Transformasi Grup Bakrie yang Berbuah Performa Cemerlang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Refokus dan transformasi bisnis besar-besaran yang diinisiasi Grup Bakrie kini membuahkan hasil yang mengagumkan. Salah satunya, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menorehkan performa keuangan cemerlang, diikuti lonjakan harga saham yang signifikan.
BNBR membukukan lompatan laba bersih menjadi Rp 502,74 miliar pada 2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 336,04 miliar. Kenaikan tersebut langsung ditransmisikan ke lonjakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Harga saham BNBR melesat 32,92% ke level Rp 214 pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/2/2026). Lonjakan harga juga sejalan dengan dikeluarkannya saham BNBR dari papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme full call auction (FCA).
Bahkan, saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memimpin daftar top gainers saham pekan ini (23-27 Februari 2026). Saham ini berhasil mencatatkan kenaikan 76,86% secara mingguan.
Sebelumnya, harga saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memang terus menanjak. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, saham BNBR sempat melambung lebih dari 146% menjadi Rp 116 dalam satu bulan atau periode sebelum terkena suspensi kedua pada 16 Desember 2025. BNBR merupakan satu dari beberapa saham grup Bakrie dengan penguatan pesat dalam beberapa pekan di Desember 2025.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer (CEO) PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Anindya N Bakrie menyatakan, faktor utama penopang lompatan laba datang dari pengukuran kembali atas kepentingan ekuitas yang dimiliki sebelumnya senilai Rp 422,37 miliar dan keuntungan dari pembelian diskon senilai Rp 320,12 miliar. Kedua indikator ini sebelumnya tidak tampak dalam laporan kinerja keuangan tahun 2024.
Peningkatan tersebut membuat laba bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 493,85 miliar pada 2025, dibandingkan tahun sebelumnya Rp 327,59 miliar. Laba per saham juga meningkat dari semula Rp 2,04 menjadi Rp 2,85 per saham.
BNBR membukukan pendapatan bersih Rp 3,74 triliun sepanjang 2025. Pendapatan bersih tersebut ditopang kontribusi PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group sebesar Rp 2,18 triliun, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group sebesar Rp 1,08 triliun, serta PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group sebesar Rp 464,21 miliar.
Sentimen positif terhadap harga saham BNBR tak lepas dari sejumlah aksi korporasi signifikan yang ditempuh. Di antaranya adalah pengambilalihan 100% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) melalui entitas anak, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI). Akuisisi ini didanai dari Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue yang telah disetujui dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Jumat (27/2/2026). BNBR menyetujui penerbitan 90 miliar saham baru Seri E dengan target dana Rp 6,5 triliun itu. Aksi korporasi ini berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan pemegang saham hingga maksimal 33,33% bagi yang tidak mengambil haknya.
Anindya menegaskan, rights issue diharapkan pula memperkuat operasional, memperbaiki struktur permodalan, dan meningkatkan kemampuan perseroan dalam melakukan ekspansi usaha. Pada akhirnya, penambahan modal diharapkan berdampak positif terhadap laba dan nilai investasi bagi seluruh pemegang saham.
Menurut Anindya, ruas Tol Cimanggis-Cibitung memiliki posisi strategis sebagai jalur alternatif untuk mengurai kemacetan, khususnya di Tol Jakarta–Cikampek, serta berperan penting dalam meningkatkan konektivitas, efisiensi transportasi, dan pertumbuhan kawasan industri serta ekonomi di wilayah Jabodetabek.
Dengan memiliki 100% saham CCT, kata Anindya, BNBR dapat mendorong kontribusi pendapatan yang berkelanjutan dan signifikan terhadap kinerja konsolidasian grup ke depan. “Dalam jangka menengah, potensi peningkatan pendapatan per tahun mencapai lebih dari 25% terhadap total pendapatan perseroan,” kata Anindya.
