The Telkom Hub Capai Net Zero Emisi, Telkom Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) memperkuat langkah dekarbonisasi sebagai bagian dari komitmen menuju operasional rendah karbon dan pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2060. Langkah diwujudkan dengan efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi, hingga penggunaan instrumen berbasis pasar seperti Renewable Energy Certificate (REC) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK).
The Telkom Hub menjadi salah satu kawasan yang telah mencapai net zero untuk emisi Cakupan 1 dan 2. Pencapaian tersebut diperkuat dengan penyerahan REC dan SPE GRK dari PT Energy Management Indonesia (Persero) (EMI), entitas yang berfokus pada konsultansi energi baru terbarukan, efisiensi energi, dan layanan dekarbonisasi.
Penyerahan REC dan SPE GRK menjadi salah satu pengakuan atas upaya Telkom dalam mengelola emisi Cakupan 1 dan 2 sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi yang lebih bersih dalam kegiatan operasional di wilayah The Telkom Hub. Pencapaian tersebut juga memperkuat implementasi Rencana Transisi Iklim TelkomGroup yang diluncurkan pada 2025 sebagai arah strategis menuju operasional rendah karbon.
Baca Juga
Indo Premier Siapkan IPO Saham 6 Emiten Tahun 2027, Bocorkan Aset Segini
VP Sustainability Telkom Gunawan Wasisto Ciptaning Andri mengatakan pencapaian The Telkom Hub sebagai kawasan net zero untuk emisi Cakupan 1 dan 2 menjadi salah satu milestone dalam upaya dekarbonisasi Telkom. “Telkom terus mendukung upaya pencapaian net zero emission melalui implementasi Rencana Transisi Iklim yang dilakukan secara bertahap dan terukur. Pencapaian The Telkom Hub sebagai kawasan net zero untuk emisi Cakupan 1 dan 2 menjadi salah satu milestone penting yang menunjukkan bahwa upaya dekarbonisasi dapat diterapkan secara nyata di tingkat operasional,” kata Gunawan.
Melalui Rencana Transisi Iklim, TelkomGroup menetapkan jalur penurunan emisi Cakupan 1 dan Cakupan 2 secara bertahap, yakni 20% pada 2030, 40% pada 2040, dan 70% pada 2050, sebelum mencapai 100% pada 2060. Untuk mewujudkan target tersebut, TelkomGroup menetapkan enam key decarbonization levers, yang antara lain mencakup efisiensi energi, elektrifikasi, pemanfaatan energi terbarukan, serta instrumen berbasis pasar.
Strategi tersebut disusun dengan mempertimbangkan profil emisi TelkomGroup yang didominasi penggunaan listrik, perkembangan agenda transisi energi, serta kebutuhan menjaga keandalan layanan.
Manfaatkan Energi Surya
Di The Telkom Hub, transisi energi telah dilakukan melalui sejumlah inisiatif pemanfaatan energi terbarukan. Berdasarkan Sustainability Report Telkom 2025, sebanyak 77 unit Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) telah dioperasikan di kawasan The Telkom Hub. Pemanfaatan energi surya tersebut diproyeksikan menghemat konsumsi listrik gedung Telkom Landmark Tower sebesar 20.235,6 kWh per tahun.
Selain pemanfaatan energi terbarukan secara langsung, Telkom juga menggunakan REC sebagai instrumen berbasis pasar untuk mendukung pengelolaan emisi Cakupan 2. Sebanyak 45.407 REC dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) telah dibeli Telkom dan operating company PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC). Penggunaan REC tersebut berpotensi menurunkan emisi sebesar 42.425,7 ton CO₂e.
Baca Juga
Danantara dan Telkom Petakan Kebutuhan Data Center AI hingga 1 GW
REC juga menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan TelkomGroup dalam pencapaian target NZE, khususnya untuk pengurangan emisi GRK Cakupan 2 market-based. Pemanfaatan REC memungkinkan perusahaan mendukung penggunaan energi terbarukan sekaligus memperkuat transparansi dan keterlacakan atribut energi terbarukan dalam pengelolaan emisi listrik.
Sementara itu, Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower (TLT) Suratman mengatakan, sebagai pengelola The Telkom Hub, pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi. “Sebagai pengelola The Telkom Hub, kami sangat bangga atas diperolehnya sertifikat REC dan SPE GRK. Ini merupakan suatu komitmen untuk bisa terus meningkatkan efisiensi di setiap waktu,” ujar Suratman.
Saat ini, TLT juga menerapkan modul teknologi Building Management System. Sejumlah asesmen energi telah dilakukan, termasuk pada aspek teknikal dan perangkat serta optimalisasi penggunaan energi. Sementara itu, Direktur Utama EMI Henri Firdaus mengatakan bahwa efisiensi dan optimalisasi energi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan energi. “Tujuan efisiensi energi bukan semata-mata untuk mengurangi penggunaan energi, tetapi bagaimana mengoptimalkan energi yang tersedia agar dapat digunakan secara lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Henri.
Baca Juga
TelkomGroup Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan lewat Zero Plastic Movement
Henri menambahkan, EMI berharap dapat terus menjadi sustainable partner bagi Telkom, termasuk dalam mendukung pengelolaan dan offset emisi dari berbagai kegiatan dengan cakupan Scope 1 hingga Scope 3.
Pengelolaan emisi, lanjutnya, perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dari gas buang, tetapi juga pengelolaan limbah sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi. Pencapaian The Telkom Hub sebagai kawasan net zero untuk emisi Cakupan 1 dan 2 menjadi salah satu milestone Telkom dalam mewujudkan operasional yang lebih rendah karbon sekaligus menerapkan Rencana Transisi Iklim secara nyata.
Telkom akan terus mengintegrasikan prinsip dekarbonisasi dalam operasional perusahaan melalui implementasi Rencana Transisi Iklim dan berbagai inisiatif dekarbonisasi yang terukur untuk mencapai target NZE 2060.
