Menjahit Rantai Emas Indonesia dari Tambang hingga Cadangan BI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - “Saya beli emas bukan karena mau cepat untung, tapi karena rasanya lebih aman punya sesuatu yang nilainya tidak gampang hilang.” Pengakuan itu datang dari seorang ibu rumah tangga bernama Ane saat dihubungi Investrtrust.id, Kamis (13/8/2026) yang rutin membeli emas batangan dalam pecahan kecil sebagai bagian dari cara menyimpan sebagian penghasilannya.
Ia tidak terlalu memikirkan pergerakan harga emas setiap hari. Yang penting, sebagian uang bisa dialihkan menjadi aset yang dapat disimpan dalam jangka panjang. Ketika membutuhkan dana, emas tersebut juga masih memiliki nilai untuk dijual kembali.
Di balik kebiasaan masyarakat membeli emas tersebut, ada cerita yang jauh lebih besar. Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton, tetapi emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru mencapai sekitar 87,1 ton pada 2026.
Kesenjangan tersebut membuka pertanyaan besar, jika masyarakat melihat emas sebagai aset untuk menjaga nilai kekayaan, mengapa porsi emas dalam cadangan negara masih relatif kecil?
Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menilai porsi emas dalam cadangan BI masih relatif kecil dibandingkan dengan kekayaan mineral yang dimiliki Indonesia. “Jadi pertanyaan kita kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?” kata Irwandy dalam MINDialogue di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Posisi tersebut membuat kepemilikan emas Indonesia di bank sentral masih jauh di bawah sejumlah negara dengan cadangan emas terbesar. Amerika Serikat (AS) memiliki sekitar 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton dan China sekitar 2.346,4 ton.
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia juga masih berada di bawah Thailand yang memiliki sekitar 234 ton dan Singapura sekitar 194 ton.
Namun, perbandingan tersebut tidak berarti Indonesia harus mengejar jumlah kepemilikan emas negara-negara besar tersebut. Setiap bank sentral memiliki struktur cadangan berbeda, bergantung pada kebutuhan perdagangan internasional, stabilitas nilai tukar, dan kebijakan moneternya.
Adapun Indonesia memiliki sumber emas di dalam negeri. Artinya, penambahan cadangan emas tidak selalu harus dilakukan dengan membeli emas dari pasar global.
Indonesia memiliki tambang emas, perusahaan pengolahan, fasilitas pemurnian hingga pasar konsumen yang besar. Rantai tersebut dapat menjadi sumber pasokan untuk memperkuat cadangan emas nasional.
Dolar Masih Menjadi Andalan
Selama ini, cadangan devisa Indonesia masih lebih banyak bertumpu pada aset valuta asing, terutama dolar AS. BI membutuhkan aset yang likuid karena cadangan devisa juga digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kebutuhan transaksi internasional. “Rupanya strategi Bank Indonesia itu mudah-mudahan saya nggak salah, lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Dolar,” ujar Irwandy.
BI mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026. Dengan asumsi kurs sekitar Rp 17.980 per dolar AS pada awal Juli, nilainya setara dengan sekitar Rp 2.618 triliun.
Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Irwandy melihat keterbatasan total cadangan devisa juga menjadi salah satu alasan ruang untuk meningkatkan kepemilikan emas masih terbatas. “Yang persoalan kedua kenapa cuma 80 ton, keterbatasan total cadangan devisa nasional. Kita memang belum besar juga cadangan devisa nasionalnya,” kata dia.
Namun, peta cadangan bank sentral dunia mulai berubah. Sejumlah bank sentral meningkatkan kepemilikan emas dalam beberapa tahun terakhir. China, Rusia, India, Turki dan Polandia termasuk negara yang aktif memperbesar cadangan emasnya.
Perubahan tersebut terjadi ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dan sejumlah negara berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar atau melakukan diversifikasi aset. “Indonesia belum atau tidak mempunyai urgensi untuk melakukan diversifikasi dolar, padahal sekarang ini dedolarisasi sedang terjadi di dunia,” ujar Irwandy.
Produksi Emas Bisa Menjadi Sumber Cadangan Baru
Irwandy memberikan gambaran sederhana. Jika produksi emas Indonesia mencapai 100 ton per tahun, sebagian produksi tersebut dapat diserap oleh bank sentral. “Misalnya kalau kita produksi 100 ton ya, maka Bank Indonesia itu nambah 20 ton,” katanya.
Gagasan tersebut tidak berarti BI harus membeli seluruh produksi emas nasional. Penyerapan dapat dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan cadangan, dan harga emas.
Namun, jika sebagian produksi domestik dapat masuk ke cadangan moneter, Indonesia akan memiliki mekanisme yang menghubungkan kekayaan alam dengan kekuatan neraca nasional.
