Rupiah Terpantau Melemah Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (14/10/2026). Rupiah melemah 0,1% ke Rp 17.918 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar juga terpantau terjadi pada yen Jepang, dolar Singapura, dan baht Tailan. Yen dan dolar Singapura melemah 0,02%. Sementara itu, baht Tailan melemah 0,06%.
Sementara itu, rupee India mengalami penguatan sebesar 0,52%, won Korea Selatan menguat 0,45%, dan ringgit Malaysia menguat 0,1%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun turun 2,9 bps ke level 5,21%, sementara yield UST tenor 2 tahun turun 1,0 bp ke level 4,79%.
Yield obligasi melemah seiring aksi posisi investor menjelang rilis data inflasi IHK (CPI) AS hari ini, meskipun yield jangka panjang tetap berada di level yang tinggi di tengah risiko inflasi, fiskal, dan harga energi yang persisten.
Indeks dolar AS atau DXY melemah 0,40% ke level 102,18 namun secara ytd masih menguat 3,92%, merosot dari level tertingginya dalam 18 bulan seiring melandainya yield US Treasury.
Pasar akan berfokus pada rilis IHK AS periode September 2026 malam ini, di mana inflasi headline diperkirakan akan berakselerasi ke kisaran 3,7% secara yoy sementara inflasi inti (core inflation) diperkirakan berada di kisaran 2,5% yoy, menjadikan rilis ini sebagai katalis utama bagi arah kebijakan The Fed pada akhir tahun
Ekspektasi terhadap The Fed terus mendukung skenario jeda pada bulan Oktober, di mana pasar memperkirakan probabilitas hanya sekitar 19% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps bulan ini, namun terdapat probabilitas 88% untuk kenaikan lanjutan pada bulan Desember.
Baca Juga
Para pejabat The Fed terus mengisyaratkan bahwa pengetatan lanjutan mungkin diperlukan, meskipun para pembuat kebijakan telah menekankan fleksibilitas terkait waktu seiring mereka menilai data inflasi dan pasar tenaga kerja yang masuk.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent turun 0,90% ke level US$ 105,7 per barel, seiring prospek tambahan pasokan solar dari Rusia dan peningkatan produksi OPEC+ yang memberikan sedikit kelegaan bagi pasar energi global.
Namun, eskalasi ketegangan antara Saudi dan Houthi serta risiko yang persisten pada jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz terus menopang premi risiko geopolitik yang signifikan.
