Rupiah Tertekan, Airlangga Sebut Faktor Haji dan Dividen Picu Permintaan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah. Ini karena terdapat kebutuhan dolar AS yang naik jelang digelarnya ibadah haji.
“Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan [dolar AS] tersebut,” kata Airlangga, di kantornya, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Pada hari ini, Selasa (5/5/2026) rupiah mengalami apresiasi dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di posisi Rp 17.408 per US$ pada pukul 09.26 WIB.
Baca Juga
Menurut Airlangga, posisi rupiah yang melemah terhadap dolar AS juga dialami mata uang sejumlah negara.
“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar itu meningkat,” kata dia.
Selain memonitor kebutuhan dolar AS di dalam negeri, Airlangga menyebut pelemahan rupiah juga terjadi karena pembayaran dividen pada kuartal II 2026.
“Jadi demand terhadap dolar tinggi, dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” ujar dia.
Baca Juga
Rupiah Lunglai di Hadapan Dolar AS, Rupee dan Ringgit Menguat
Sebagai langkah antisipasi depresiasi yang dalam terhadap rupiah, Airlangga mengatakan pemerintah telah mempersiapkan kebijakan dengan Bank Indonesia (BI). Salah kebijakan yang akan ditempuh yaitu cross swap currency.
“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan cross swap currency dengan China, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” kata dia.
Dengan kebijakan ini, Airlangga berharap pemerintah dapat mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat utang dan surat berharga yang akan diterbitkan dalam redenominasi yen China maupun dolar AS.
Sebelumnya diberitakan, menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar guna memastikan mekanisme perdagangan berjalan dengan baik demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap selaras dengan nilai fundamentalnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa fluktuasi rupiah sejak awal eskalasi ketegangan di Timur Tengah hingga saat ini sebenarnya masih sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya.
Berdasarkan data perbandingan, Philippine Peso mengalami pelemahan sebesar 6,58%, diikuti Thailand Baht sebesar 5,04%, India Rupee 4,32%, Chile Peso 4,24%, Indonesia Rupiah 3,65%, serta Korea Won yang terdepresiasi sebesar 2,29%.
"Sebagai langkah mitigasi terhadap tekanan global yang terus berlanjut, Bank Indonesia secara konsisten mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing. Strategi ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," kata Erwin.

