BSI (BRIS) Dorong Warga Pindahkan Emas dari Bawah Bantal ke Ekosistem Bullion, Potensi hingga 1.800 Ton
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) mendorong masyarakat untuk memindahkan simpanan emas yang selama ini disimpan secara pribadi atau ‘di bawah bantal’ ke dalam ekosistem bullion nasional.
VP Bullion Marketing Strategy BSI Kinanti Adelin mengungkapkan, langkah tersebut dapat memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat sistem keuangan formal berbasis emas di Indonesia.
“Masih terdapat 1.800 ton potensi emas di masyarakat yang sebenarnya bisa dimasukkan ke dalam ekosistem formal, ekosistem keuangan formal. Ini adalah ekosistem yang kita harapkan ya, ekosistem ideal yang kita harapkan terhadap ekosistem emas itu sendiri,” ujarnya, dalam Seminar Nasional bertajuk Penguatan Ekosistem Bullion Bank di Indonesia, yang digelar Investortrust, di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Kinanti menyebut, BSI bersama Pegadaian saat ini menjadi pelopor bank emas atau bullion bank di Indonesia. Sejak berdiri pada Februari 2025, pengelolaan emas atau gold under management BSI meningkat signifikan.
“Gold under management kita atau emas yang berada dalam pengelolaan BSI itu sejak tahun 2024 berada di 16 ton dan saat ini naik 40% di 23,10 ton,” katanya.
Baca Juga
Persaingan Bisnis Bullion Makin Ketat, BSI (BRIS) Fokus Garap Nasabah Internal
Sementara itu, volume perdagangan emas atau gold trading di BSI telah mencapai 4 ton dan hampir mencatatkan pertumbuhan 100% dibandingkan posisi akhir 2025. Saat ini, BSI telah mengantongi izin usaha bullion untuk layanan gold custody, gold trading, dan gold savings.
“Memang saat ini kami sedang dalam proses untuk gold financing,” ucap Kinanti.
Menurutnya, pengembangan bullion bank bertujuan memperluas akses investasi emas bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui produk BSI Tabungan Emas, masyarakat bisa membeli emas mulai dari Rp 50.000.
Di sisi bersamaan, lanjut Kinanti, jumlah nasabah tabungan emas saat ini telah mencapai 1 juta nasabah dengan total pengelolaan emas sebesar 2,8 ton. Bank berkode saham BRIS ini juga melihat minat investasi emas dari generasi muda terus meningkat.
“Kami sudah menyasar ke Gen Z. Dibandingkan tahun sebelumnya, karena kemudahan dalam berinvestasi, anak-anak muda saat ini sudah mulai untuk investasi. Sehingga terjadi kenaikan dari 24% menjadi 32% (porsi Gen Z terhadap seluruh nasabah BSI Emas) di 2025,” ujar Kinanti.
Baca Juga
Perkuat Ekosistem Halal Nasional, BSI (BRIS) Bidik Potensi Rp 5.000 Triliun
Risiko Utama Bisnis Bullion
Kinanti menyatakan, salah satu risiko utama dalam bisnis bullion adalah likuiditas. Namun, BSI memastikan mitigasi risiko dilakukan dengan memastikan seluruh emas nasabah tersedia secara fisik dan dimiliki bank sebelum dijual kepada nasabah.
“Mungkin kalau di emas sendiri itu ada risiko operasional dan risiko likuiditas. Memang risiko likuiditas ini sudah kita mitigasi, karena saat nasabah membeli emas, emas itu sudah dimiliki oleh pihak bank atau BSI,” katanya.
“Jadi sebelum dibeli oleh nasabah, emas itu sudah dimiliki oleh pihak bank sehingga simpanan nasabah itu dijamin satu banding satu dengan fisiknya,” sambung Kinanti.
Ia menyatakan, mekanisme tersebut juga telah sesuai dengan prinsip syariah dan berada dalam kerangka pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Untuk penetapan limit-nya kita juga disesuaikan, kita sudah memiliki stok manajemen yang cukup baik. Jadi ketika kita sesuai dengan prosedur kita, ketika stok itu menipis mungkin kita akan menurunkan limit pembelian dari masyarakat,” ucap Kinanti.

