Founder dan CEO DANA Vincent Henry Iswaratioso: Lebih Banyak Pemain Lebih Baik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Di tengah bonus demografi dan populasi yang sudah menyentuh 285 juta jiwa, Indonesia dinilai masih membutuhkan lebih banyak pemain teknologi finansial (fintech) agar layanan keuangan digital benar-benar menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini belum melek digital dan masih sangat bergantung pada uang tunai. Bagi Founder dan CEO DANA Vincent Henry Iswaratioso, lawan utama pelaku fintech bukanlah kompetitor sesama dompet digital, bukan pula perbankan atau multifinance, melainkan kebiasaan transaksi tunai yang masih mengakar luas, baik di kota-kota besar maupun di wilayah luar Jawa.
“Musuh utama kita itu bukan fintech lain. Bukan bank. Bukan multifinance. Musuh utamanya adalah cash,” kata Vincent dalam diskusi bersama para pemimpin redaksi media di Plataran, Hutan Kota, Kawasan GBK, Jakarta, Rabu (11/02/2026). Menurut Vincent, besarnya pasar Indonesia kerap disalahpahami. Jumlah penduduk yang masif tidak otomatis berarti inklusi sudah merata. Justru karena Indonesia sangat luas —bahkan ia menyebut bentang dari barat ke timur lebih lebar dibanding Amerika Serikat— maka penyedia layanan digital membutuhkan ekosistem yang lebih ramai, lebih kolaboratif, dan lebih agresif melakukan edukasi.
“Selama inklusi belum selesai, saya melihat persaingan itu bagus. Persaingan itu driving innovation. Persaingan juga mendorong edukasi ke masyarakatnya bareng-bareng,” ujarnya.
Inklusivitas Sebagai “DNA”
Vincent menegaskan, sejak awal berdiri, DANA membawa prinsip inklusivitas sebagai “DNA” perusahaan. Inklusif dalam pengertian ia tidak ingin layanan keuangan digital hanya dinikmati kelompok menengah-atas di kota besar, tetapi menyentuh pelaku usaha mikro dan ultra mikro, serta masyarakat di daerah yang baru masuk fase digital. “Oleh karena itu, DANA mendorong pertumbuhan yang inklusif, pertumbuhan yang menyentuh semua lapisan masyarakat, terutama mikro dan ultra mikro,” kata Vincent.
Ia menggambarkan ekosistem jasa keuangan Indonesia sebenarnya sudah lengkap: ada fintech, perbankan —baik bank umum maupun BPR— multifinance, dan asuransi. Namun ekosistem yang “sudah ada” belum tentu terorkestrasi dan bergerak seirama. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antarpelaku.
Di forum tersebut, ia bahkan menyinggung semangat gotong royong sebagai “bahasa” yang paling relevan untuk menggambarkan kolaborasi, sejalan dengan gagasan “Indonesia Incorporated” yang belakangan sering muncul dalam diskursus kebijakan. “Kita platform model. Kita kerja sama dengan bank, kerja sama dengan multifinance, kerja sama dengan asuransi, kerja sama dengan manajer investasi. Reksadana kami kerja sama juga dengan asset manager. Kita ingin semua kerja sama,” ujarnya.
“Layer” Transaksi Harian
Salah satu penekanan Vincent adalah posisi dompet digital yang berbeda dari bank. Ia menilai, konsep dompet digital bukan untuk menggantikan bank, melainkan menjadi “layer” transaksi kebutuhan sehari-hari: membayar, berbelanja, transfer kecil, dan aktivitas rutin yang membutuhkan kecepatan serta kenyamanan tanpa harus langsung terekspos ke rekening utama. “Digital itu layer untuk pembayaran kebutuhan sehari-hari. Pengguna bisa budgeting, ada layer separation antara rekening untuk transaksi harian dan rekening utama,” katanya.
Dengan pemisahan ini, dompet digital berfungsi sebagai pengaman tambahan. Menurut dia, rekening bank tetap menjadi “rumah” dana utama yang konservatif, stabil, dan sangat teregulasi, sementara dompet digital bergerak pada inovasi: mengembangkan fitur baru, meningkatkan pengalaman pengguna, dan mempercepat onboarding masyarakat yang belum tersentuh layanan formal.
