Harus Membahagiakan Orang, Bukan Menyusahkan Orang
JAKARTA, investortrut.id - Setiap orang memiliki tafsir dan definisi yang berbeda-beda tentang kesuksesan. Itu sebabnya, jalan untuk meraih kesuksesan tidak selalu sama bagi setiap orang.
Tapi ada satu cara “sederhana” yang bisa mengantarkan seseorang ke puncak kesuksesan, yaitu membahagiakan orang lain. Cara itulah yang diterapkan Arief Setiawan Handoko dalam menjalani karier.
Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ini percaya bahwa filosofi membahagiakan orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai kesuksesan.
“Kalau kita bisa membahagiakan orang lain, semua akan ngikut. Karier akan ngikut, uang akan ngikut,” kata Arief Setiawan Handoko kepada wartawan investortrust.id, Hendry Kurniawan, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz, di Kantor Pusat PGN, kawasan Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, baru-baru ini.
Tentu saja membahagiakan orang lain versi Arief Setiawan bukanlah membuat orang lain senang dalam arti sempit. Membahagiakan orang lain juga tidak semudah membalikkan telapak tangan karena harus mengedepankan empati dan simpati.
Inti filosofi ini adalah membantu atau menolong orang lain dalam kebaikan. Bukan sebaliknya, berbuat yang “aneh-aneh”, merepotkan, apalagi menzalimi alias menindas, menganiaya, berbuat sewenang-wenang kepada orang lain.
“Bukan pula pinter ngomong, omon-omon, asal bapak senang. Justru saya akan merasa bahagia kalau bawahan senang. Itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya,” ujar Arief yang pernah berkarier di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), ConocoPhillips, dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Selain membahagiakan orang lain, ada dua prinsip lain yang dipegang teguh Arief Setiawan, yaitu jangan semata mengejar materi dan harus selalu menjaga integritas. Ketiga prinsip ini menjadi satu kesatuan, tak terpisahkan.
“Itu value yang ditanamkan orang tua saya. Jadi, ada tiga pesan bapak saya. Pertama, jangan nyusahin orang, apalagi menzalimi. Kedua, kerja jangan melulu cari duit. Ketiga, harus jujur, jaga integritas,” tutur ayah tiga anak tersebut.
Bagi Arief Setiawan, integritas adalah prinsip yang tak bisa ditawar-tawar. “Kalau mau jadi pemimpin yang bagus, ya harus punya integritas. Kalau kita punya integritas, kalau ada anak buah yang nakal, nyentilnya enak,” tegas pria kelahiran Jakarta itu.
Berikut penuturan lengkap orang nomor satu di emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham PGAS tersebut:
Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga memimpin PGN?
Saya terlahir dari keluarga yang sederhana. Jadi, saya berupaya survive dalam kesederhanaan itu. Maka saat bersekolah, saya benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Apa kata guru, itulah yang saya pelajari. Makanya, kalau di rumah, saya santai. Kebalikan teman-teman. Kalau di kelas kan teman-teman pada bercanda segala macam, lalu di rumah mereka belajar.
Kalau saya terbalik. Saya belajar di kelas. Kalau guru sedang mengajar, saya perhatikan betul. Makanya, kadang-kadang, di grup study itu, mereka pada belajar, saya santai karena sudah pelajari di sekolah.
Dari SD, SMP, sampai SMA, saya dulu bercita-cita menjadi pilot karena pilot itu kan gagah banget kayaknya. Saya sempat menjalani tes di Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
Tapi saya kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Indonesia (UI). Saya sempat kuliah di STAN dan UI. Kemudian saya pilih STAN.
Apa yang mendorong Anda memilih STAN?
Tujuan hidup saya kan ingin nyenengin orang tua sebisa mungkin, secepat mungkin. Ya mumpung ada waktu. Orang tua saya bilang, kamu kuliah di STAN aja kalau mau membahagiakan orang tua.