Transaksi ini juga ditempuh untuk memperkuat posisi grup usaha perseroan di sektor infrastruktur nasional sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang perseroan yang fokus pada pengembangan infrastruktur dan manufaktur,” ujar Anin.
Wakil Direktur Utama Bakrie & Brothers Anindra Ardiansyah Bakrie menambahkan, alasan utama akuisisi PT Cimanggis Cibitung Tollways adalah mengoptimalkan sinergi usaha, meningkatkan kontrol operasional dan strategis atas aset jalan tol, serta mendorong kontribusi pendapatan yang berkelanjutan terhadap kinerja konsolidasian perseroan.
Ardi Bakrie menyebut, total transaksi senilai Rp 3,56 triliun itu terdiri atas total nilai pengambilalihan saham Rp 1 triliun dan pengambilalihan piutang WTR dan SMI kepada CCT sehubungan pinjaman dari pemegang saham CCT yang diberikan WTR dan SMI senilai Rp 2,56 triliun. Dana untuk akuisisi bersumber dari pinjaman ADH Jackpot SPV Limited, anak perusahaan induk investasi di Uni Emirat Arab, senilai US$ 312 juta (Rp 5,14 triliun).
Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) merupakan Badan Usaha Jalan Tol yang mengelola ruas Tol Cimanggis-Cibitung sepanjang 26,184 kilometer dengan masa konsesi selama 45 tahun hingga 10 Agustus 2061. Kegiatan usaha CCT meliputi pendanaan, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan ruas jalan tol tersebut.
Direktur Bakrie & Brothers Kartini Sally menyatakan, akuisisi CCT bertujuan memperkuat posisi perseroan di sektor infrastruktur jalan tol serta mendukung peningkatan konektivitas dan efisiensi transportasi di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.
“Setelah menyelesaikan akuisisi 100% saham CCT, penguatan harga saham BNBR makin kuat sejak 1 Desember 2025,” ujar Kartini Sally dalam paparan publik insidentil yang diselenggarakan secara virtual (17/12/2025).
Berdasarkan data RTI, saham BNBR mulai mengalami penguatan sejak 25 November 2025, sebelum penyelesaian akuisisi CCT pada 28 November 2025, dengan kenaikan di kisaran 8–9%. Penguatan berlanjut hingga 15 Desember 2025, dengan total kenaikan mencapai sekitar 141,67% dalam satu bulan.
Selanjutnya, pada 5 Desember 2025, BEI menetapkan saham BNBR masuk dalam kriteria unusual market activity (UMA) dan melakukan penghentian sementara perdagangan saham atau suspensi pada 12 Desember 2025.
“Suspensi atas saham BNBR dilakukan oleh BEI pada 12 dan 16 Desember 2025 dengan tujuan memberikan waktu cooling down bagi investor. Oleh karena itu, pada 17 Desember 2025 perseroan melaksanakan paparan publik insidentil untuk memenuhi permintaan BEI,” jelas Kartini Sally.
Saat ini terdapat 11 entitas terafiliasi Grup Bakrie. Selain BNBR dengan market cap Rp 37,1 triliun per 27 Februari 2026, juga ada PT Bumi Resources Tbk dengan market cap Rp 95,8 triliun, PT Bumi Resources Minerals Tbk dengan market cap terbesar Rp 138,2 triliun, dan PT Energi Mega Persada Tbk Rp 46,4 triliun.
Selain itu juga PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk dengan market cap Rp 41,3 triliun, PT Darma Henwa Tbk Rp 21,4 triliun, PT Ancara Logistics Indonesia Tbk Rp 13,9 triliun, serta PT Bakrieland Development Tbk (Rp 2,2 triliun), PT Intermedia Capital Tbk (Rp 3,3 triliun), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (Rp 1,5 triliun), serta PT Viva Media Asia sebesar Rp 0,7 triliun.
