Jadi Pelopor ESG, Cara BRI Membangun Negeri Sekaligus Menyelamatkan Bumi
Reporter: Bagus Kasanjanu (investortrust.id)
JAKARTA, investortrust.id – Krisis iklim yang melanda dunia tampak begitu nyata dan berpotensi menghancurkan. Indikasi itu terlihat dari meningkatnya suhu bumi yang memicu degradasi lingkungan, bencana alam, sampai masalah cuaca ekstrem.
Akumulasi berbagai persoalan karena kenaikan suhu bumi memicu kerawanan pangan serta ancaman krisis ekonomi. Dunia meresponsnya melalui komitmen pengendalian iklim. Komitmen dunia dituangkan dalam Paris Agreement, yang ditandatangani pada 22 April 2016 di New York, Amerika Serikat.
Indonesia yang turut menandatangani kesepakatan penting ini, kemudian meratifikasinya melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016. Indonesia bertekad menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 31,89% pada tahun 2030 dengan pendanaan sendiri. Jika ada dukungan pendanaan internasional, Indonesia menetapkan target penurunan GRK sebesar 43,20%. Sedangkan target net zero emission (NZE) ditetapkan tahun 2060.
Pemerintah kemudian menggulirkan berbagai regulasi terkait bisnis berkelanjutan melalui penerapan environmental, social, and governance (ESG). Di lingkup industri keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.
Kewajiban menyampaikan sustainability report (SR) yang berlaku sejak tahun 2019 perlahan mendorong korporasi menjalankan prinsip ESG. Fakta berbeda terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
Jauh sebelum kewajiban SR bergulir dan tanpa paksaan regulasi, BRI telah menyusun SR sejak tahun 2013. Selain pertimbangan rasional untuk keberlanjutan bisnis, BRI menerapkan ESG sebagai bentuk partisipasi aktif menjaga keberlanjutan lingkungan.
Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan, BRI hadir sebagai "First Mover Sustainable Banking" dengan tekad mengakselerasi implementasi ESG di lingkungan industri keuangan.
“Untuk mempercepat pemahaman masyarakat mengenai ESG, BRI menempuh strategi "Role Model" yang diimplementasikan melalui berbagai program berkelanjutan,” tegas Sunarso dalam satu kesempatan, kepada pers.
Division Head ESG BRI, Yosephine Ajeng Sekar Putih menegaskan, BRI telah menyusun SR jauh sebelum pemberlakuan Sustainable Development Goals (SDGs) secara global oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 2015. Langkah itu disusul implementasi ESG secara terencana.
“Kami sudah menyusun dan menerapkan (ESG) sejak 2013,” tutur dia dalam acara focus group discussion (FGD) bertajuk “ESG di Persimpangan Jalan" yang digelar investortrust.id di Jakarta, Jumat (24/11/2023). Tidak berlebihan jika BRI disebut sebagai pelopor ESG di Indonesia.
CEO Pimpin Implementasi ESG
Sebagai bukti keseriusan dalam menerapkan ESG, BRI membentuk Komite ESG yang langsung dipimpin oleh Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Direktur Utama BRI Sunarso. Tugas Komite ESG adalah menetapkan strategi, serta memonitor dan mengevaluasi implementasi strategi keberlanjutan di BRI.
BRI meyakini, perubahan di setiap institusi harus di mulai dari atas. Apalagi untuk sesuatu yang baru seperti implementasi ESG. Tanpa peran CEO, pelaksanaan ESG sulit membuahkan hasil. Karena musuh utama penerapan ESG adalah kebiasaan lama dan zona nyaman. Orang yang berada di zona nyaman sulit berubah!
“Di BRI, CEO langsung memimpin pelaksanaan ESG dan aspek pertama yang disentuh adalah “governance.” Urutannya bukan lagi ESG, melainkan GSE, yakni governance, social, and environmental,” papar Sekar.
Lebih lanjut dikatakan, dalam kenyataan, ketiga aspek ESG dijalankan simultan oleh BRI. Tapi, aspek governance mendapatkan penekanan yang sangat kuat. Semua perubahan harus berawal dari tata kelola yang baik. Perusahaan harus menunjukkan transparansi dan melakukan full disclosure, yakni mengungkapkan semua informasi penting yang dibutuhkan publik, tanpa ada yang disembunyikan.
Selain transparansi dan full disclosure, tata kelola yang baik mencakup pula tanggung jawab perusahaan, akuntabilitas, fairness atau kewajaran, dan independensi atau profesionalitas. Sebab disadari BRI, kepedulian terhadap bumi dan lingkungan sosial dan masyarakat adalah tanggung jawab perusahaan.
