Menteri ESDM Beberkan Kebijakan Clean Cooking untuk Masyarakat
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menjadi pembicara kunci pada gelaran International Energy Agency (IEA) Summit: Global Summit on People-Centred Clean Energy Transitions.
Dalam kesempatan tersebut, Arifin Tasrif menyampaikan program dan kebijakan Pemerintah Indonesia dalam penyediaan energi bersih bagi masyarakat, yang salah satunya adalah transformasi menuju clean cooking, dari kayu bakar ke minyak tanah, kemudian LPG, hingga kini sampai ke kompor induksi.
“Kesuksesan implementasi transisi energi membutuhkan partisipasi aktif dari pemangku kepentingan, termasuk publik. Di Indonesia, people-centered clean energy transition dicapai melalui diseminasi informasi terkait manfaat energi transisi,” kata Arifin Tasrif dalam keterangannya, Minggu (28/4/2024).
Arifin Tasrif menerangkan, pada sektor rumah tangga, program konversi LPG ke kompor induksi akan mengurangi biaya memasak hingga 24% dan meningkatkan efisiensi mencapai 40%. Kompor induksi juga lebih praktis untuk dipindah-pindah.
Baca Juga
Menteri ESDM Buka Peluang Kolaborasi Percepat Transisi Energi kepada Dunia
Selanjutnya, pada sektor industri dan komersial, pengelolaan energi dan efisiensi peralatan yang digunakan akan bermanfaat untuk mengurangi sekitar 20% konsumsi energi.
Adapun pada sektor transportasi, konversi kendaraan bermesin pembakaran internal ke kendaraan listrik, akan menghemat biaya bahan bakar sekitar 50% serta mengurangi biaya pemeliharaan.
"Untuk mendukung percepatan implementasi program kendaraan listrik (electric vehicle/EV), Pemerintah Indonesia memberikan insentif, infrastruktur, dan pengembangan ekosistem," ujar dia.
Baca Juga
Menteri ESDM dan IEA Tanda Tangani Joint Work Program, Perkuat Transisi Energi
Arifin menyebut, pemerintah juga membuka peluang bagi masyarakat dalam transisi dari ekonomi berbasis fosil melalui pemanfaatan bekas lahan tambang menjadi sumber energi lain, seperti perkebunan biomassa atau lokasi PLTS, sehingga masyarakat terus mendapatkan manfaat dari bekas lahan tambang.
"Selain itu, Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menanam pohon mangrove yang memiliki kemampuan untuk menyerap karbon dalam jumlah besar, sampai 50 ton CO2 per hektare setiap tahunnya. Pasar karbon akan menciptakan peluang finansial bagi masyarakat, sembari mereduksi emisi," jelas Arifin.