Ya sudah, saya pilih STAN. Kuliah, selesai. Jadilah pegawai negeri di BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Saya sebetulnya nggak pernah membayangkan jadi pegawai negeri.
Anda happy menjadi pegawai negeri?
Bagi orang tua kan pegawai negeri itu kebanggaan, anaknya pegawai negeri gitu. Senang sih, nggak perlu ngelamar-ngelamar pekerjaan lagi. Tapi di usia 31, saya sudah pengen keluar.
Cuma, keinginan itu tertunda-tunda terus karena saya ambil pendidikan di luar negeri, ambil short course. Kemudian saya juga dapat beasiswa S2 di luar negeri. Jadi terhambat terus tuh keluarnya.
Pada 1990 saya ambil information technology (IT) audit course di Kuala Lumpur. Lalu pada 1992-1993 saya ambil advanced IT audit and practical attachment di World University Service of Canada (WUSC) di Calgary, Kanada.
Selanjutnya, pada 1999-2001, saya kuliah di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat (AS), ambil MBA (Master of Business Administration).
Sampai tahun 2006, hati saya udah bulat, saya harus keluar. Maka pada 2007 saya keluar dari BPK.
Ke mana Anda saat itu?
Langsung ke perusahaan swasta, oil and gas company, yang nggak pernah saya bayangkan juga sebetulnya. Kebetulan waktu itu saya ditawarin di BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi), kemudian Chevron, dan ConocoPhillips. Saya pilih ConocoPhillips.
Kenapa pilih ConocoPhillips?
Saya ingin benar-benar memulai dari bawah, menghadapi tantangan yang berbeda. Akhirnya saya pilih multinational company yang dikenal sebagai salah satu yang paling ‘keras’ dalam industri ini. Di antara kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), ConocoPhillips sering dianggap sebagai yang paling menantang dan penuh dinamika.
Saya sengaja memilih perusahaan ini, dengan harapan bisa berkontribusi dalam menjembatani komunikasi dan kerja sama antara ConocoPhillips dan pemerintah.
Dalam production sharing contract (PSC), perjanjian ditandatangani oleh kedua belah pihak, pemerintah dan ConocoPhillips sebagai KKKS. Karena ada banyak tantangan dalam implementasinya, mudah-mudahan saya bisa membantu kedua pihak dalam menyelesaikan berbagai isu.
Apa yang terjadi setelah Anda masuk ConocoPhillips?
Di ConocoPhillips, wawasan, pola pikir, dan gaya hidup saya benar-benar berubah total. Saya tiba-tiba harus bekerja sendiri, tanpa anak buah—hanya punya atasan. Semua pekerjaan dilakukan secara mandiri. Saya benar-benar ditempa, baik dalam hal gaya kerja maupun gaya hidup. Di sini, semuanya tergantung pada diri sendiri. Jika ingin maju, harus berusaha sendiri.
Tidak ada intrik atau permainan politik yang berlebihan. Tidak ada budaya mencari muka. Jadi, lo kerja bagus, lo mendapatkan sesuatu. Siapa yang memberikan value added kepada company, itulah yang berhasil.
Perbedaan mendasar antara budaya perusahaan di national company dan multinational company?
Corporate culture di multinational company dengan di national company berbeda. Di situ saya banyak belajar, terus belajar tanpa henti. Memang harus eager, harus agile, harus punya inovasi yang cukup bagus kalau mau berhasil.
Semua karena kerja keras Anda?
Nggak tahu juga. Mungkin doa orang tua, kesempatan, hoki—ya, gabungan semuanya. Saya juga nggak merasa paling pintar. Ternyata, memberikan value added ke perusahaan itu nggak cuma soal kepintaran. Nggak pintar pun nggak apa-apa, yang penting hasil kerja benar-benar ada dan terasa.
Makanya saya bisa naik cepat, sampai beberapa fungsi saya kuasai. Mulai dari finance, audit, security, etika, sampai akhirnya masuk ke supply chain management.
