Optimalisasi Modal, AI, dan ESG Disebut Jadi Prioritas Utama Bisnis di Indonesia dalam 5 Tahun ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Optimalisasi biaya modal, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta integrasi prinsip ESG (environmental, social, and governance) diperkirakan menjadi tiga prioritas utama pelaku bisnis di Indonesia dalam lima tahun ke depan. Hal ini terungkap dalam survei teranyar DBS Bank Ltd (Bank DBS) bertajuk ‘New Realities, New Possibilities’.
Survei yang melibatkan lebih dari 800 Chief Financial Officer (CFO) dan Corporate Treasurer dari tujuh sektor industri di 14 negara ini menyoroti bagaimana tren makroekonomi global, termasuk ketegangan geopolitik, inflasi, dan gangguan rantai pasok, yang mendorong para pemimpin bisnis memperkuat ketahanan finansial melalui inovasi teknologi dan efisiensi operasional.
Di Indonesia, sebanyak 80% responden menempatkan optimalisasi biaya modal sebagai agenda strategis utama. Langkah ini dipicu oleh pelemahan rupiah, tekanan perdagangan internasional, serta ketidakpastian suku bunga global.
Baca Juga
“Bank DBS Indonesia menyadari bahwa para CFO kini menghadapi tantangan yang lebih luas, lebih dari sekadar teknologi dan data, tetapi juga perlu memikirkan likuiditas dan valuta asing di tengah volatilitas global,” ujar Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin, dalam keterangan pers, Rabu (23/7/2025).
Survei juga mencatat lonjakan perhatian terhadap manajemen likuiditas dan valuta asing (FX) sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas keuangan. Setelah pengumuman tarif baru AS pada April lalu, fokus terhadap manajemen FX meningkat drastis, dari posisi ketujuh menjadi posisi kedua dalam daftar prioritas.
Sementara itu, pemanfaatan teknologi seperti Generative AI dan blockchain diidentifikasi sebagai penggerak utama efisiensi dan inovasi, dengan 83% responden global menyebutnya sebagai tren positif dalam mendukung transformasi digital dan resilien finansial.
Baca Juga
Dukung Ekspansi Bisnis Nasabah Kaya, DBS Indonesia Perkuat Layanan Private Banking
Dari sisi keberlanjutan, sebanyak 78% perusahaan di Indonesia kini menjadikan ESG sebagai agenda strategis, seiring meningkatnya regulasi pelaporan dan ekspektasi investor terhadap tanggung jawab sosial perusahaan.
“Di tengah ketidakpastian global dan disrupsi teknologi, para pemimpin bisnis harus mengelola risiko sambil tetap beradaptasi. Inovasi digital dan evaluasi kinerja adalah kunci untuk pertumbuhan, peningkatan, dan perluasan pasar,” kata Head of Global Transaction Services DBS Indonesia Dandy Indra Wardhana Pandi.
Lebih lanjut, DBS memperkenalkan Strategic Effectiveness Indicator (SEI) sebagai alat ukur efektivitas strategi organisasi. Di Indonesia, ESG mencatat skor SEI tertinggi (82%), disusul optimalisasi biaya modal (78%) dan aktivitas kebendaharaan (76%).
Survei ini juga menyarankan tiga strategi utama yang dapat diterapkan CFO dan treasurer Indonesia untuk menghadapi tantangan lima tahun ke depan, antara lain meningkatkan adopsi teknologi Generative AI dan otomatisasi cerdas, mengintegrasikan layanan konsultasi ESG dalam perencanaan keuangan, serta menyeimbangkan struktur pendanaan melalui diversifikasi sumber pembiayaan dan strategi ulang yang berkelanjutan.