Rantai tersebut dimulai dari tambang. Emas kemudian masuk ke fasilitas pemurnian, diperdagangkan melalui jalur resmi, menjadi bagian dari pasar investasi dan pada tahap tertentu dapat masuk ke dalam sistem cadangan moneter. Dengan cara itu, nilai emas tidak berhenti ketika hasil tambang keluar dari tanah. Nilainya dapat terus berputar di dalam negeri.
Deputi Bidang ESDM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan penguatan ekosistem emas nasional tidak cukup hanya dengan menambah cadangan emas bank sentral. Indonesia juga perlu membangun rantai emas dari produksi, penelusuran asal emas, pemurnian, perdagangan hingga layanan keuangan berbasis emas.
“Kalau nanti ditambah lagi dengan penguatan cadangan devisa emasnya BI semakin baik semakin besar, maka kita ketika ada guncangan dinamika global, guncangan ekonomi, kita punya stabilizer namanya emas selain cadangan devisa tadi,” kata Elen.
MIND ID Sudah Memiliki Modal dari Hulu
Indonesia sebenarnya tidak memulai dari nol. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, perusahaan pertambangan dan pengolahan mineral yang merupakan bagian Grup MIND ID, telah memiliki fasilitas pemurnian emas. Antam juga memasarkan emas batangan kepada masyarakat sehingga memiliki hubungan langsung dengan pasar emas ritel.
PT Freeport Indonesia juga telah mengoperasikan Smelter Manyar di Gresik. Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari proses pengolahan konsentrat tembaga yang menghasilkan produk samping berupa emas.
Di sektor swasta, PT Amman Mineral Internasional Tbk juga memiliki fasilitas pengolahan dan pemurnian yang menghasilkan emas.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun Rp 30.000 Jadi Rp 2,68 Juta per Gram
Emas yang ditambang di dalam negeri idealnya tidak berhenti sebagai komoditas yang dijual. Sebagian dapat dimurnikan di dalam negeri, masuk ke pasar investasi, digunakan dalam industri, menjadi bagian dari layanan keuangan berbasis emas atau, jika memenuhi kebutuhan dan kebijakan yang ditetapkan, masuk sebagai cadangan moneter.
Pada sisi produksi, sejumlah perusahaan tambang juga menopang pasokan emas nasional. PT J Resources Asia Pasifik Tbk memiliki produksi sekitar 2,4-2,7 ton per tahun, PT Merdeka Copper Gold Tbk sekitar 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk sekitar 2,6 ton, PT Agincourt Resources sekitar 5,9-6,8 ton dan PT Bumi Resources Minerals Tbk sekitar 2,2 ton per tahun.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno sebelumnya menyebut produksi emas Indonesia berada di kisaran 100 ton per tahun.
Besarnya cadangan emas di bawah tanah tidak otomatis membuat sistem emas Indonesia kuat. Ada jarak antara cadangan geologi, produksi tambang, kemampuan pemurnian, dan cadangan moneter. Penguatan sektor hulu harus berjalan bersamaan dengan pengembangan pasar.
World Gold Council mencatat bank sentral dunia telah meningkatkan akumulasi emas dalam beberapa tahun terakhir. Tren tersebut menunjukkan bahwa emas kembali mendapatkan tempat penting dalam strategi pengelolaan cadangan setelah dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, perubahan pola perdagangan dan risiko keuangan global.
Situasi di Indonesia semakin menarik karena negara ini memiliki sumber emas yang besar di dalam negeri. Cadangan sekitar 3.600 ton memberikan modal geologis. Produksi sekitar 100 ton per tahun memberikan aliran pasokan. Fasilitas pemurnian memberikan kemampuan pengolahan. Pasar emas masyarakat memberikan basis permintaan. Sementara pengembangan bullion membuka jalur menuju sistem keuangan.
Baca Juga
Indonesia Punya Cadangan Emas 3.600 Ton, Cadangan BI Baru 87,1 Ton
Tinggal bagaimana semua bagian tersebut disambungkan.
Bank Indonesia dapat menentukan seberapa besar emas yang dibutuhkan dalam struktur cadangan moneter. Pemerintah dapat memperkuat tata kelola pertambangan dan perdagangan. MIND ID serta perusahaan tambang dapat memastikan pasokan dan pemurnian. Industri keuangan dapat menyediakan layanan penyimpanan, pembiayaan dan investasi berbasis emas.
Jika rantai tersebut semakin terhubung, emas Indonesia memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang dari sekadar keluar dari perut bumi. Sebab, cadangan emas yang kuat bukan untuk menunggu krisis datang, melainkan untuk memastikan Indonesia memiliki lapisan perlindungan ketika badai ekonomi dan geopolitik benar-benar tiba.