Di supply chain management itu ada procurement, material management, logistik. Termasuk di bawah saya juga ada panitia pengadaan dan general services. Biro umumnya, semacam sekjen-nya lah. Ngurusin lift, rumah, gedung, cleaning service—segala macam ada di situ. Itu di ConocoPhillips, 11 tahun saya di sana.
Tapi Anda akhirnya keluar dari ConocoPhillips?
Nah, di pucuk pimpinan ConocoPhillips Indonesia itu harus bule. Bosnya nggak pernah orang Indonesia. Saya pikir, udah mentok nih karier saya. Ya cari- cari peluanglah. Kebetulan SKK Migas butuh, waktu itu buka bidding untuk jadi Sekretaris. Akhirnya saya ambil kesempatan itu.
Pertimbangan Anda bergabung dengan SKK Migas?
Sekretaris SKK Migas itu menangani berbagai aspek yang pernah saya jalani, namun dengan dinamika dan pendekatan kerja yang berbeda. Sewaktu di ConocoPhillips, saya banyak berinteraksi dengan SKK Migas, Kementerian ESDM, auditor, BPK, BPKP, dan Ditjen Pajak.
Saya melihat bahwa hubungan antara perusahaan KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) dan SKK Migas pada dasarnya adalah kemitraan. Masing-masing pihak memiliki peran dan perspektif yang perlu dikelola dengan komunikasi yang baik dan prinsip saling menghormati
Legasi Anda di SKK Migas?
Setelah di SKK Migas, saya merasa ada tradisi yang perlu diubah. Perubahan inilah yang menjadi kebanggaan bagi saya. Saya berhasil mengubah pola pikir pegawai SKK Migas bahwa hubungan dengan KKKS haruslah berbasis kemitraan. Perubahan ini pun terlihat nyata dalam cara SKK Migas berinteraksi dengan para KKKS.
Perubahan tersebut bisa dikonfirmasi langsung ke berbagai KKKS, bukan hanya ConocoPhillips, tetapi juga Medco, Exxon, BP, Eni, dan lainnya. Mereka merasakan perbedaan itu. Bagi saya, inilah warisan yang saya tinggalkan di SKK Migas—sebuah perubahan budaya kerja yang lebih profesional dan kolaboratif.
Setelah menjabat sebagai Sekretaris SKK Migas selama dua tahun, saya menjadi Deputi Keuangan dan Komersial selama empat tahun. Nambah lagi ilmu dan wawasan saya, terutama dalam aspek komersial dari sektor hulu hingga hilir. Saya belajar mengenai seluruh rantai bisnis, mulai dari pengambilan gas dan minyak dari perut bumi, proses distribusi melalui pipa midstream, hingga tahap downstream dalam penjualan produk energi.
Setelah dari SKK Migas, saya kembali ke sektor hulu. Selama 4,5 bulan, saya bergabung di PT Medco Energi Internasional Tbk, sebelum akhirnya ke PGN. Dengan perjalanan ini, saya merasa pengalaman saya semakin lengkap—memahami seluruh ekosistem industri energi dari hulu hingga hilir.
Apa yang menarik dari karier Anda sebagai pelaku dan regulator?
Waktu di SKK Migas, tugas utama saya mengatur dan meregulasi, termasuk alokasi gas. Misalnya, menentukan apakah alokasi gas untuk Medco sudah sesuai, berapa yang seharusnya, dan ke mana distribusinya. Begitu juga dengan PGN, berapa alokasi yang diterima, atau bagaimana situasi pasokan gas di Jawa Timur. Ketika terjadi shortage di suatu daerah, solusinya harus dipikirkan—apakah perlu membangun pipa atau mencari alternatif lainnya.
