Rupiah Menguat 0,08% ke Posisi Rp 17.900 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat sebesar 0,08% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah berada di posisi Rp 17.900 per dolar AS.
Selain rupiah, yuan China dan ringgit Malaysia juga menguat sebesar 0,07%, won Korea Selatan menguat 0,04%, dolar Singapura menguat 0,1%, dan bath Tailan menguat 0,19%.
Sementara itu, rupee India melemah 0,01% dan yen Jepang melemah 0,1% terhadap dolar AS.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa pasar saham AS ditutup bervariasi. Lonjakan harga minyak yang tajam kembali memicu kekhawatiran inflasi dan menekan selera risiko investor, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah US Treasury mengalami penurunan.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 5,7 basis poin (bps) menjadi 5,23%. sementara imbal hasil tenor 2 tahun turun 2,0 bps menjadi 4,75%. Penurunan tersebut sedikit meredakan tekanan terhadap aset berisiko global. Namun, imbal hasil tenor 10 tahun yang masih berada di atas 5% terus menandakan ketatnya kondisi keuangan global.
Indeks dolar AS (DXY) melemah 0,10% ke level 102,14, tetapi masih menguat 3,88% sepanjang tahun berjalan, karena penurunan imbal hasil US Treasury mengimbangi dukungan dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) lebih lanjut.
Kenaikan tenaga kerja AS pada September 2026 yang lebih rendah dari perkiraan, hanya sebesar 29.000, masih menjadi alasan bagi The Fed untuk berhati-hati dalam memperketat kebijakan moneter dalam waktu dekat. Pasar selanjutnya akan mencermati data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter hingga akhir tahun.
Baca Juga
Rupiah Perkasa Saat Mata Uang di Kawasan Asia Loyo Hadapi Dolar AS
Ekspektasi pasar terhadap The Fed masih mengarah pada penahanan suku bunga pada Oktober, sementara kemungkinan kenaikan suku bunga sekali lagi hingga akhir tahun semakin besar.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September menyoroti kekhawatiran terhadap inflasi yang masih persisten. Para pembuat kebijakan juga terus mengisyaratkan bahwa pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan, tetapi tidak harus dilakukan secara berturut-turut dalam setiap rapat.
Harga minyak mentah Brent melonjak 4,07% menjadi US$ 104,3 per barel, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas di Arab Saudi dan meningkatnya risiko eskalasi militer AS terhadap Iran. Harga minyak yang lebih tinggi tetap menjadi risiko kenaikan inflasi global dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.
