz, praktis tertutup. Kondisi ini sempat mendorong lonjakan harga minyak secara signifikan.
Namun, harga minyak melemah pada akhir pekan setelah muncul harapan baru terkait kemungkinan kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat. Dikutip dari CNBC, minyak mentah AS ditutup turun 3% ke level US$101,94 per barel, sementara Brent terkoreksi hampir 2% ke US$108,17 per barel—meskipun keduanya masih melonjak sekitar 78% sejak awal 2026.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia telah diberitahu tentang konsep kesepakatan dengan Iran, tetapi sedang menunggu rumusan pastinya. Ia memperingatkan bahwa masih ada kemungkinan untuk memulai kembali serangan terhadap negara itu jika Teheran tidak mematuhi kesepakatan.
Baca Juga
Iran Ultimatum AS: Pilih Serangan "Mustahil" atau Kesepakatan Buruk
Sementara itu, seorang pejabat senior Iran, seperti dikutip Reuters, mengungkapkan bahwa proposal yang diajukan mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz serta penghentian blokade AS, dengan pembahasan program nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Pekan lalu, Uni Emirat Arab mengumumkan keluar dari OPEC. Keluarnya Uni Emirat Arab, produsen minyak terbesar ketiga dalam OPEC, semakin memperkuat kekhawatiran pasar terkait stabilitas pasokan. Pemerintah UEA menyatakan keputusan tersebut diambil demi kepentingan nasional setelah evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan produksi dan kapasitas energi mereka.