Saya jadi mengerti waktu di SKK Migas. Saat bergabung di PGN, saya tahu persis prioritas yang harus dikejar, sehingga kedua pengalaman ini saling melengkapi. Mudah-mudahan kontribusi saya dapat memberikan manfaat bagi PGN, dan sejauh ini hal tersebut sudah kami buktikan dengan NPAT (net profit after tax) yang bagus
Meskipun tantangan operasional tetap ada, aspek keuangan PGN cukup bagus. Tim PGN memiliki ketajaman analisis dan inovasi dalam mengelola gas serta menjaga reliability pasokan yang pada akhirnya win-win.
Kami tetap mampu menjaga kinerja, bahkan di tengah tekanan harga gas bumi serta keterbatasan pasokan gas pipa yang harus diganti dengan liquefied natural gas (LNG). Di sinilah kami terus berkarya, mencari solusi terbaik bagi keberlanjutan bisnis. Hampir dua tahun saya di PGN, dan perjalanan ini terus memberikan tantangan sekaligus peluang
Seberapa besar pengaruh orang tua dalam karier Anda?
Saya camkan betul pesan dan nasihat orang tua. Pertama, jangan ngerepotin orang, jangan nyusahin orang, apalagi menzalimi. Buatlah orang lain bahagia. Kedua, kerja jangan melulu cari duit. Duit itu akan ngikut, kekayaan itu akan ngikut. Ketiga, harus jujur, jaga integritas.
Integritas itu sumber semuanya ya. Kalau mau jadi pemimpin yang bagus ya harus mampu menjaga integrity. Kalau bisa menjaga integritas, kita bisa memberi contoh yang baik, lead by example. Kalau ada anak buah kita yang nakal, nyentilnya enak. Nyentil-nya benar-benar nyentil.
Kenapa kita berani nyentil kencang? Karena saya nggak memberikan contoh yang jelek. Saya ngasih contoh yang bagus, lho. Maka nyentilnya enak. Misalnya kalau saya ngerokok nih, anak saya ngerokok, saya marahin. Pantas nggak saya marahin?
Saya nggak pernah marah saat anak saya ngerokok karena saya ngerokok. Sekarang saya udah mulai berhenti ngerokok nih. Boleh dong saya marahin? Saya bisa bilang, bapak udah berhenti ngerokok ini, ayo wajib berhenti.
Artinya kalau kita mau memperbaiki tim, kita harus memberikan contoh yang baik. Lead by example. Pemimpin itu bukan hanya harus pinter. Bukan pinter ngomong, omon-omon, asal bapak senang. Justru saya akan merasa bahagia kalau bawahan senang. Itu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Cara kerja saya gitu. Artinya kalau saya memberikan kesenangan buat orang, itu senangnya luar biasa. Jadi, dampaknya balik lagi ke saya.
Anda pernah “jatuh”?
Pernah. Salah satunya waktu kuliah. Saya kuliah berkali-kali. Di UI tiga kali. Nggak jadi-jadi. Nggak lulus-lulus. Karena kerjaan banyak kan? Terus saya juga ngejar beasiswa S2 di Amerika. Tertunda-tunda terus. Pas mau berangkat, eh tahun 1998 terjadi krisis moneter. Itu sampai saya frustrasi.
Saya juga pernah merasa down saat teman-teman seangkatan, bahkan junior saya, udah dapat posisi semua. Ada yang eselon 4, eselon 3, saya belum dapat waktu itu karena kuliahnya telat. Kuliah S2 saya juga agak telat. Itu pun sempat membuat saya down. Apalagi ketua timnya junior saya, yang saya ajarin.
Yang Anda lakukan saat “jatuh”?
Awalnya memang nggak enak, frustrasi. Tapi akhirnya saya nikmatin aja. Saya harus membuktikan bahwa saya dibutuhkan dan berperan signifikan di tim. Semua kembali ke diri saya. Orang tua saya sering berpesan bahwa semua yang ada, yang kita miliki sekarang, itu harus disyukuri. Kalau nggak disyukuri, nggak ditambah-tambah Tuhan nanti.
Filosofi hidup Anda?