“Bank itu high regulated. Kita ingin bank lebih konservatif. Kalau uang besar, taruh di bank karena aman. Kita inovatif, harus cepat. Jadi yang jaga uang besar itu bank. Inovasi dan layanan cepat itu kami,” ujarnya.
Pentingnya “Trust” Antarnegara
Vincent juga membawa konteks diskusi global yang ia ikuti, termasuk pembicaraan tentang artificial intelligence (AI) di Davos yang menurutnya makin menempatkan data governance, keamanan, serta resiliensi sektor keuangan sebagai agenda utama. Di banyak negara, ia menyebut ada praktik-praktik baik tentang pemanfaatan data yang aman —misalnya konsep “unified data” dengan penguatan data warehouse— agar negara bisa mengambil keputusan berbasis data tanpa mengorbankan keamanan informasi.
Ia menilai, diskusi seperti itu relevan bagi Indonesia karena tantangan digital tidak hanya soal adopsi teknologi, tetapi juga kepercayaan publik: trust pengguna kepada platform, trust masyarakat kepada sistem keuangan, hingga trust antarnegara dalam kerja sama investasi dan teknologi.
“Kepercayaan terhadap penduduk, kepercayaan terhadap society, kadang juga antarnegara itu makin penting. Kalau ketidakpercayaan makin besar, akhirnya jadi eksklusivitas. Padahal yang kita ingin adopsi itu inklusivitas,” ujarnya.
Dalam pandangannya, partisipasi Indonesia di forum global penting untuk menunjukkan potensi investasi Indonesia, sekaligus membangun persepsi bahwa ekosistem digital Indonesia tumbuh, matang, dan punya fundamental kuat: mulai dari penetrasi teknologi, pertumbuhan startup, hingga besarnya bonus demografi. “Kita ingin sekali supaya investasi ke Indonesia bisa masuk. Potensi perkembangannya masih sangat bagus sekali, digitalisasi sukses, banyak startup besar, talent ada,” kata Vincent.
Ia mengaku berbagai pihak dari sejumlah negara mulai melirik peluang kolaborasi dengan Indonesia. Ada yang ingin menjajaki kerja sama dari Eropa, Amerika, hingga kawasan Timur Tengah. “Mereka sekarang melihat, ‘Oh, Indonesia bagus juga ya’,” ujarnya.
Dari Informal ke Formal
Salah satu dampak strategis digitalisasi yang berulang ia tekankan adalah kemampuan sistem pembayaran digital mengubah aktivitas ekonomi yang sebelumnya “tidak terlihat” menjadi “terlihat” dan tercatat. Bagi Vincent, peralihan transaksi tunai ke transaksi digital bukan sekadar perubahan cara bayar, tetapi perubahan struktural yang memperluas ekonomi formal, memperbaiki kualitas pencatatan, dan memperbesar ruang kebijakan.
“Kita bisa tarik yang informal jadi formal. Yang tidak kelihatan jadi kelihatan. Yang tadinya enggak termasuk pencatatan, sekarang bisa tercatat,” ujarnya.
Dalam konteks ini, ia juga menyinggung pentingnya keseimbangan antara transparansi sistem dan perlindungan privasi individu. Menurutnya, transparansi pembayaran dan formalitas ekonomi harus tetap dibarengi perlindungan data konsumen yang kuat, termasuk implementasi aturan yang sudah ada.
“Transparansi itu membuat makin formal, tapi kerahasiaan data individu harus tetap terjaga kecuali ada hal-hal mencurigakan,” ujarnya.
Dorong Literasi
Vincent mengingatkan, literasi keuangan masyarakat tidak boleh berhenti pada akses pinjaman. Ia ingin ekosistem fintech ikut mendorong masyarakat belajar instrumen lain, termasuk proteksi. “Kita ingin masyarakat belajar instrumen-instrumen keuangan lainnya. Jangan hanya pinjam. Harus berproteksi,” ujarnya.
