Jakarta Menuju Global City
WAJAH Jakarta sedikit berubah ketika mass rapid transit (MRT) mulai beroperasi April 2019. Jalan Sudirman tampak lega dengan trotoar yang lebar dan bersih. Taman hijau yang tertata rapi membuat jalan utama di Ibu Kota ini digandrungi masyarakat dan para pelancong. Di jalan ini, Jakarta terkesan menjadi kota yang bersih, manusiawi, dan berwibawa. Di jalan ini pula, Jakarta menampakkan diri sebagai global city.
Setiap pagi dan petang hingga malam, trotoar sepanjang Jl Sudirman dipadati warga Jakarta yang pergi dan pulang bekerja. Warga yang sebelumnya lebih memilih berdiam di rumah dan pergi ke mal mulai tergerak untuk berolah raga. Kehadiran MRT membawa peradaban baru. Warga menjadi lebih menghargai kebersihan dan peduli terhadap kesehatan. MRT memaksa warga untuk lebih disiplin.
Pada dasarnya, manusia membutuhkan ruang untuk bergerak. Begitu tersedia area luas untuk bergerak, tanpa diimbau, manusia akan berjalan dan berlari. Dalam menata kota, apalagi hendak menjadikan Jakarta sebagai kota global, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar pada pembangunan trotoar, taman kota, dan ruang terbuka. Berilah ruang kepada rakyat untuk bergerak dan berlari.
Penataan jalan, trotoar, dan taman mengangkat daya tarik sebuah kota. Ketika jalur MRT dari Lebak Bulus ke Bundaran HI, yang dibangun sejak Oktober 2013 silam, mulai memberikan dampak positif, gubernur DKI mendorong penataan trotoar di sejumlah ruas jalan di Jakarta. Ada penataan trotoar di sejumlah ruas jalan. Tapi, masih jauh lebih banyak ruas jalan yang belum tersentuh.
Yang paling menonjol adalah trotoar sepanjang Jl MT Haryono (3,5 km), Jl Gatot Subroto (7 km), dan S Parman (4,2 km) yang belum diperbaiki. Andaikan jalan dari Cawang hingga Grogol sepanjang 14,7 km sudah memiliki trotoar yang lebar 3-5 meter, wajah Jakarta akan semakin cantik. Untuk keperluan makan siang, orang tak perlu menggunakan mobil atau sepeda motor, melainkan cukup berjalan kaki.
Ada sejumlah trotoar di ruas jalan di Jakarta yang perlu mendapatkan prioritas perbaikan. Selain ruas Cawang-Grogol, ada ruas jalan dari Tanjung Priok hingga Depok, Ancol-Senen-Melayu hingga Cililitan, Menteng Atas-Pancoran-Kalibata-Pasar Minggu hingga Depok, Pondok Kopi-Melayu, hingga Pejompongan.
Jl Yos Sudarso, Jl Ahmad Yani, Jl DI Panjaitan, dan Jl Sutoyo sepanjang 18 km, antara Tanjung Priok hingga Cililitan, adalah ruas jalan terpanjang di Jakarta. Dari Cililitan hingga kota Bogor terbentang Jl Raya Bogor dengan panjang 45 km. Di jalan ini ada sejumlah lokasi penting, di antaranya Pasar Induk Kramat Jati dan Kopassus Cijantung.
Cililitan adalah sebuah meeting point besar. Di sini ada Terminal Bus, tempat transit penumpang dari Bogor, Tanjung Priok, Ancol, Senen, Melayu, Grogol, Bekasi, dan Tangerang. Dari Cililitan ada sejumlah ruas jalan sepanjang 16 km menuju Ancol Barat, melewati Jl Otista, Jl Otto Iskandardinata, Jl Jatinegara, Jl Matraman Raya, Jl Salemba Raya, Jl Kramat Raya, dan Jl Gunung Sahari.