Selain Komite ESG, BRI membentuk unit kerja khusus (ESG Division) di bawah supervisi Direktur Kepatuhan, yang bertanggung jawab mengawal proses implementasi strategi keberlanjutan BRI.
Agar penerapan ESG berjalan terarah, BRI mengacu pada strategi keberlanjutan atau (roadmap) yang telah disusun Manajemen BRI. Targetnya mencapai target net zero emission (NZE) pada 2050, lebih cepat 10 tahun dari target pemerintah pada 2060.
Direktur Kepatuhan BRI Ahmad Solichin Lutfiyanto, dalam kesempatan berbeda mengatakan, NZE 2050 merupakan komitmen BRI untuk mendorong realisasi penyelenggaraan ekonomi karbon dan dekarbonisasi. Hal itu sejalan dengan Surat Edaran Nomor 6/2022 tentang Pelaksanaan Program Dekarbonisasi dan Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Untuk memastikan kredibilitas dan akuntabilitas dalam menyusun strategi keberlanjutan, BRI mempertimbangkan concern dari seluruh stakeholders, parameter ESG Rating, serta berbagai global standard yang berlaku,” kata Ahmad.
Adapun partisipasi program dekarbonisasi dan penyelenggaraan nilai ekonomi karbon (NEK) sendiri termasuk sebagai salah satu inisiatif pada dimensi environmental, yaitu carbon emission management.
Dikatakan Ahmad, sebagai langkah awal mempertahankan resiliensi terhadap perubahan iklim, BRI melakukan perhitungan emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan bisnis maupun operasional BRI, baik scope 1, scope 2, maupun scope 3.
Dia menambahkan, seluruh penghitungan emisi karbon BRI setiap tahunnya telah melalui tahap verifikasi oleh AA1000AS. Sementara itu, target penurunan emisi dan NZE dari BRI saat ini dalam proses validasi Science Based Target initiative (SBTi).
Sebagai upaya dekarbonisasi, lanjutnya, BRI telah mengimplementasikan berbagai inisiatif untuk menurunkan emisi yang mencakup ketiga scope tersebut. Untuk menurunkan emisi karbon pada scope 1, yaitu penggunaan bahan bakar minyak (BBM), BRI telah menggunakan kendaraan listrik sebagai kendaraan operasional.
Sementara upaya menurunkan emisi karbon pada scope 2, yaitu dalam hal penggunaan listrik, BRI memasang panel surya sebagai alternatif sumber daya listrik terbarukan. Selain meningkatkan efisiensi energi BRI juga mengurangi penggunaan kertas dan plastik pada lini operasi bisnis.
Untuk menurunkan emisi pada scope 3, yaitu kategori financed emission, atau emisi dari kegiatan pembiayaan dan investasi. BRI fokus melakukan dukungan secara finansial dan non-finansial kepada nasabah pinjaman yang berinvestasi pada sektor yang mampu menurunkan emisi karbon, sektor energi terbarukan, dan berbagai kegiatan ekonomi hijau lainnnya.
Dukungan pembiayaan juga diberikan pada kegiatan usaha yang tidak berkontribusi terhadap emisi karbon atau di luar perusahaan batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap pelumat batu bara. Sedangkan pada sektor kelapa sawit dan pulp & paper, BRI mewajibkan calon debitur memiliki sertifikat Indonesian Sustainabe Palm Oil (ISPO).
Hingga kuartal III-2023, total penyaluran kredit BRI mencapai Rp 1.250,72 triliun, tumbuh 12,53% year on year (yoy). Dari jumlah tersebut porsi kredit yang mengacu pada prinsip ESG mencapai 66% dari total kredit BRI senilai Rp 750,91 triliun, atau tumbuh 11,89% yoy.
Sedangkan dari sisi funding, BRI aktif menerbitkan surat utang bertema ESG, seperti green bond dan sustainability bond. Semua obligasi hijau yang diterbitkan BRI sangat diminati investor, termasuk investor global.
Paling anyar penerbitan green bond tahap II- 2023 mengalami oversubscribed 2,66 kali. Dari penawaran Rp 6 triliun, pemesanan obligasi hijau tersebut mencapai Rp 15,96 triliun. Sebelumnya pada tahun 2022, green bond BRI tahap I senilai Rp 5 triliun mengalami kelebihan permintaan 4,4 kali.