Data Center
Untuk strategi ke depan, BNBR tengah melirik segmen data center sebagai peluang pengembangan bisnis. Menurut Anindya Bakrie, langkah ini berkaitan dengan peran PT Multi Kontrol Nusantara (MKN), anak perusahaan BNBR yang bergerak di bidang system integrator, layanan jaringan, infrastruktur serat optik, dan solusi IT strategis.
Anindya menekankan, terdapat dua faktor utama dalam pengembangan data center, yakni ketersediaan lahan dan pasokan listrik yang memadai. BNBR tengah mencari potensi lokasi yang strategis, khususnya di wilayah DKI Jakarta.
“Data center yang paling penting adalah pertama lahan dan kedua listrik. Nah, di situ salah satu kekuatan grup kami adalah pembangkit listrik. Tapi kita tentu hanya mau investasi, apabila mendapatkan mitra strategis yang mengerti di bidang data center ini,” terang Anindya.
Sementara itu, Anindya Bakrie juga memberi sinyal pembagian dividen pada tahun ini, seiring kondisi keuangan yang positif dan mengalami perbaikan. Sinyal pembagian dividen BNBR tersebut sejalan dengan rampungnya proses kuasi reorganisasi pada 2024.
Meski demikian, keputusan final pembagian dividen akan ditentukan melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) 2026 untuk tahun buku 2025. Anindya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan usaha.
Transformasi Besar-besaran
Perbaikan performa keuangan dan lonjakan harga saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tak lepas dari strategi transformasi bisnis besar-besaran yang dirintis sejak 2023. Transformasi dilakukan untuk meraih mimpi besar agar dalam dua dekade ke depan, BNBR menjadi perusahaan terdepan dalam bisnis berkelanjutan (sustainable business).
Saat ini, lini bisnis utama BNBR didominasi sektor energi, terutama yang bersentuhan dengan batu bara dan migas, dengan porsi sekitar 75%. Sisanya, 25% adalah nonenergi, yakni kendaraan listrik, media, dan teknologi digital.
Menurut Anindya Bakrie, ketika Grup Bakrie berusia 100 tahun pada 2042 nanti, atau paling lambat 2045 saat peringatan 100 Tahun Indonesia Merdeka, struktur bisnis perseroan diharapkan sudah berbalik. “Sebanyak 75% adalah bisnis yang berkelanjutan (sustainable business), antara lain energi terbarukan, kendaraan listrik, dan bisnis lain di luar tambang,” kata Anin saat beramah tamah dengan pemimpin media akhir tahun 2023.
Membawa Bakrie Brothers sebagai holding company yang fokus pada bisnis berkelanjutan adalah mimpi besar Anin. “Ini mimpi saya, kita sudah punya kemampuan di industrialisasi dan digitalisi setelah malang melintang di media teknologi. Fokus kita berikutnya di energi terbarukan,” katanya.
Saat ini, kata Anin, Bakrie & Brothers terus mengakselerasi upaya transisi ke arah bisnis berkelanjutan, terutama di sektor industri elektrifikasi transportasi, industri energi baru & terbarukan (EBT) atau green energy, dan industri konstruksi bangunan ramah lingkungan. Usaha ini semakin mempertebal komitmen perusahaan dalam mendukung target net zero emission (NZE) Indonesia 2060.
BNBR melihat banyak peluang untuk mengakselerasi transisi perseroan menuju bisnis berkelanjutan. Upaya ini antara lain terlihat dari terus berkembangnya PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), unit usaha di bidang elektrifikasi transportasi, PT Helio Synar Energi (Helio) unit usaha di bidang energi baru terbarukan, dan PT Modula Sustainability Indonesia (Modula) yang berinvestasi dalam teknologi 3-D printing terbaru dan ramah lingkungan, di bidang konstruksi bangunan.
Bagi Anin, pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) melalui VKTR bertujuan untuk mendukung transisi energi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. ‘’Sejak pengembangan ekosistem kendaraan listrik kami lakukan, industri dan bengkel karoseri di Magelang yang sebelumnya sempat slow down, kini punya harapan baru dan berpikir retrofit dari bisnis diesel ke elektrik,’’ papar Anin.
