Dunia Kehilangan Arah: “Permanent Uncertainty” Bayangi Ekonomi Global
PENGANTAR - Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka bukan sekadar penanda perjalanan waktu, melainkan rekam jejak ketangguhan sebuah bangsa yang terus bertumbuh di tengah lanskap global yang dibayangi perlambatan ekonomi, fragmentasi perdagangan, rivalitas geopolitik, transisi energi, hingga disrupsi teknologi.
Untuk merekam pencapaian tersebut, Investortrust mempersembahkan edisi khusus berisi 17 artikel, sebagai ikhtiar mendokumentasikan capaian Indonesia pada momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami juga telah menerbitkan dalam format edisi Majalah cetak yang dibagikan kepada para tokoh penting yang menghadiri Pidato Kenegaraan di Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD pada 14 Agustus dan Upacara Peringatan HUT Kemerdekan di Istana pada 17 Agustus 2026.
Semoga edisi khusus 81 Tahun Merdeka ini yang disajikan berseri ini sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa perjalanan menuju masa depan adalah proses yang menuntut konsistensi, kolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan strategis.
Oleh: Komang Darmawan
INVESTORTRUST - Dunia sedang memasuki masa transisi terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Jika selama lebih dari tiga dekade globalisasi menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi, kini arahnya justru ditentukan oleh konflik geopolitik, rivalitas kekuatan besar, perang dagang, keamanan energi, dan persaingan teknologi.
Politik kini menjadi variabel yang paling menentukan. Dalam hitungan menit, sebuah keputusan politik di Washington, Beijing, Moskow, atau Teheran dapat mengguncang harga minyak, menjatuhkan indeks saham, mengubah nilai tukar, hingga memaksa perusahaan multinasional memindahkan pabriknya ke negara lain.
Kondisi inilah yang oleh Dana Moneter Internasional (IMF) disebut sebagai "new era", sementara sejumlah ekonom menyebutnya sebagai era "permanent uncertainty" atau ketidakpastian permanen.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut sistem ekonomi global yang dibangun selama hampir delapan dekade sedang mengalami proses "reset". Aturan lama mulai kehilangan relevansi, sementara tatanan baru belum sepenuhnya terbentuk.
Pandangan serupa disampaikan OECD (Organization of Economic Co-operation and Development), Bank Dunia, World Economic Forum (WEF), hingga lembaga pemikir Chatham House. Semuanya mengerucut pada satu pola: fragmentasi geopolitik telah mengubah wajah globalisasi.
OECD menilai pertumbuhan ekonomi global melemah akibat tingginya ketidakpastian kebijakan, hambatan perdagangan, dan ketegangan geopolitik yang mengurangi investasi dunia. Senada, kepala ekonom Bank Dunia Indermit Gill menggarisbawahi bahwa pertumbuhan global akan melemah gara-gara kombinasi perang, gangguan energi, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik.
Globalisasi mengalami tantangan besar. Namun, menurut Neil Shearing, kepala ekonom Chatam House, dunia bukan mengalami deglobalisasi, melainkan “fraktur”. Ekonomi global terpecah menjadi blok-blok baru, sehingga volatilitas menjadi karakter permanen ekonomi dunia.
Alih-alih mengejar efisiensi, negara kini lebih mengutamakan keamanan nasional, ketahanan energi, perlindungan industri strategis, dan diversifikasi rantai pasok.
Trump Ubah Peta Perdagangan Dunia
Perubahan itu semakin cepat bergulir setelah Donald Trump kembali berkuasa di Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat ke-45 dan ke-47 itu terus mengobarkan dan menjalankan agenda "America First" yang mendorong proteksionisme ekonomi.
Washington menerapkan tarif impor baru terhadap puluhan negara yang memiliki surplus perdagangan dengan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari baja, aluminium, kendaraan, elektronik, hingga produk konsumsi.
Langkah itu memicu pertentangan dan gelombang negosiasi dagang baru. Yang bereaksi paling keras adalah China. Negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua terbesar dunia itu lebih mendorong hubungan dagang multilateral, daripada bilateral. Sebagian negara memilih melakukan pembalasan melalui tarif, sementara lainnya berupaya mencapai kesepakatan bilateral untuk menghindari kenaikan tarif.
Akibatnya, perusahaan global kembali merombak rantai pasok. Konsep "just in time" yang selama puluhan tahun menjadi fondasi globalisasi mulai digantikan oleh "just in case". Perusahaan tidak lagi hanya mengejar biaya produksi murah, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas politik, keamanan jalur perdagangan, dan risiko sanksi ekonomi.
Istilah seperti "friend-shoring", "de-risking", "near-shoring", hingga "economic security" kini menjadi bagian dari strategi utama pemerintah dan dunia usaha.
Ekonomi Dunia Melambat
OECD telah memangkas pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026. Pada skenario pertama, organisasi internasional berbasis di Prancis itu memproyeksikan, ekonomi dunia hanya tumbuh 2,8% di sepanjang 2026. Sementara itu, Bank Dunia, dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026, menyodorkan angka prediksi lebih rendah, yaitu 2,5%. Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, ekonomi global seakan kehilangan momentum.