Filosofi hidup saya yaitu membahagiakan orang lain, jangan terlalu ngoyo mengejar materi, dan jaga integritas. Filosofi ini saya peroleh dari bapak saya.
Kesimpulan Anda tentang perjalanan hidup ini?
Rasa syukur terhadap apa yang sudah kita miliki. Dengan bersyukur, kita akan merasa bahagia karena merasa cukup. Sifat manusia kan merasa kurang terus. Itu harus direduksi dengan rasa syukur. Kita juga harus membahagiakan orang lain, membantu orang lain. Dengan berusaha membahagiakan orang lain, kita sebetulnya sedang berusaha membahagiakan diri sendiri.
Pendapat Anda tentang keseimbangan hidup?
Work-life balance sangat penting. Hidup harus seimbang. Kita tidak bisa kerja terus. Sebaliknya, kita juga tidak bisa bersantai-santai terus. Dua-duanya harus seimbang. Saat weekend, saya rutin jalan kaki, kadang-kadang sama istri, kadang Brompton-an sama istri, kadang-kadang sepedaan sendiri. Kadang-kadang juga main golf. Tergantung situasi aja, sesempatnya aja.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya menerapkan open book management, yang menekankan transparansi dan kejujuran. Namun, tentu ada batasannya.
Saya membiasakan diri untuk “belanja” masalah dahulu. Saya kasih tahu para pegawai masalahnya apa. Kemudian solusinya bagaimana, apa yang harus dikerjakan, dan bagaimana penyelesaiannya. Jadi, mereka merasa dilibatkan gitu. Lalu keputusannya seperti apa, harus berani ambil keputusan. Saya membiasakan diri untuk memahami dan mengidentifikasi masalah terlebih dahulu.
Saya juga harus support para pegawai. Saya beri semangat, memberikan daya kepada mereka, memotivasi mereka untuk terus berkarya karena perusahaan selalu membuka pintu bagi orang-orang berdedikasi tinggi.
Satu lagi, kita nggak bisa kerja sendiri. Harus bekerja secara tim. Kalau sendiri itu sombong namanya. Bekerja secara tim akan memudahkan kita mengambil keputusan. Pekerjaan yang sulit menjadi lebih mudah karena dikerjakan bersama-sama.
Mimpi Anda yang belum tercapai?
Mimpi yang belum tercapai adalah dapat terus menjaga dan menumbuhkembangkan kepercayaan dari para stakeholder dan investor PGAS.
Kinerja bisnis PGN?
PGN terus memperkuat operasional dengan mengoptimalkan infrastruktur gas bumi demi keandalan pasokan energi nasional. Optimalisasi FSRU Lampung meningkatkan kontrak TUA sebesar 33% menjadi 72 BBTUD pada 2024, sementara volume transmisi gas mencapai 1.543 MMSCFD, didorong oleh peningkatan aliran gas dari lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) melalui pipa Gresik-Semarang dan operasional pipa baru Senipah-Balikpapan. Sementara itu, pencapaian volume niaga gas di tahun 2024 sebesar 852 BBTUD.
Target tahun ini?
Tahun ini kami menggalakkan program Jargas (Jaringan Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga). Kami akan lebih masif lagi. Tidak hanya menunggu pelanggan yang daftar, tapi kami gelar duluan, gelar pipa, sambungan pipa dulu, baru kita secara door to door sosialisasi atau menawarkan kepada masyarakat. Jargas ini program mulia karena bisa menyelamatkan atau mengurangi beban APBN untuk subsidi LPG 3 kg, mengurangi impor, dan menghemat devisa negara.
Portofolio PGN apa saja?
Di upstream, melalui anak perusahaan, PGN memiliki kegiatan usaha di bidang hulu minyak dan gas bumi dengan enam wilayah kerja (WK) produksi dan lima WK eksplorasi.