Jalan raya yang membelah Jakarta dari timur ke barat tidak hanya ruas Cawang-Grogol. Ada juga ruas jalan dari Pulo Gadung ke Pejompongan sepanjang 12,8 km, antara lain, melewati Jl Pemuda, Jl Pramuka, dan Terminal Manggarai. Manggarai pernah direncanakan sebagai “hub” bagi semua moda transportasi umum, mencakup kereta api dan bus ke berbagai tujuan. Kereta ke Bandara Soekarno-Hatta, MRT, dan LRT mestinya terkoneksi dengan Terminal Manggarai.
Kita membayangkan indahnya Jakarta jika warga bisa berjalan leluasa menyusuri jalan raya di atas trotoar yang lebar dan bersih. Tidak ada gerobak pedagang dan sampah berserakan. Trotoar yang lebar dan bersih mengurangi kemacetan lalu lintas dan polusi udara karena orang akan memilih berjalan kaki untuk mencapai tujuan yang hanya berjarak satu-dua kilometer.
Jalur MRT tahap kedua, Bundaran HI ke Ancol Barat sepanjang 11,8 km akan menghadirkan trotoar yang lebar dan indah. Setelah lintasan selatan-utara, Lebak Bulus hingga Ancol sepanjang 16 km tuntas dibangun, para pejalan kaki dan semua mereka yang menyukai jogging akan mendapatkan akses jalan memuaskan.
Jakarta akan tetap menjadi kota terbesar di Indonesia meski mulai 17 Agustus 2024, ibu kota negara (IKN) akan beralih ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dengan nama Nusantara. Untuk pertama kali, Presiden RI Joko Widodo akan memimpin upacara HUT kemerdekaan RI ke-79 di IKN baru.
Kota Global
Menjawab pertanyaan pers, Heru Budi Hartono, pelaksana tugas gubernur DKI menegaskan, Jakarta akan tetap menyandang daerah khusus dan segera bertransformasi menjadi kota global. Jakarta akan dibangun menjadi kota yang berkontribusi dan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi global. "Setelah tidak menyandang status sebagai ibu kota negara, Jakarta akan bertransformasi menjadi kota global yang berperan sebagai simpul utama dalam jaringan ekonomi dunia,” katanya saat menjadi inspektur upacara peringatan HUT DKI Jakarta ke-496 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis (22/06/2023).
Ada lebih dari 100 indikator yang harus dipenuhi oleh sebuah kota untuk menjadi global city. Paling tidak, sebuah kota global memiliki infrastruktur dasar yang baik, mencakup infrastruktur air bersih, infrastruktur transportasi, infrastruktur energi, infrastruktur telekomunikasi, dan infrastruktur pengelolaan limbah. Selain itu, global city memiliki infrastruktur kesehatan, infrastruktur pendidikan, dan sistem keselamatan yang baik.
Setiap rumah mendapatkan layanan air bersih lewat pipa yang dikelola profesional, bukan sumur tanah. Jalan raya dilengkapi trotoar bagi pejalan kaki. Sistem transportasi umum tidak hanya berbasis jalan, melainkan juga berbasis rel. Sistem angkutan umum massal mampu mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.
Pemandangan kota tidak terganggu oleh kabel listrik dan kabel telekomunikasi. Pemerintah kota sudah menerapkan sistem kabel di bawah tanah. Pipa air dan semua kabel dimasukkan ke dalam gorong-gorong besar yang dibangun pemerintah. Sistem ini mampu menghindari aneka kabel yang ada di udara yang merusak pemandangan sekaligus menghindari penggalian trotoar yang berulang-ulang.
Meski tidak masuk 10 besar kota terpadat di dunia, Jakarta dengan 10,7 juta populasi tergolong kota dengan penduduk sangat padat, yakni 16.125 orang per km persegi. Bandingkan dengan Tokyo yang dihuni 13,4 juta dan kepadatan penduduk hanya 6.158 per km atau 38% dari kepadatan penduduk Jakarta. Penduduk Singapura 5,4 juta dengan tingkat kepadatan 8.592 per km.