Amerika Serikat, negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia, memang masih tumbuh, tetapi lajunya mulai melambat. Produksi industri AS hanya meningkat 0,1% secara bulanan pada Juni 2026. Secara tahunan, pertumbuhannya melambat menjadi 1,14%. Pertumbuhan ekonomi AS tahun 2025 sebesar 2,2%, lebih lambat dari tahun 2024 sebesar 2,8%.
China menghadapi tantangan yang lebih besar. Perekonomian negeri itu hanya tumbuh 4,3% pada kuartal II-2026, di bawah ekspektasi pasar sebesar 4,5%.
Investasi sektor properti terkontraksi 18%, memperlihatkan bahwa krisis properti masih menjadi hambatan utama pemulihan ekonomi. Padahal Amerika Serikat dan China bersama-sama menyumbang lebih dari 40% produk domestik bruto dunia.
Timur Tengah Jadi Episentrum Baru
Di tengah perlambatan ekonomi, konflik Timur Tengah kembali menjadi sumber guncangan global. Perang antara Amerika Serikat dan Iran membuat Selat Hormuz menjadi salah satu kawasan paling berisiko di dunia.
Padahal sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan lebih dari 25% perdagangan LNG global melewati jalur tersebut setiap hari. IMF memperkirakan konflik menyebabkan sekitar 13 juta barel produksi minyak dan gas per hari terganggu.
Harga minyak Brent sempat melonjak hingga US$118 per barel sebelum kembali turun setelah tercapainya gencatan senjata sementara. Harga gas alam Eropa bahkan melonjak sekitar 60%, melampaui kenaikan saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Gangguan juga meluas ke sektor pangan. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati kawasan Teluk. Negara-negara Teluk menyumbang lebih dari 40% ekspor sulfur dunia dan sekitar 20% ekspor amonia global. Gangguan distribusi pupuk meningkatkan risiko kenaikan harga pangan, terutama bagi negara berkembang yang sangat bergantung pada impor.
Ketidakpastian geopolitik kini tercermin langsung pada pasar keuangan. Volatilitas meningkat. Premi risiko obligasi pemerintah naik. Arus modal keluar dari negara berkembang semakin besar. Pada pekan ketiga Juli 2026, investor global menarik dana sekitar US$ 2,65 miliar dari pasar negara berkembang. Sebagian besar mata uang negara berkembang mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan investasi kini lebih dipengaruhi oleh persepsi risiko geopolitik dibanding indikator ekonomi tradisional.
Dalam laporan Regional Economic Outlook terbaru, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Afghanistan, dan Pakistan (MENAP) menjadi hanya 1,4% pada 2026.
Angka tersebut turun 2,3 poin persentase dibandingkan proyeksi sebelumnya dan menjadi salah satu revisi terdalam sejak krisis keuangan global 2008.
Direktur Departemen Timur Tengah dan Asia Tengah IMF, Jihad Azour, mengatakan perang telah menghapus momentum pemulihan yang sebelumnya mulai terbentuk.
Negara-negara eksportir minyak menghadapi gangguan produksi, sementara negara pengimpor energi harus menanggung lonjakan biaya impor dan tekanan fiskal.
Namun dampaknya tidak merata. Aljazair dan Libya memperoleh keuntungan dari kenaikan harga energi, sedangkan Mesir, Tunisia, dan Maroko menghadapi beban subsidi energi yang lebih besar.
Di sisi lain, kawasan Kaukasus dan Asia Tengah masih diperkirakan tumbuh sekitar 4,8% pada 2026, meskipun inflasi tetap tinggi di kisaran 8%.
Dunia Tanpa Arah
Yang sedang berlangsung saat ini bukan sekadar perang, perang dagang, atau perlambatan ekonomi.
Dunia sedang mengalami perubahan struktur kekuatan global. Sistem internasional yang selama puluhan tahun dipimpin Amerika Serikat kini bergeser menuju dunia multipolar yang diwarnai persaingan antara Amerika Serikat, China, Rusia, India, Uni Eropa, serta kekuatan-kekuatan regional di Timur Tengah.
Globalisasi tidak berhenti, tetapi berubah bentuk. Perdagangan tetap berlangsung, namun semakin dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan.
Investasi tetap mengalir, tetapi memilih negara yang dianggap stabil secara politik. Energi tidak lagi hanya menjadi komoditas ekonomi, melainkan instrumen diplomasi dan strategi geopolitik.
Dalam situasi seperti ini, IMF mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi menjadi sama pentingnya dengan pertumbuhan. Pemerintah dituntut memperkuat fondasi fiskal, menjaga stabilitas moneter, memperluas kerja sama regional, dan membangun rantai pasok yang lebih tangguh.
Karena tantangan terbesar saat ini bukan lagi menunggu dunia kembali normal. Normal yang lama telah berakhir.
Yang muncul adalah sebuah tatanan baru ketika geopolitik, ekonomi, keamanan, teknologi, dan energi saling terkait erat. Dalam dunia seperti itu, satu keputusan politik dapat mengubah arah perdagangan, mengguncang pasar keuangan, menaikkan harga minyak, bahkan menggeser prospek pertumbuhan ekonomi global hanya dalam hitungan jam.
Inilah wajah baru dunia. Suatu era ketika ketidakpastian bukan lagi gangguan sementara, melainkan menjadi kondisi permanen yang harus dihadapi oleh setiap negara, pelaku usaha, dan investor. ***

