Serius Bikin “Financial Planning” Biar Tua Gak Pusing
Oleh Lona Olavia
INVESTORTRUST.ID -- “Gaji baru cair, langsung habis buat ngopi tiap hari, jajan online, nongkrong dan ikut tren kekinian. Padahal umur masih muda, kalau begini terus masa depan mau gigit jari?”
Gaya hidup konsumtif yang membuat boros di kalangan anak muda khususnya generasi Z semakin meningkat seiring maraknya tren di media sosial. Banyak anak muda kini lebih fokus mengikuti gaya hidup dan tren dibandingkan membangun kebiasaan menabung atau mengelola keuangan secara bijak.
Padahal, edukasi keuangan sejak dini adalah investasi jangka panjang yang berharga. Banyak dari kita tumbuh tanpa pemahaman dasar tentang cara mengelola uang. Akibatnya, saat dewasa, kita belajar keuangan dengan cara yang sulit, tabungan minim, dan utang yang menumpuk.
Jangan terlambat. Oleh karena itu, penting bagi Generasi Emas Indonesia untuk diajarkan tentang menabung, memahami kebutuhan versus keinginan, pentingnya berbagi, berasuransi, dan berinvestasi, hingga menunda kesenangan untuk tujuan yang lebih besar.Supaya mereka akan tumbuh jadi pribadi yang bijak secara finansial, siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Apalagi perlu diingat, edukasi keuangan bukan hanya soal angka, tapi soal membentuk mindset dan kebiasaan mengelola keuangan. Edukasi keuangan sejak dini bukan berarti membebani anak, tapi membekali mereka dengan pengetahuan yang akan melindungi mereka di masa depan.
Source: DataTrust
Empat Fundamental
Lantas bagaimana menempuh perjalanan hijrah finansial? Mulailah sekarang juga, pelajari dengan benar strategi investasi yang tepat, ikuti berbagai konten dari sumber terpercaya tentang merencanakan keuangan (financial planning) masa depan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan, perlu dipahami dalam investasi tidak ada kondisi one fit for all. Artinya, investasi setiap orang akan berbeda, tergantung kondisi latar belakang dan kebutuhan masing-masing. “Instrumen investasi A belum tentu cocok untuk Anda atau sebaliknya,” ujarnya.
Source:
Untuk mengetahui investasi apa yang sebenarnya pas dan dibutuhkan diri sendiri, Frederica yang akrab disapa Kiki ini menjelaskan empat hal fundamental yang dapat menjadi landasan.
Pertama, mengetahui tujuan berinvestasi. Untuk apa investasi dilakukan? Apakah akan memerlukan waktu yang panjang atau pendek? Seberapa banyak perkiraan dana yang dibutuhkan? Menentukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan investasi yang diperlukan selanjutnya.
Kedua, pilih produk investasi sesuai profil risiko. Saat ini sudah ada banyak cara untuk berinvestasi, mulai dari reksa dana melalui fintech, membeli emas secara offline dan online dan banyak lainnya. Pilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan sebelumnya dan profil risiko diri.
Source: DataTrust
Lantas apa itu profil risiko? Profil risiko ini adalah gambaran tingkat kenyamanan dan kemampuan seseorang untuk menanggung risiko kerugian investasi. Dalam investasi biasanya dikenal tiga profil risiko yaitu konservatif, moderat dan agresif. Ketiga profil risiko ini membantu kita mengenali instrumen invetasi yang cocok.
Misalnya kita merasa instrumen saham paling cocok untuk mencapai tujuan keuangan kita. Namun secara sikap, kita masih sangat khawatir apabila perlu menanggung risiko kehilangan aset yang besar dalam saham (profil risiko konservatif). Maka instrumen investasi dapat kita sesuaikan semisal diganti ke investasi reksa dana saham dan/atau emas yang secara risiko lebih rendah dibandingkan investasi saham secara langsung.
Ketiga, diversifikasi produk investasi. Ketika sudah mulai rutin berinvestasi, mulai biasakan untuk melakukan diversifikasi produk ke beberapa instrumen/lembaga investasi untuk meminimalisasi risiko kerugian serta memungkinkan adanya peningkatan keuntungan yang lebih maksimal.