Sejumlah sumber menyebutkan penduduk Tokyo sekitar 37 juta. Data ini tidak salah, tapi kurang lengkap. Angka 37 juta adalah penduduk The Greater Tokyo, sedangkan kota Tokyo dihuni 13,4 juta. Seperti Jakarta, ada sejumlah sumber yang menyebut Jakarta berpenduduk 33 juta karena mereka memasukkan Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek). Mereka menghitung penduduk The Great Jakarta, bukan DKI Jakarta saja. Fakta, pada siang hari, Jakarta harus menanggung beban 15-16 juta orang. Karena setiap hari ada sekitar 4-5 juta orang komuter yang berasal dari Debotabek.
Jakarta belum menjadi kota yang ramah, kota yang digandrungi oleh warga dunia. Jakarta tidak termasuk top ten kota di dunia yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman). Pada tahun 2019, sebelum pandemi Covid-19, Jakarta hanya dikunjungi 2,5 juta wisman. Pada tahun yang sama, Singapura diserbu 18,5 juta pelancong mancanegara, Bangkok didatangi wisman 21,4 juta, London 19,8 juta, dan Paris 38 juta.
Selain infrastruktur transportasi, berbagai infrastruktur dasar, dan trotoar yang lebar, sebuah kota global memiliki banyak lahan hijau dan area terbuka. Taman hijau adalah taman dan hutan kota, sumber oksigen dan tempat warga dan pelancong berolahraga. Sedang area terbuka adalah tempat warga berkumpul, berinteraksi, dan menikmati rekreasi. Di area ini ada aneka permainan, atraksi, suvenir, dan kuliner.
Jakarta adalah kota metropolitan yang minim taman hijau dan ruang terbuka. Jumlah mal dan shopping center lebih banyak dari taman kota dan ruang terbuka. Jika ingin berolah raga, pergilah ke mal. Di mal ada area luas untuk pejalan kaki untuk sekadar ingin berjalan hingga di atas 20.000 langkah sehari.
Menanggung Beban
Infrastruktur Jakarta, kata sejumlah ahli tata kota, hanya cukup untuk menopang kehidupan 30% atau 3,5 juta warga. Dengan jumlah penduduk yang sudah mencapai 10,7 juta, penataan kembali Jakarta menjadi sebuah keharusan. Berbagai jenis infrastruktur dasar harus dibangun.
Sesungguhnya beban yang ditanggung Jakarta adalah beban nasional. Jumlah penduduk yang meningkat tajam disebabkan juga oleh tekanan urbanisasi. Urbanisasi terjadi karena pengangguran dan kemiskinan di perdesaan. Warga memaksakan diri ke Ibu Kota untuk mengadu nasib meski tanpa keterampilan. Pada Maret 2023, jumlah penduduk miskin di Indonesia 25,9 juta atau 9,3%. Sedang penduduk miskin di DKI 477.830 atau 4,4% dari total penduduk.
Tingginya kepadatan penduduk dan minimnya infrastruktur transportasi menyebabkan lalu lintas Jakarta semrawut dan udara polutif. Pada Selasa (22/8/2023) pagi, demikian data IQAir, kualitas udara di Jakarta masuk kategori tidak sehat dengan Indeks 163 dan polutan utama PM 2.5. Konsentrasi polutan mencapai 15,6 kali nilai panduan kualitas udara tahunan World Health Organization (WHO).
Banyak warga Jakarta terserang penyakit pernafasan akibat polusi udara. Penyebab utama polusi udara adalah emisi. IQAir memperkirakan, kematian di Jakarta akibat polusi udara sedikitnya 8.300 dengan kerugian US$ 2,2 miliar. Seperti diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Senin (14/08/2023), sektor transportasi mengontribusi 44% penggunaan bahan bakar di Jakarta. Peringkat kedua adalah sektor energi 31%, selanjutnya industri manufaktur 10%, sektor perumahan 14%, dan sektor komersial satu persen.
