Kabar Baik dari BMKG: Hujan Bakal Segera Guyur Indonesia
JAKARTA, Investortrust.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca panas yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung sampai akhir Oktober. Dengan demikian, mulai November, hujan diprediksi mulai mengguyur sejumlah daerah di Tanah Air.
“Kemarau masih akan berlangsung hingga kurang lebih sampai akhir Oktober. Wilayah Indonesia di bagian selatan Khatulistiwa pada November berangsung-angsur hujan. Sedangkan bagian utara Khatulistiwa, pada September-Oktober mulai hujan di beberapa wilayah. Jadi, yang kering itu Khatulistiwa ke selatan,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam Forum Merdeka Barat 9 via daring di Jakarta, Senin (16/10/2023).
Dwikorita memaparkan, potensi El Nino di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang memicu kekeringan dan suhu panas di sebagian besar wilayah Indonesiaterjadimulai Juli 2023dan diprediksi berakhir pada Februari-Maret 2024.
“Level El Nino ini setara dengan anomali iklim pada 2019 dampaknya sama, moderat. Banyak terjadi kebakaran lahan dan hutan, serta kekeringan,” ujar Dwikorita dalam Forum Merdeka Barat 9 via daring di Jakarta, Senin, (16/10/2023).
Menurut Dwikorita, kekeringan saat ini dapat diantisipasi lebih baik. “Kami sudah mendetaksi sejakakhir tahun lalu dan awal tahun ini sehinggapotensi dampaknya sudah dimitigasi sejak dini,” tutur dia.
Dwikorita mencontohkan, kementerian/lembaga (K/L) terkait seperti Kementerian PUPR sejak November lalu telah menyiapkan waduk-waduk untuk pengeboran sumur air untuk berjaga-jaga jika kekurangan air di berbagai wilayah.
Melanda 193 Negara
Di sisi lain, kata dia, BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerapkan teknologi modifikasi cuaca untuk mengarahkan awan-awan hujan agar turun di lokasi-lokasi yang mengalami kekeringan.
“Jadi, upaya menampung air tanah dari hujan sudah disiapkan agar muka air tanah tidak terlalu dalam dan lahan-lahan gambut tidak terlalu kering. Awan-awan hujan disiapkan untuk mengisi waduk dan embung-embung,” papar dia.
Dwikorita menambahkan, periode kekeringan saat ini lebih panjang dan skalanya lebih kuat dibanding 2020, 2021, dan 2022. “Kurang lebih sama seperti 2019, tapi faktanya saat ini lebih kering dibading tiga tahun terakhir,” ucap dia.
Berdasarkan data global yang dihimpun BMKG, menurut dia, sebanyak 193 negara diproyeksikan mengalami kekuranganair. “Kekeringan ini tidak pandang bulu, melanda negara mana pun, baik negara maju maupun negara berkembang dan negara miskin,” tegas dia.(CR-5)