Saat ini VKTR memiliki fasilitas perakitan kendaraan listrik di Magelang, Jawa Tengah. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi sebesar 3.000 unit per tahun. Pengembangan bus dan truk listrik tersebut turut melibatkan pelaku usaha lokal. VKTR memasok ratusan bus listrik yang kini dioperasikan oleh PT TransJakarta.
Anin memprediksi, potensi pasar bus listrik di seluruh Indonesia mencapai 250.000 unit dan truk listrik sekitar 5,5 juta unit.
Untuk itu, VKTR terus menjajaki kerja sama strategis dengan sejumlah perusahaan otomotif besar dunia, termasuk untuk pengembangan truk listrik, baik EV Mining Truck maupun EV truck. VKTR telah menandatangani kerjasama strategis dengan produsen bus listrik terkemuka dunia BYD Auto, produsen baterai ramah lingkungan asal Inggris BritishVolt, perusahaan karoseri Tri Sakti, perusahaan teknologi heavy mobility dari Inggris Equipmake, dan sejumlah pihak lainnya.
Menurut CEO VKTR, Gilarsi W Setijono, aliansi strategis dengan berbagai pihak, dari produsen kendaraan listrik, produsen baterai, manufaktur, hingga lembaga perguruan tinggi memang menjadi salah satu strategi yang ditempuh VKTR untuk mewujudkan lokalisasi teknologi.
“Kita ingin memastikan, ekosistem elektrifikasi transportasi di Indonesia dibangun secara lengkap dan tidak setengah-setengah, dari hulu hingga ke hilir. Kita membangun tidak hanya fasilitas pembuatan badan busnya saja, tetapi kita pikirkan juga bagaimana fasilitas pembuatan sasis dan teknologi mekatronika serta hal-hal lainnya,” ujar mantan Dirut PT Pos Indonesia tersebut.
Di lini energi terbarukan BNBR lainnya, unit usaha PT Helio Synar Energi telah berhasil memasang fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di pabrik milik PT Braja Mukti Cakra (BMC), di Bekasi, Jawa Barat. PLTS Atap dengan kapasitas sebesar 317.7 kWp (kilowatt-peak) ini mampu memproduksi energi listrik hingga 434 MWh (megawatt-hour) per tahun, dan diestimasikan total CO2 yang terserap per tahun sebesar 289,62 ton.
Untuk bisnis baru di subsektor teknologi konstruksi pencetakan 3-dimensi (3DCP), PT Modula Sustainability Indonesia berpatungan dengan COBOD International dari Denmark yang dimiliki perusahaan terkemuka dunia seperti GE (USA), Cemex (Belanda), Holcim (Swiss) dan Peri (Jerman). Pada Januari 2024, Modula akan mendatangkan mesin teknologi 3-D printing dan mulai membangun rumah contoh pada kuartal II 2024.
Bakrie & Brothers saat ini telah menjadi perusahaan sehat, setelah melewati masa-masa sulit. Perusahaan yang sebelumnya merugi, terlilit banyak utang, serta ekuitas negatif, kini menjadi perusahaan sehat. Pernah dalam dua minggu di tahun 2023, Bakrie Brothers mampu bayar utang sebesar Rp 13 triliun.
“Badai yang menerpa BNBR telah berlalu,“ ucap Anin.
Refokus dan transformasi bisnis secara bertahap mengantarkan BNBR ke dalam performa yang semakin solid. Ke depan, perjalanan transformasi bisnis yang ditempuh Bakrie & Brothers tentu tidak mudah. Banyak yang mempertanyakan langkah transformasi Grup Bakrie, dari jagoan tambang dan industri, banting stir ke energi terbarukan.
“Kalau Bakrie Brothers tidak berubah, maka mimpi itu tidak akan kejadian. I’m doing this karena bisa make money,” kata Anin yakin.