Ia memberi contoh kebutuhan proteksi di wilayah rawan bencana. Saat terjadi bencana, pemulihan ekonomi bisa memakan waktu, sementara pelaku usaha kecil hidup dari arus kas harian. Dalam situasi seperti ini, asuransi mikro yang terjangkau bisa menjadi bantalan agar pendapatan keluarga tetap terjaga. “Kita harus mikirin bagaimana konteks untuk income satu bulan itu bisa terjaga,” ujarnya.
Vincent juga menyinggung fase koreksi industri teknologi global yang membuat pendanaan tidak lagi semudah satu dekade lalu. Menurut dia, 10 tahun terakhir sempat terjadi era “uang investasi terlalu mudah”, sehingga tidak semua startup tumbuh dengan disiplin fundamental.
Baca Juga
Fintech Lending Terus Tumbuh dan Bukan Pesaing Bank, Ini Alasannya!
Kini, ketika regulasi semakin ketat dan investor semakin selektif, ia melihat itu sebagai proses pematangan. Ada perusahaan yang tidak siap dan akhirnya tidak berkelanjutan, tetapi di sisi lain, perusahaan yang bertahan akan lebih sehat dan lebih dipercaya.
“Kalau kita lihat, banyak startup yang tidak bisa sustain. Tapi jangan lihat negatifnya saja. Yang sustain itu akan makin sehat. Perusahaan kami sudah sehat, sudah sustainable. Dan itu menimbulkan kepercayaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam ekonomi digital yang semakin “mature”, regulator wajar makin menekankan resiliensi dan perlindungan konsumen. Bagi pelaku yang siap, penguatan aturan justru menjadi fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
“Kalau kita sudah mengarah perekonomian digital yang makin mature, kita harus menjaga resiliensi. Kita harus menjaga customer protection,” katanya.
Jejak Keberlanjutan
Dalam sesi lain, Vincent memaparkan upaya pengukuran keberlanjutan yang dilakukan perusahaan, termasuk membandingkan jejak emisi transaksi digital dengan metode berbasis kertas dan uang tunai. Ia menyebut, transaksi DANA memiliki jejak emisi karbon yang jauh lebih kecil dibandingkan uang kertas.
“Kita punya carbon dioxide per transaksi itu sekitar 0,14 gram. Kalau dibandingkan paper, ada yang 0,5 gram. Kalau dibandingkan uang kertas itu sekitar 2–4 gram,” ujarnya.
Ia menekankan, tantangan net zero di industri digital tetap ada karena sumber energi “nol emisi” belum sepenuhnya tersedia, termasuk untuk operasional data center. Namun perusahaan berupaya konsisten melakukan improvement setiap tahun sebagai bagian dari komitmen sustainability.
Tinggalkan “Cash”
Pada akhirnya, Vincent menutup pandangannya dengan tesis yang menjadi judul diskusi: lebih banyak pemain adalah kabar baik, selama persaingan berjalan sehat dan berorientasi pada penyelesaian masalah besar Indonesia—yakni memperkecil dominasi uang tunai dan memperluas inklusi.
“Selama inklusi belum selesai, persaingan itu bagus. Kita ingin kompetitor sukses juga. Kenapa? Karena masyarakat Indonesia besar, dan yang kita kejar itu cash semakin kecil, transaksi digital semakin besar,” ujarnya.
Bagi DANA, semakin ramai pelaku yang sehat, semakin kuat pula edukasi, inovasi, dan kepercayaan publik, tiga prasyarat agar transformasi ekonomi digital Indonesia benar-benar bergerak dari jargon menjadi kenyataan.
DANA adalah platform dompet digital yang beroperasi di bawah PT Espay Debit Indonesia Koe dan menawarkan layanan pembayaran nontunai, transfer, pembayaran tagihan, serta pembelian berbagai kebutuhan digital. DANA juga menekankan aspek keamanan transaksi melalui fitur perlindungan dan standar keamanan.
DANA beroperasi dengan pendekatan kolaboratif dengan banyak institusi jasa keuangan, termasuk perbankan, BPR/BPD, multifinance, asuransi, dan manajer investasi sejalan dengan strategi perusahaan yang memposisikan diri sebagai “enabler” bagi ekosistem, bukan pengganti.