Kempat, memahami produk keuangan sebelum berinvestasi. Gen Z sebaiknya mempelajari terlebih dahulu karakteristik produk investasi, misalnya risiko, imbal hasil, likuiditas dan lain-lain sebelum berinvestasi sehingga Gen Z tidak mudah tergiur dengan imbal hasil tanpa memahami risikonya.
“Reminder juga kepada para Gen Z dalam berinvestasi usahakan untuk selalu menggunakan uang dingin. Jangan gunakan uang kuliah, uang biaya bulanan, apalagi uang pinjol. Menggunakan uang panas dalam investasi pada akhirnya bukan membantu teman-teman meningkatkan aset, tetapi malah membahayakan kondisi keuangan pribadi,” pesan Kiki.
Source: DataTrust
Boleh FOMO, Tapi...
OJK juga mengingatkan agar generasi Z tidak terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO) dan you only live once (YOLO) saat mengambil keputusan finansial. Fenomena tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab banyak anak muda berinvestasi tanpa pemahaman risiko yang memadai.
Menurut Kiki, tren investasi digital yang semakin mudah diakses justru harus diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan. Banyak investor muda yang tergoda ikut-ikutan membeli saham, kripto, atau aset viral lainnya tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial dan tujuan jangka panjang.
“Sebagai makhluk sosial, wajar jika kita merasakan FOMO atau takut ketinggalan, juga FOPO (Fear of Other People’s Opinion) atau prinsip YOLO. Tapi jika tidak dikendalikan, hal itu bisa membuat keputusan keuangan jadi impulsif dan berisiko,” ujarnya.
Kiki menegaskan, investasi yang bijak bukan sekadar mengikuti tren, melainkan memahami profil risiko, tujuan keuangan, serta kemampuan diri. Masyarakat, khususnya generasi muda, diimbau untuk memulai dari instrumen rendah risiko seperti reksa dana pasar uang atau emas sebelum beralih ke instrumen yang lebih kompleks. Selain itu, penting untuk rutin mengevaluasi portofolio dan mengedepankan prinsip kehati-hatian agar investasi menjadi sarana membangun masa depan, bukan ajang pembuktian sosial.
Meski demikian, ia menilai bahwa fenomena FOMO, FOPO, dan YOLO juga bisa dimaknai secara positif jika diarahkan dengan benar. “Rasa takut ketinggalan bisa menjadi motivasi untuk mulai belajar investasi lebih awal, FOPO bisa menjadi dorongan mencari pengetahuan sebelum menaruh uang, dan semangat YOLO bisa diubah menjadi gaya hidup keuangan yang sehat,” ujar Kiki.
Untuk itu, ia mendorong Gen Z untuk menerapkan prinsip “enjoy life responsibly” menikmati hidup masa kini tanpa melupakan tanggung jawab finansial di masa depan. Sebab, dengan mengelola keuangan secara cerdas, generasi muda diharapkan tidak hanya mengikuti tren investasi, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi dan ketahanan finansial jangka panjang.
Gap Inklusi dan Literasi
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Gen Z memiliki tingkat inklusi yang cukup tinggi dalam pencapaian jumlah investor pasar modal. Hingga Agustus 2025 jumlah investor pasar modal telah mencapai 18 juta investor di mana sebanyak 7,56 juta diantaranya adalah investor saham yang setengahnya didominasi oleh investor muda di bawah 30 tahun.
Namun, tingginya inklusi tersebut sayangnya tidak dibersamai dengan literasi yang memadai. Dalam SNLIK 2025 menurut kelompok umur, indeks literasi keuangan umur 18-25 tahun berada di tingkat 73,22% (keberlanjutan) sedangkan indeks inklusi keuangan telah mencapai 89,96% (keberlanjutan).
Adanya gap antara inklusi dan literasi keuangan dapat menyebabkan risiko kejahatan keuangan yang semakin besar dikalangan Gen Z. Apalagi dalam sebuah riset, 4 dari 5 Gen Z telah menggunakan layanan keuangan digital.
“Namun apabila tidak diimbangi dengan literasi yang cukup, penggunaan produk dan layanan keuangan digital tersebut tersebut ke depannya dapat menjadi ancaman, bukan peluang,” imbuh Kiki.
