Kisah Pandawa Patra, Kelompok Disabilitas yang Kembangkan 'Integrated Farming'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kelompok Pandawa Patra di Boyolali, Jawa Tengah, terus mendorong kemandirian penyandang disabilitas melalui integrated farming yang menggabungkan pertanian dan peternakan. Pendampingan yang dilakukan sejak akhir 2021 membuka akses terhadap pelatihan hingga pemanfaatan energi terbarukan bagi anggota kelompok.
Program tersebut berkembang dari kelompok yang awalnya hanya beranggotakan tujuh penyandang disabilitas pada 2017 menjadi 29 anggota. Saat ini, kelompok itu terdiri dari 24 penyandang disabilitas beserta keluarganya dan lima keluarga rentan.
Local hero Pandawa Patra Haryono mengatakan keterbatasan fasilitas dan akses pelatihan menjadi tantangan utama pada awal pembentukan kelompok. Kegiatan belajar saat itu masih berlangsung di rumah dengan skala terbatas karena belum memiliki tempat berkumpul yang memadai.
“Kami cukup kesulitan memberikan edukasi kepada teman-teman disabilitas karena keterbatasan fasilitas. Kegiatan belajar masih dilakukan di rumah dengan skala yang sangat kecil. Tempat berkumpul pun sangat terbatas,” kata Haryono dikutip Senin (24/8/2026).
Baca Juga
Mengubah Kemarau Menjadi Harapan, Pertamina Dampingi Petani Boyolali Bangkit
Perubahan mulai terjadi pada akhir 2021 ketika PT Pertamina memberikan pendampingan kepada Pandawa Patra. Sebelum program berjalan, Pertamina bersama anggota kelompok terlebih dahulu memetakan kebutuhan dan potensi yang dimiliki. Dari proses tersebut, integrated farming dipilih sebagai pendekatan pemberdayaan. Konsep itu menghubungkan kegiatan pertanian dan peternakan sebagai sarana pembelajaran sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Menurut Haryono, pendekatan tersebut berbeda dari pola bantuan yang hanya berfokus pada pemberian fasilitas. Pendampingan dilakukan dengan memperkuat kemampuan anggota agar mereka dapat belajar dan mengembangkan kegiatan sesuai dengan kondisi kelompok.
“Pertamina tidak langsung memberikan bantuan, tetapi lebih dulu berdiskusi, memetakan kebutuhan kami, lalu menyusun program yang sesuai dengan kondisi anggota,” jelasnya.
Dari Belajar hingga Berani Berkarya
Haryono mengatakan kelompok tersebut menempatkan proses belajar sebagai bagian penting dalam membangun kemandirian anggotanya. Untuk itu, Pandawa Patra tidak diposisikan semata-mata sebagai tempat memperoleh penghasilan.
“Di sini kami selalu mengatakan kepada teman-teman bahwa Pandawa Patra bukan tempat mencari uang, tetapi tempat belajar. Kalau ingin gagal, silakan gagal di sini. Ketika kembali ke rumah, mereka harus sudah siap dan percaya diri untuk berhasil,” tegasnya.
Perkembangan kelompok juga dirasakan Martuti, 42, salah seorang anggota Pandawa Patra. Ia bergabung bersama anaknya, Bagas Suprianto, 21, yang merupakan penyandang disabilitas.
Martuti mengaku bersyukur dapat bergabung dengan kelompok tersebut karena mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai kegiatan produktif. Ia belajar mengenai cara menanam, beternak, serta berbagai keterampilan lain yang dikembangkan melalui kegiatan Pandawa Patra.
Kegiatan tersebut kemudian diperluas dengan pemanfaatan energi dari limbah peternakan. Pertamina menghadirkan inovasi berupa pemanfaatan biogas yang berasal dari kotoran sapi untuk memenuhi kebutuhan listrik di area integrated farming. Pemanfaatan energi terbarukan tersebut menjadi bagian dari konsep Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina. Program ini diarahkan untuk mendorong kemandirian masyarakat sekaligus mengembangkan kegiatan yang lebih inklusif di berbagai daerah.
Salah satu implementasi DEB dilakukan melalui PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Boyolali kepada Kelompok Pandawa Patra di Desa Keposong, Kecamatan Tamansari, Boyolali, Jawa Tengah.
Melalui pendekatan tersebut, kegiatan pemberdayaan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan anggota. Pengelolaan pertanian dan peternakan juga dikembangkan dengan memperhatikan pemanfaatan sumber energi yang tersedia di lingkungan kelompok.
Baca Juga
Pertamina Salurkan 9.600 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Gempa Flores
Limbah kotoran sapi yang sebelumnya menjadi hasil samping dari kegiatan peternakan dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas. Energi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik di fasilitas integrated farming.
Model tersebut menghubungkan kegiatan peternakan, pertanian, dan energi dalam satu ekosistem. Anggota kelompok dapat belajar mengelola kegiatan produktif sekaligus mengenal pemanfaatan sumber energi terbarukan dalam aktivitas sehari-hari.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan DEB Pandawa Patra menunjukkan bahwa kemandirian dapat dikembangkan melalui kemauan untuk belajar dan memanfaatkan potensi yang tersedia. “Dengan keterbatasan yang mereka miliki, anggota DEB Pandawa Patra menjadi tempat untuk menumbuhkan kemandirian anggota kelompok,” kata Baron.