Pada tahun 2019, sebelum pandemi, sustainability bond BRI menarik minat investor hingga oversubscribed 8 kali. Penawaran hanya US$ 500 juta, sedang permintaan lebih dari US$ 4,1 miliar. Semua obligasi hijau yang diterbitkan bank umum yang pada 16 Desember tahun ini genap berusia 128 tahun mendapatkan rating tinggi dari lembaga pemeringkatan efek.
Pemberdayaan Masyarakat
Dalam merealisasikan prinsip ESG, BRI mengusung konsep 3P atau Pro People, Pro Planet, dan Pro Profit. Perseroan menyadari bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu faktor penting untuk menyebarkan lebih banyak capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) di Indonesia dan penerapan prinsip ESG di lingkungan Perseroan.
Salah satu program tersebut adalah program ‘’BRI Menanam’’ yang diluncurkan sejak Agustus 2022 sebagai program berkelanjutan yang dilakukan secara berkala.
Dengan target 1,75 juta bibit pohon pada akhir 2023, ‘’BRI Menanam’’ diestimasikan dapat menyerap 108.065 ton Co2 pada tahun ke-5 sejak program diluncurkan. Program ini tak hanya ditujukan untuk lingkungan namun juga mewujudkan kemandirian pangan dan dapat menjadi satu produk unggulan desa.
‘’BRI Menanam’’ juga terintegrsai dengan program ‘’Desa BRILian’’ merupakan program inkubasi yang bertujuan menghasilkan role model dalam pengembangan desa.
Program ‘’BRI Menanam’’ pada tahun 2022 tercatat berhasil menjangkau 2.196 desa dengan jumlah bibit pohon yang tersalurkan telah mencapai 680.848 bibit pohon. Sekitar 363.153 ribu bibit telah disalurkan untuk lahan desa dan 317.695 bibit untuk nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
Teranyar, program ‘’BRI Menanam’’ terealisasi pada tahun 2023 di dataran tinggi Karawang, Jawa Barat, Desa Mekarbuana dengan pemberian 2.000 bibit pohon durian untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan. Selain itu sebanyak 660 bibit pohon produktif juga dilakukan serentak di 6 Kalurahan Sleman dan Bantul.
Kepala Desa Mekarbuana, Karawang, Jawa Barat, Jaji Maryono menunjukkan pohon mangga yang ditanam pertengahan tahun 2023 bantuan dari BRI. Desa Mekarbuana menerima berbagai jenis bibit pohon produktif seperti durian, mangga, rambutan dan alpukat dari BRI. Desa Mekarbuana pada tahun 2021 masuk 15 besar nasional dalam program desa BRILian yang merupakan program pemberdayaan desa oleh BRI. Foto: Investortrust/Elsid Arendra
Selain ‘’BRI Menanam,’’ program pemberdayaan masyarakat lainnya dalam tanggung jawab sosial lingkungan BRI adalah program ‘’Bersih-Bersih Kali’’ dalam bentuk kegiatan normalisasi sungai, pembangunan sarana fisik, dan edukasi lingkungan sehat. Kegiatan ini juga diisi dengan pemberdayaan berupa pelatihan pengolahan sampah anorganik dan organik menjadi produk bernilai ekonomis.
Pada tahun 2022, program ini dijalankan di 10 kota terpilih. Pada tahap pertama, BRI Peduli "Bersih-bersih Kali" telah dilaksanakan di 18 wilayah di Indonesia termasuk di kota besar. Yang terkini, di tahun 2023 BRI menggelar program “Bersih- bersih kali” dan “Gerakan Anti Sampah Yok Kita Gas” di Kampung Bali Jakarta dan mengedukasi warga untuk dapat memilah sampah, baik organik dan unorganik di Jakarta.
Perseroan juga tak ketinggalan mengusung program ‘’BRI Peduli’’ memberikan bantuan berupa renovasi/ pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan pelatihan kepada kepada 18 kelompok pengelola sampah yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, serta dukungan fasilitas pengolahan sampah terpadu.
Berdampak Positif
Konsistensi BRI dalam meningkatkan implementasi ESG mendatangkan segudang dampak positif bagi BRI, terutama pada kinerja keuangan BRI yang tumbuh konsisten setiap tahun. Begitu pula dengan tingginya persepsi positif pelaku pasar terhadap saham BBRI di bursa saham.
Tercermin dari penguatan harga saham BBRI yang mencapai 56% dalam lima tahun terakhir, sedangkan secara year to date sejak awal 2023 hingga penutupan pasar saham Senin, (4/12/2023), saham BBRI tercatat menguat hampir 13% ke level Rp 5.500 per saham.