Literasi Keuangan Kunci Utama
Sementara itu, perencana keuangan sekaligus Pendiri Aidil Akbar Madjid & Associates (AAMA) Aidil Akbar Madjid mengatakan bahwa literasi keuangan memiliki kaitan yang sangat erat dengan keberhasilan seseorang dalam membuat perencanaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Menurutnya, meski tingkat inklusi keuangan nasional terus meningkat, masih terdapat kesenjangan dengan tingkat literasi. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa memahami manfaat dan risikonya. “Ini membuat mereka rentan terhadap penipuan, salah beli produk, hingga kerugian finansial,” ujar penulis buku “Rich Game: Cara Kaya dengan Investasi” tersebut.
Peningkatan literasi merupakan langkah krusial untuk membangun masyarakat yang cerdas dan mandiri secara finansial. Karena itu, Aidil mengapresiasi langkah OJK yang gencar mengkampanyekan literasi dan inklusi keuangan. Dia juga menyambut positif terhadap OJK yang lebih peduli melindungi masyarakat dari potensi penipuan keuangan.
Aidil juga menyoroti pentingnya edukasi dalam penggunaan layanan pinjaman berbasis teknologi. Perencana keuangan memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat agar bijak menggunakan fasilitas pinjaman sesuai pedoman OJK. “Pinjaman seharusnya untuk tujuan produktif, bukan konsumtif,” katanya.
Melek Finansial Sejak Dini
Aidil menekankan bahwa kebiasaan mengelola keuangan harus ditanamkan sejak dini, termasuk dalam lingkungan keluarga. Ia mencontohkan pengalamannya mendidik anak untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sejak kecil.
“Saya biasakan anak saya menabung, memilih barang sesuai kebutuhan, dan tidak mengikuti tren hanya untuk pamer. Sekarang dia sudah mandiri dan bisa membiayai perjalanan ke luar negeri dengan tabungannya sendiri,” ungkap pendiri International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia itu.
Ia menilai, perilaku konsumtif dan gaya hidup hedonis menjadi tantangan utama generasi muda dalam menjaga kesehatan finansial. Karena itu, pendidikan finansial harus menjadi bagian dari pola asuh dan pembelajaran sejak anak-anak.
“Generasi muda harus belajar mengelola keuangan sejak dini. Jangan malas membaca atau mencari informasi. Semua ada di internet, tinggal mau atau tidak. Mulailah dari hal kecil menabung, membuka rekening investasi, atau membeli emas digital,” pesannya.
Aidil menambahkan, membangun kebiasaan finansial yang baik tidak bisa instan, tetapi dimulai dari disiplin, usaha, dan kemauan untuk belajar.
Senada Certified Financial Planner Joice Tauris Santi menilai, orang yang memiliki literasi keuangan dengan baik cenderung akan lebih berhasil dalam mengelola keuangan pribadinya. Anak muda, tambahnya juga perlu paham soal regulasi.
“Dengan paham peran OJK, akan paham juga kepada siapa akan bertanya dan mencari informasi valid. OJK sudah membuat saluran pertanyaan seputar investasi,“ kata pengarang buku finansial “Dunia Saham Tidak Seindah di Media Sosial“ tersebut.
Ia pun menyambut baik berbagai program OJK yang bisa mendukung generasi muda dalam membuat perencanaan keuangan yang aman dan terarah. „Tentu upaya ini baik. Di sisi lain, negara kita ini besar sekali. Tapi harus diingat upaya OJK saja tidak cukup, perlu dukungan dari berbagai pihak,“ imbuhnya.
Mantan jurnalis Kompas ini pun mengingatkan peran orang tua untuk memberikan edukasi keuangan sejak dini agar masyarakat tidak mudah tergiur investasi instan dan tetap fokus pada perencanaan jangka panjang.
Intinya, perencanaan keuangan merupakan salah satu upaya mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Masa depan yang gemilang harus direncanakan, bukan abai dan terseret arus. Salah satu jalan terbaik menuju sejahtera sejati adalah membuat perencanaan keuangan (financial planning).***

