Perbankan Tangkap Peluang dari Surplus Neraca Dagang, BWS Siap Ekspansi Trade Finance
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia kembali mencatat surplus neraca dagang yang kuat pada Agustus 2025 sebesar US$ 5,49 miliar, tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Surplus ini memperpanjang tren positif selama 64 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menandakan daya tahan ekspor nasional di tengah pelemahan ekonomi global.
Kinerja ekspor nonmigas menjadi pendorong utama surplus, sementara impor melemah. Sepanjang Januari–Agustus 2025, total surplus mencapai US$29,14 miliar, dengan sektor manufaktur dan komoditas sebagai kontributor utama. Surplus ini memperkuat posisi eksternal Indonesia dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa per September 2025 mencapai US$148,7 miliar, cukup untuk membiayai impor dan utang luar negeri lebih dari enam bulan. Di sisi lain, kebijakan moneter longgar dengan BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 4,75% memberikan ruang perbankan menyalurkan kredit dengan biaya dana rendah.
Momentum ini menjadi peluang besar bagi bank devisa untuk memperkuat bisnis perdagangan internasional. Salah satunya PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS), yang memiliki kapabilitas dalam layanan trade finance dan valas. Peningkatan aktivitas ekspor-impor berpotensi mendorong permintaan produk seperti letter of credit (L/C), SKBDN, pembiayaan ekspor-impor, hingga layanan remittance.
Analis Ajaib Sekuritas Rizal Rafly menilai, tren surplus berkelanjutan menjadi katalis positif bagi bank devisa. “Surplus perdagangan memberi pasokan valas stabil dan meningkatkan permintaan layanan trade finance. Bagi BWS, ini peluang besar menumbuhkan fee-based income di luar pendapatan bunga,” ujarnya.
BWS juga diuntungkan oleh dukungan jaringan Woori Group di luar negeri yang mempercepat proses advising dan confirming L/C lintas negara. Aktivitas remitansi pun berpotensi meningkat seiring masuknya devisa dari ekspor dan perdagangan luar negeri.
Baca Juga
Saat Ekonomi RI Bertumbuh 5,12%, BWS Fokuskan Kredit Segmen Industri Prospektif Ini
Rizal menambahkan, suku bunga yang mulai menurun memberi ruang bagi bank devisa menawarkan pembiayaan ekspor dengan bunga kompetitif. “Jika surplus berlanjut, likuiditas valas terjaga, dan risiko nilai tukar terkendali — itu kombinasi ideal bagi bank devisa untuk ekspansi,” katanya.
Namun, peningkatan transaksi lintas negara perlu diimbangi dengan penguatan sistem verifikasi dokumen, digitalisasi trade finance, dan kepatuhan anti-pencucian uang.
Secara keseluruhan, surplus neraca dagang 2025 menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional sekaligus membuka peluang baru bagi sektor perbankan. “Bagi BWS, momentum ini dapat menjadi pijakan strategis memperluas portofolio perdagangan internasional, memperkuat basis nasabah ekspor-UKM, dan meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi,” tutupnya.

