Rupiah dan Sejumlah Nilai Tukar di Asia Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (12/10/2026). Rupiah menguat 0,07% menjadi Rp 17.887 per dolar AS.
Selain rupiah, nilai tukar di sejumlah negara di Asia. Yen Jepang menguat 0,11%, rupee India menguat 0,05%, won Korea Selatan menguat 0,29%, dan ringgit Malaysia menguat 0,13%.
Sementara itu, dolar Singapura dan baht Tailan menguat. Dolar Singapura menguat 0,09% dan baht menguat 0,07%.
Pelemahan terjadi pada yuan China sebesar 0,02%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa imbal hasil US Treasury yang tinggi tetap memberikan dukungan mendasar bagi dolar AS.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap tinggi di 5,24%, sementara indeks DXY berada di level 102,2. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran inflasi yang masih berlanjut serta ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer).
Pasar masih cenderung memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Oktober, dengan probabilitas kenaikan suku bunga turun menjadi sekitar 17–18% setelah pertumbuhan tenaga kerja nonpertanian AS (nonfarm payrolls) pada September tercatat hanya 29 ribu, di bawah ekspektasi. Namun, kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun masih mungkin terjadi, bergantung pada data inflasi yang akan dirilis.
Baca Juga
POJK Stablecoin Terbit Januari 2027, Begini Kabar Terbaru dari OJK Termasuk Soal Rupiah Digital
Presiden AS Donald Trump mengindikasikan adanya kemajuan dalam negosiasi dengan Iran dan mengesampingkan kemungkinan serangan militer AS kembali dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November. Hal ini meredakan kekhawatiran jangka pendek terhadap eskalasi konflik lebih lanjut dan mendukung pemulihan pasar saham global.
Data inflasi AS menjadi fokus utama pasar pada pekan ini. Inflasi CPI September diperkirakan meningkat menjadi 3,6% secara tahunan (year on year/yoy) dari 3,4%, sedangkan inflasi inti CPI diproyeksikan naik menjadi 2,5% dari 2,4% pada 14 Oktober.
Indeks harga produsen (PPI) September diperkirakan meningkat 0,5% secara bulanan (month on month/mom) pada 15 Oktober.
Sementara itu, pertumbuhan penjualan ritel diperkirakan melambat menjadi 0,3% mom dan produksi industri diproyeksikan meningkat 0,3% mom pada 16 Oktober. Apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed dapat kembali menguat.
Harga minyak mentah Brent tetap tinggi di sekitar US$ 104 per barel, seiring ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Meskipun meredanya kekhawatiran mengenai eskalasi militer AS terhadap Iran dalam waktu dekat mendukung sentimen pasar, risiko pasokan dan gangguan di Teluk Meksiko masih mempertahankan harga minyak pada level tinggi serta memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global.