Pada 17 Agustus 2023, demikian data Polri, jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta 23 juta. Dari jumlah itu, bus untuk sistem angkutan umum hanya 37.593 unit. Terbanyak adalah sepeda motor yang jumlahnya mencapai 18,3 juta disusul mobil pribadi 3,8 juta.
Salah satu indikator penting kota global adalah udara yang bersih. Dengan tingkat polusi yang tinggi, para pelancong perlu berpikir seribu kali untuk sekadar mampir di Jakarta. Hanya orang asing dengan kepentingan tertentu yang bersedia mengunjungi kota polutif seperti Jakarta.
Dilewati 13 sungai, Jakarta mestinya menjadi kota yang indah dan nyaman bagi warga dan pelancong. Jakarta juga memiliki sekitar 40-an danau dan sejumlah situ dan waduk. Jika ditata dengan baik, Jakarta tidak saja asri, tapi terhindari dari banjir di musim penghujan dan tidak kesulitan air bersih di musim kemarau.
| Jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta 23 juta. Dari jumlah itu, bus untuk sistem angkutan umum hanya 37.593 unit. (Foto: Primus Dorimulu) |
Tetap Terbesar
Meski presiden RI periode 2024-2029 cukup menentukan, pemindahan ibu kota negara sudah menjadi keputusan penyelenggara negara. Undang-Undang No 3 Tahun 2022 tentang IKN telah disetujui DPR RI dan disahkan Presiden RI Joko Widodo, 15 Februari 2022. Pemerintah sudah menggelontorkan dana APBN untuk IKN dan pembangunan sudah dimulai.
Pada 17 Agustus 2024, presiden, wapres, dan para menteri sudah berkantor di Nusantara. Selain Civic Center, IKN dilengkapi dengan rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, dan berbagai tempat rekreasi. Semua pegawai inti ikut berkantor di IKN baru.
Walau tak lagi menjadi IKN, Jakarta tetap menjadi kota terbesar di Indonesia dan menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat. Jakarta menjadi pusat kegiatan ekonomi, pusat keuangan, pendidikan, kebudayaan, pelayanan kesehatan, wisata, dan hiburan. Jakarta adalah kota bersejarah bagi lahirnya republik dan peradaban baru.
Selain lokasi wisata modern, Jakarta adalah tempat bersejarah, mulai dari era kerajaan, Zaman Hindia Belanda, hingga kemerdekaan. Banyak gedung perkantoran yang dibangun sejak Zaman Hindia Belanda. Banyak jejak langkah bagi lahirnya sebuah Indonesia merdeka dan Indonesia modern yang tengah berusaha menjadi global city.
Hingga tulisan ini dibuat, Kota Tua di Jakarta belum ditata kembali, meski program revitalisasi Kota Tua sudah digaungkan beberapa dekade lalu. Kota Tua akan menjadi salah satu destinasi wisata budaya menarik jika ada sentuhan perbaikan. Paling tidak, ada trotoar lebar-bersih dan ruang terbuka tempat orang berkumpul, berinteraksi, dan bertransaksi.
Turki, misalnya, menata Kota Tua di Istanbul menjadi destinasi wisata menarik. Meski ibu kota Turki sudah lama dipindahkan ke Ankara, kegiatan bisnis, wisata, dan hiburan tetap di Istanbul, kota indah di tepi Selat Bosporus.
Dengan penataan yang baik, Jakarta akan semakin menarik menjadi global city dan syarat utama untuk menjadikan Jakarta global city adalah “membangun Jakarta menjadi kota yang ramah”. Jakarta harus bisa menjadi kota yang ramah kepada penduduk dunia. Ramah dari sisi infrastruktur, ramah dari sisi ekonomi, dan ramah dari sisi sosial. Kota gobal adalah kota yang toleran terhadap perbedaan sambil tetap menjaga keunikan budaya dan nilai luhur.