Diakui, saat ini investor pasar modal didominasi generasi muda, Gen Y dan Gen Z. Umumnya mereka punya preferensi kuat terhadap emiten yang menjalankan prinsp ESG dengan baik dan BRI merupakan salah satu yang dianggap punya concern serius terhadap isu ini.
"BRI bank pertama yang mengeluarkan Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD). Implementasi ESG memang bisa berdampak positif untuk perusahaan dan masyarakat. ESG juga menjadi bagian tak terpisahkan dari corporate strategy," urai Sekar.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2023, BRI mencatatkan kenaikan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 44,21 triliun, tumbuh 12,47% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 38,31 triliun. Sedangkan untuk bank only, BRI mencatat laba Rp 39 triliun, tumbuh 4,89% dari posisi yang sama tahun sebelumnya Rp 37,18 triliun.
Profitabilitas BRI diyakini terus tumbuh dan diyakini membukukan laba bersih Rp 55 triliun sebagaimana dikatakan Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara Public Expose Live, Kamis, (30/11/2023). Sedangkan pada tahun 2024, Sunarso memproyeksikan laba BRI bisa tembus Rp 60 triliun.
Optimisme terhadap kinerja BRI masa datang juga diungkap Analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabarat. Keyakinan tersebut seiring pesatnya pertumbuhan kredit perseroan.
“Perseroan menunjukkan tingkat pertumbuhan kredit yang terus menguat dari bulan ke bulan yang diharapkan menopang pertumbuhan laba bersih sampai akhir tahun. Dengan pertumbuhan tersebut pendapatan bunga bersih diprediksi akan meningkat dari bulan ke bulan,” tulis Analis Mandiri Sekuritas dikutip dari riset yang diterbitkan belum lama ini.
Untuk itu Tim Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.700. Target tersebut memperkirakan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 59,07 triliun sampai akhir tahun 2023.
Berderet Penghargaan
Kepemimpinan BRI menerapkan bisnis yang mengacu pada ESG di Indonesia tidak hanya harum di dalam negeri. Dunia pun mengakui kerja keras BRI dalam menerapkan bisnis berkelanjutan barbasis ESG dengan memberikan apresiasi berderet penghargaan.
Khusus tahun ini, BRI tercatat menyabet dua penghargaan bergengsi dalam ajang The Asset Triple A Country Awards 2022 For Sustainable Finance yang diselenggarakan di Hong Kong pada 23 Februari 2023. Masing-masing sebagai "The Best Issuer for Sustainable Finance" dan "Best Sustainability Linked Loan."
Lanjut pada bulan Juli 2023, BRI menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang meraih penghargaan Sustainable Finance Awards 2023 dari Global Finance.
Sebagai catatan, Global Finance merupakan majalah keuangan yang bermarkas di New York, Amerika Serikat dan telah berdiri selama 36 tahun. Metode penilaian penghargaan tersebut berdasarkan submission serta dilengkapi dengan riset yang mendalam.
Dari dalam negeri, BRI menyabet penghargaan ESG Award yang diselenggarakan Yayasan Kehati pada Juli 2023, karena dinilai punya komitmen tinggi terhadap keuangan berkelanjutan.
Paling baru, BRI dianugerah predikat Leadership AAA (kategori tertinggi) di ajang ESG Transparency and Disclosure Awards 2023. Penghargaan ini diselenggarakan oleh Bumi Global Karbon (BGK) Foundation bekerja sama dengan investortrust.id, pada 29 November 2023.
Penilaian dilakukan BGK Foundation menggunakan metodologi 33 faktor ESG berdasarkan faktor ESG pasar modal terkemuka, studi peraturan, perjanjian internasional, serta standar dan pedoman pelaporan yang juga telah melalui proses assurance oleh pihak ketiga independen.
Sementara evaluasi terhadap pengungkapan ESG dilakukan untuk mengukur sejauh mana transparansi ESG telah dicapai perusahaan dan langkah apa yang dapat dipraktikkan untuk meningkatkan pencapaian pengungkapan ESG.
Segudang manfaat yang diperoleh BRI dikatakan Sekar, memotivasi BRI untuk terus meningkatkan kualitas implementasi ESG. Untuk itu evaluasi terus dilakukan dan dipantau, salah satunya mengacu para ESG Rating.
Paling anyar BRI mendapat pengakuan dari lembaga pemeringkat Sustainalytics berupa penurunan penilaian tingkat risiko dalam ESG Risk Rating di angka 18,8. Skor yang diraih BRI tersebut merupakan yang terbaik di kategori industri perbankan di Indonesia.
Sebagai catatan skor ESG Risk Rating menjadi acuan para investor global dalam melakukan analisa terkait potensi investasinya di masa yang akan datang.

