Israel Isyaratkan Perluas Serangan, Harga Minyak Menguat Terbatas
Harga minyak Kamis (2/5/2024) pagi ini terpantau bergerak terkoreksi naik didukung oleh sentimen dari potensi meluasnya konflik di Timur Tengah dan harapan akan pembelian minyak oleh AS untuk mengisi kembali cadangan stoknya. Meski demikian, laporan EIA serta keputusan The Fed membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Melihat dari sudut pandang teknis, menurut riset ICDX, Kamis (2/5/2024) harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 81 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 77 per barel.
Untuk informasi, konflik antara Israel dengan Hamas yang sedang berlangsung saat ini berpotensi kian meluas pasca Kepala Staf Militer Israel, Herzi Halevi, pada hari Rabu mengatakan bahwa operasi ofensif di Gaza akan berlanjut dan diperkuat. Komentar tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya wilayah konflik di Gaza saat ini.
Di sisi lain, tekanan pada pasar minyak yang mendorong harga minyak jatuh ke level US$ 79 per barel memicu harapan akan pembelian minyak oleh AS untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis (SPR) dalam waktu dekat. Sebelumnya pada awal April, Departemen Energi AS mengatakan akan membeli kembali minyak saat harga di level US$ 79 per barel atau kurang.
Baca Juga
Minyak Mentah Anjlok Lebih dari 3% ke Level Terendah dalam Tujuh Pekan
Sementara itu, dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik, Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS secara tak terduga melonjak naik sebesar 7,3 juta barel, di luar prediksi sebelumnya yang memperkirakan stok akan turun sebesar 2,3 juta barel. Untuk stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 344 ribu barel, di luar prediksi sebelumnya yang memperkirakan stok akan turun sebesar 1 juta barel. Laporan stok EIA tersebut mengindikasikan situasi permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS.
Masih dari AS, The Fed pada hari Rabu memutuskan untuk mempertahankan acuan sunga bunga AS tidak berubah di kisaran 5,25% - 5,50% dan mengisyaratkan potensi pengurangan bunga pinjaman. Namun inflasi yang mengecewakan baru-baru ini dapat menghambat potensi tersebut dalam waktu dekat.
Penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi AS, serta mengurangi permintaan sejumlah komoditi termasuk minyak.