Di midstream, PGN mengoperasikan pipa transmisi dan fasilitas regasifikasi LNG (FSRU dan landed based) yang mengubah liquefied natural gas (LNG) menjadi gas bumi dengan keandalan infrastruktur yang tinggi. PGN punya dua Floating Storage and Regassification Unit (FSRU), yakni FSRU Lampung dan FSRU Jawa Barat, serta satu fasilitas regasifikasi darat di Arun.
Di downstream, kami punya gas transport module (Gas Link), yaitu solusi untuk penyaluran gas bumi ke lokasi yang tidak terkoneksi dengan pipa gas. Kami juga punya mobile refueling unit (MRU), yaitu stasiun pengisian bahan bakar gas untuk sektor transportasi menggunakan teknologi CNG.
Di upstream dan midstream, kami punya pelanggan komersial, di mana efisiensi dan keandalan menjadi prioritas utama PGN dalam menyalurkan energi kepada pelanggan komersial. Kemudian kami punya SPBG. Melalui anak perusahan, PGN mengoperasikan 14 SPBG di 11 kota di Pulau Jawa dan Sumatra.
Di sektor komersial, kami punya pembangkit listrik berbahan bakar gas bumi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar minyak atau batu bara.
PGN memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui penggunaan bahan bakar dengan mendistribusikan gas bumi ke berbagai kawasan industri di Indonesia. Kemudian di sektor pelanggan rumah tangga, PGN telah menyalurkan gas ke pelanggan rumah tangga di 74 kota/kabupaten se-Indonesia.
Kami adalah pemain utama niaga gas dengan pangsa pasar 91%. Kami memiliki jaringan pipa sepanjang 13.458 km, terdiri atas pipa gas 12.853 km dan pipa minyak 605 km. Infastruktur gas PGN meliputi dua LNG FSRUs ditambah satu land-based regas terminal, serta 14 gas fueling stations, empat MRUs, dan dua LPG processing plant.
Pandangan Anda tentang energi fosil?
Gas masih menjadi energi transisi dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT). Target Net Zero Emission (NZE) itu kan tahun 2060, malah ada wacana mau dimajuin ke 2045.
Nah, kita kan kaya batu bara, kaya nikel, gas, minyak masih ada. Sebagai energi transisi, gas harus dimasifkan juga. Tapi kita masih butuh crude, butuh bahan bakar minyak (BBM), butuh batu bara.
Jadi, policy yang dikeluarkan government memang harus seimbang, jangan sampai orang jadi males produksi gas. Jangan sampai nanti dengan adanya keharusan menggunakan CCS atau CCUS, orang nggak mau nyari minyak, padahal BBM masih dibutuhkan tuh. Policy-policy itu harus di-combine bersama. ***
Biodata
Nama lengkap: Arief Setiawan Handoko.
Tempat lahir: Jakarta.
Pendidikan:
* 2002 – 2003: Sertifikasi Akuntan Publik - Universitas Indonesia (UI).
* 1999 – 2001: Master of Business Administration (MBA) - Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio, AS.
* 1992 – 1993: Advanced IT Audit & Practical Attachment - World University Service of Canada (WUSC), Calgary, Kanada.
* 1990 – 1990: IT Audit Course, Kuala Lumpur.
* 1986 – 1989: Sarjana Akuntansi – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta.
Karier:
* Penasihat Ahli PT Medco Energi Internasional Tbk.
* Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas.
* Sekretaris SKK Migas.
* Vice President of Supply Chain Management & General Services ConocoPhillips Indonesia.
* Senior Manager Audit & Ethics at ConocoPhillips Indonesia.
* Manager Audit on ConocoPhillips Indonesia.
* Manajer Audit Industri Perminyakan (eselon 3) BPK-RI.
* Analis Cost Recovery.
* Analis kredit bermasalah (NPL) industri perbankan BPK-RI
* Konsultan dan auditor industri penerbangan BPK-RI.
* Auditor industri telko.
* Auditor dan dosen audit IT.

